AS & Impian “Greater IsrΔhel”: Dari Sungai Nil hingga Eufrat — Isyarat Geopolitik Baru Timur Tengah
AS & Impian “Greater IsrΔhel”: Dari Sungai Nil hingga Eufrat — Isyarat Geopolitik Baru Timur Tengah
Pernyataan kontroversi Dubes AS Mike Huckabee tentang konsep Greater IsrΔhell kembali mencetuskan perdebatan global, membuka kembali diskusi lama tentang peta kekuasaan dari Mesir hingga Iraq serta masa depan konflik di Timur Tengah.
- Sinopsis: Belum selesai kacaunya Board of Peace, AS Kini Mengatakan Setuju Pada Impian "Greater IsrΔhell "?!
- Pernyataan Duta besar Amerika Syarikat Mike Huckabee tentang gagasan “Greater IsrΔhell” kembali mencetuskan perdebatan panas di dunia Arab dan media sosial. Dalam wawancara bersama Tucker Carlson, ia menyinggung konsep wilayah IsrΔhell yang disebut membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat. Ucapan itu segera membuka kembali diskusi lama tentang ambisi geopolitik, sejarah, dan masa depan peta kekuasaan di Timur Tengah.
CAKRAWALA NEWS l Sedang menjadi trending di media sosial, terutama di perbincangan Bangsa Arab, tentang kata-kata Duta besar AS untuk penjajah.

Statement kontroversi itu ada baru-baru ini dalam wawancara dengan Tucker Carlson di The Tucker Carlson Show,
Huckabee ditanya soal "hak isr@Ιl" atas tanah dalam akidah yahoodi yang meliputi wilayah dari Sungai Nil (Mesir) sampai Sungai Efrat (Iraq/Syria) yang artinya akan mencaplok (which means it will annex) Negara Jordan, Syria, Lebanon, Iraq, sebagian wilayah Turki, Mesir, bahkan menjangkau Khaibar dan Madinah!
“It would be fine if they took it all.” ("Tidak masalah jika mereka mengambil semuanya.")
Bayangkan, yang mengatakan begitu adalah pegawai rasmi Negara Imperialis AS. Setelah berita ini viral, Huckabee buru-buru mengklarifikasi bahwa ia hanya berlebihan saja. Namun kita semua tahu bahwa seringkali mereka "keceplosan" (tergelincir lidah / slip of the tongue) dalam menyampaikan idea jahat mereka ke publik.
"...Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat..." (Al-Qur'an. Surah- Ali Imran 118).
Seorang analis politik dan penulis bernama Dr Nashir Ad Duwaila mengomentari:
"Aku telah memperingatkan tentang rencana besar isr@Ιl sejak hampir setahun yang lalu, namun banyak tidak mempercayaiku. Hari ini, seluruh negara dan rakyat di kawasan itu terkejut oleh pernyataan duta besar Amerika, Mike Huckabee, yang secara terang-terangan dan terbuka menyerukan agar isr@Ιl menduduki Mesir, Syria, Iraq, Kuwait, Arab Saudi, dan Qatar."
Semakin ke sini, AS dan penjajah Z10N1$ IsrΔhell semakin terang-terangan mengatakan apa yang jadi rencana mereka.
Kita jadi ingat dulu di 2024, ada gambar yang beredar luas di medsos menunjukkan seorang tentara penjajah (IDF) memakai patch atau emblem di lengan uniform seragamnya berupa peta "Greater IsrΔhell" — yang meliputi wilayah dari Sungai Nil (Mesir) sampai Sungai Efrat (Iraq/Syria), plus Lebanon, Jordan, dan sebagian Saudi Arabia.
Ini sering dikaitkan dengan konsep "Eretz Yisrael Hashlema" atau tanah yang dijanjikan. Laa haula wa laa quwwata illaa billah.
Bagaimana sikap para pejuang?
Mereka tidak terkejut lagi. Jika Anda perhatikan apa yang dikatakan oleh sang Abu Ub@id4h sejak awal Thufan Al Aqsha, pejuang faham bahwa jika Umat diam saja, pada akhirnya penjajah pasti akan mengguncang wilayah Arab lain.
Sejak awal, Thufan Al Aqsha digerakkan untuk mematahkan impian penjajah, mementahkan rencana Trump dan Biden untuk menormalisasi hubungan Negeri-Negeri Muslim dengan penjajah Z10N1$ IsrΔhell Laknatullah 'Alaihim .
InsyaAllah, apa yang penjajah impikan tidak akan terjadi. Jika Anda dan Kita terus bersuara dan menolak lupa.
Salah satu senjata terbesar mereka adalah lupanya umat, maka kini ingatlah!.
Rawat ingatan itu, dan ajarkan pada Umat untuk memahami bahwa Al-Aqsha adalah masalah amat penting bagi setiap Muslim. Thufan terus bergema, sebagaimana kata Abu Ub@id4h, "Thufan Al-Aqsha telah memaku paku terakhir di peti mati penjajah dan mengubah berbagai peta keseimbangan.”
Board of Peace, kata-kata Huckabee, penjajah yang makin liar menodai Al-Aqsha: semua itu justru menjadi tanda bahwa mereka tak sekuat dulu.
Ya, mereka masih kuat, tapi mereka pun tahu bahwa tatanan dunia yang mereka buat hampir selesai umurnya.
Berjalanlah melihat dunia, dan Anda akan menyadari bahwa ia sedang berubah. Aktivis dakwah internasional Muhammad Elhamy menggambarkan keadaan kita: Umat ini berada di penghujung zaman lemahnya!
Selepas yang lemah, akan muncul Umat yang kuat!
Penutup Reflektif
Sejarah sering menunjukkan bahwa gagasan besar tentang kekuasaan tidak selalu lahir dari kekuatan, tetapi dari keyakinan bahwa dunia akan diam. Namun sejarah juga mengajarkan hal lain: tidak ada peta politik yang abadi.
Apa yang hari ini terlihat sebagai rencana besar bisa berubah oleh waktu, oleh perlawanan, atau oleh perubahan tatanan dunia yang perlahan bergeser. Dalam setiap zaman, yang menentukan masa depan bukan hanya mereka yang berkuasa, tetapi juga mereka yang memilih untuk tidak melupakan. [HSZ]
π Catatan Editor:
Artikel ini diadaptasi dan dipublikasikan dengan izin dari gensaberilmu.com.
“Learn History, Repeat Victory”
Editor: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
Follow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: Geopolitics, Middle East, Palestine, Israel, US Foreign Policy, Greater Israel, Al-Aqsha, Global Politics, US Iran War, New World Order, Middle East Conflict, Kebangkitan Dunia Islam, Politik Global 2026. Syria Bangkit, Turki Modern,









No comments
Post a Comment