Baal, Berhala Kuno dan Jejaknya di Epstein Files: Dari Kesesatan Bani Israil hingga Kejahatan Elit Global
Baal, Berhala Kuno dan Jejaknya di Epstein Files: Dari Kesesatan Bani Israil hingga Kejahatan Elit Global
Baal, Berhala Kuno dan Jejaknya di Epstein Files
Nama yang Viral, Sejarah yang Terlupakan
- Nama “Baal” mendadak viral setelah disebut sebagai nama akaun Bank dalam Epstein files yang menghebohkan dunia. Banyak yang menganggapnya sekadar simbol atau kebetulan administratif/pentadbiran.
- Namun, dalam sejarah agama dan tafsir klasik, Baal bukanlah nama kosong. Ia adalah simbol kesesatan lama, berhala pagan yang pernah disembah sebagian Bani Israil ketika mereka berpaling dari tauhid.
- Artikel ini tidak akan larut dalam sensasi, melainkan mengajak pembaca menelusuri Baal dari sudut pandang Al-Qur’an, sejarah, dan tafsir, agar kita memahami mengapa nama kuno ini kembali muncul di tengah kejahatan moden.
Sinopsis: Artikel ini membahas asal-usul Baal sebagai konsep ketuhanan pagan bangsa Kan'aan dan Fenisia, serta bagaimana sebagian Bani Israil terjerumus dalam penyembahannya setelah diselamatkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala melalui Nabi Musa ‘Alaihis Salam.
Dengan merujuk pada Al-Qur’an, kisah Nabi Ilyas ‘Alaihis Salam, dan penjelasan ulama seperti Ibnu Katsir, artikel ini menunjukkan bahwa penyembahan Baal bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi pola kesesatan yang berulang.
Kemunculan nama Baal dalam Epstein files dianalisis sebagai simbol pemberontakan terhadap tauhid dan agama, bukan sekadar kebetulan teknikal.
Pada akhirnya, tulisan ini menegaskan bahwa Islam hadir untuk meruntuhkan seluruh bentuk kejahiliyahan, baik yang muncul terang-terangan di masa lalu mahupun yang bersembunyi di balik elit global hari ini.
BACA JUGA:
File Epstein: Skandal Elit Global dan Krisis Moral Peradaban Barat
Kami akan coba mengulasnya berdasar tafsir dan sejarah sehingga pembahasan kita menjadi proporsional.
Mari kita kembali pada ribuan tahun lalu saat Nabi Musa 'Alaihis Salam dan Bani Israil telah Allah Subhanahu Wa Ta'la selamatkan dari kejaran Fir'aun.
Tahukah Anda apa permintaan pertama mereka setelah diselamatkan dan melihat sendiri lautan terbelah?
Apakah syukur pada Allah?
Apakah iman yang bertambah? Tidak!.
Inilah yang mereka katakan pada Nabi Musa 'Alaihis Salam,
"Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani israil) berkata, Wahai Musa! Buatlah untuk kami satu tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)."
(Al-Qur'an,Surah, Al A'raf 138)
Sejak masa Nabi Musa 'Alaihis Salam, segolongan Bani Israil –yang kemudian akan lebih dikenal sebagai Y4ahudi kerana kesesatannya– telah memiliki kecenderungan pada menyembah berhala.
Ada masanya mereka tunduk pada iman, namun masa-masa lainnya mereka jatuh pada kemusyrikan. Bahkan, sejatinya di masa Nabi Sulaiman 'Alaihis Salam, segolongan Bani Israil mulai terjatuh pada sihir dan mengikuti berhala yang disembah bangsa lain.
Setelah wafatnya Nabi Sulaiman 'Alaihis Salam, makin teranglah kesesatan mereka.
Salah satu berhala yang disembah Bani Israil yang sesat itu berama Baal.
Si "Baal" bukanlah satu sosok atau nama diri tunggal, melainkan sebuah konsep ketuhanan pagan bangsa Kan'aan dan Fenisia. Secara bahasa Semitik, kata ba‘al berarti “tuan”, “pemilik”, atau “penguasa”, sehingga awalnya ia hanyalah sebuah julukan (nama panggilan).
Namun dalam praktik kesesatan, julukan ini digambarkan menjadi sesembahan yang dianggap menguasai hujan, badai, kesuburan, dan keberlangsungan hidup penyembah berhala. Dan inilah yang disembah Bani Israil.
Kerana kesesatan mereka ini, Allah Ta'ala mengutus seorang Nabi bernama Ilyas 'Alaihis Salam.
Dalam Qashashul Anbiya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nama lengkap beliau adalah adalah Ilyas bin Yasin, keturunan Harun, saudara Musa ‘Alaihimassalam. Dalam kitab-kitab orang Israil, beliau dikenal dengan nama (Ilya/Elijah). Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengisahkan perjuangan Nabi Ilyas 'Alaihis Salam memerangi kesesatan Bani Israil yang menyembah Baal ini.
Dalam Al-Qur'an, Surah, Ash Shaffat, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabadikan perjuangan Nabi Ilyas 'Alaihis Salam,
"Apakah kamu menyeru (menyembah) Baal dan meninggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah, Tuhanmu dan Tuhan nenek-moyangmu yang terdahulu?".
Namun, jawaban Bani Israil ini malah sombong dan menolak kebenaran, maka Allah Azza Wa Jalla menggambarkan, "Maka mereka mendustakannya, kerana itu mereka pasti akan dihadirkan (untuk disiksa)."
Dalam riwayat lain, begini kisah lebih detailnya...
Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengutus Nabi Ilyas 'Alaihis Salam kepada Bani Israil setelah Nabi Hizqil ‘Alaihis Salam. Pada waktu itu, mereka menyembah sebuah berhala yang disebut "Baal." Maka Nabi Ilyas 'Alaihis Salam menyeru mereka untuk kembali kepada Allah dan melarang mereka menyembah selain-Nya.
Raja mereka sempat beriman kepadanya, kemudian murtad kembali. Kaum itu pun tetap berada dalam kesesatan mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang benar-benar beriman kepadanya.
Benar benar bebaal!.π
Penyembahan pada Baal di tengah bangsa y4hudi ternyata sampai kini tak benar-benar hilang.
Bagi orang-orang yang membenci agama, mereka menggunakan "Baal" sebagai bentuk pemberontakan.
Jika kita melihat files Epstein, sangat mungkin bahwa kejahatan yang dilakukan tokoh-tokoh besar di files itu terkait dengan sebuah kelompok yang sangat memusuhi tauhid, membenci agama. Dan, bentuk pemberontakan mereka adalah dengan mengembalikan lagi istilah-istilah berhala dalam protokol mereka.
Kita tidak terlalu peduli bagaimana detail kejahatan Epstein files, betapa memuakkan yang mereka lakukan. Sedikit tahu saja sudah membuat mual.
Allah Ta'ala pun hanya menyebut "Baal" sekali dalam Al-Qur'an, di antara hikmahnya adalah agar kita tidak terlalu menyibukkan diri dengan bagaimana ritual berhala sesat itu.
Sebab fokus kita adalah memahami bahwa Islam hadir meruntuhkan segala kejahiliyahan, kemungkaran dan kesesatan berfikir.
Seiring dengan pendedahan Epstein files, pendakwah terkenal dari Arab Saudi, Syeikh Abdul Aziz al-Tarifi, dilihat sebagai antara tokoh terawal yang menyedari kerosakan moral serius di Barat dan memberi amaran mengenainya secara terbuka.
Dalam salah satu ceramah beliau pada masa lalu, Syeikh al-Tarifi menyatakan:
- “Perang kita dengan mereka hari ini bukan sekadar perang Islam, tetapi juga perang kemanusiaan, perang mempertahankan nilai manusia. Ia adalah konflik naluri. Kita perlu mengembalikan mereka daripada kehidupan kebinatangan kepada fitrah sebagai manusia.”
Kenyataan ini kembali mendapat perhatian apabila isu-isu berkaitan jenayah elit, penyalahgunaan kuasa, dan keruntuhan moral di Barat terus terbongkar satu demi satu.
Tentang apakah Baal itu memang dijadikan sesembahan elit-elit, dahulu Syaikh Al Muqbil –pakar ilmu Kepalestinaan– pernah menyampaikan bahwa sekte-sekte (sects / mazhab) sesat Y44hudi di Baitul Maqdis memang ada yang menyembah berhala pagan. Jumlah mereka ada banyak, dan mereka bahkan menggunakan anak-anak Baitul Maqdis yang diculik untuk melaksanakan ritualnya.
Dan ini semakin memastikan, bahwa yang dihadapi rakyat GhΔzzΔh PΔlΓ«sαΉΔ«ne, kejahatannya ada di level berbeza! [HSZ]
π Catatan Editor: Artikel ini di adaptasi dan dengan izin di publish untuk website ini - dari gensaberilmu.com•Media Berteraskan Islam untuk Dakwah Sejarah Islamiyah dan Ke-PΔlΓ«sαΉΔ«nean• "Learn History, Repeat Victory"•
Editor: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
Follow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: International, IslamicWorld, Featured, Islamic History, Files Epstein, Jeffrey Epstein,















No comments
Post a Comment