Akhir Sandiwara Damai: Penjajahan Tanpa Topeng di Tebing Barat
Tebing Barat: Di Balik Tirai Sandiwara
Penjajahan Terselubung yang Terbuka: Realiti di Balik Ilusi Damai
Penindasan Nyata, Tebing Barat di Bawah Cengkeraman Tanpa Topeng
- Setelah bertahun-tahun menutupi kekerasan dengan retorik perdamaian, Tebing Barat kini menampakkan wajah aslinya: pendudukan tanpa topeng. Jalanan, tanah, dan kehidupan warga menjadi saksi nyata dari sistem yang mengekang kebebasan, sementara janji diplomasi hanya menjadi tirai tipis menutupi kenyataan pahit.
- Janji damai hanyalah sandiwara. Di Tebing Barat, setiap langkah warga terselubung oleh kekuasaan yang menjarah tanah dan mimpi mereka. Jalanan yang sunyi menjadi saksi bisu dari penjajahan yang tidak lagi menyembunyikan wajahnya, dan setiap harapan dipaksa berlutut di hadapan kenyataan yang kejam. Kekuasaan menutup mata dunia, tapi warga tetap menatap luka yang tidak bisa lagi dibungkus retorik kosong.
CAKRAWALA NEWS l "Penjajah itu secara terang-terangan telah mengakhiri perjanjian Oslo!"
itulah kalimat yang ditulis oleh putra mujahid legend Syaikh Abdullah Azzam, Dr Abdullah.
Anda tahu apa artinya? Bagaimana konteksnya?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Beberapa hari yang lalu, penjajah apartheid Z10N1$ Isrāhell Laknatullah 'Alaihim mengeluarkan keputusan-keputusan yang pada praktiknya akan mencaplok (merampas / merompak / menceroboh) Tebing Barat (الضفة الغربية), bagian penting Baitul Maqdis tempat Masjid Al-Aqsha berada.
Musuh memberi serdadu dan pemukim ilegal (pendatang haram) akses lebih luas untuk merampas tanah, mengusir warga Muslimin dan Kristiani yang melawan penjajahan, dan menghancurkan rumah serta mata pencaharian mereka.
Sebelumnya, penjajah malu-malu. Mereka tidak terang-terangan menjajah Tebing Barat (West Bank) kerana terbatasi oleh perjanjian Oslo tahun 1993 dan 1995. Perjanjian itu berisi:
- Pengakuan timbal balik: PLO (organisasi buatan Yaser Arafat) mengakui penjajah, penjajah mengakui PLO sebagai wakil rakyat Pālësṭīne.
- Pembentukan Authority Pālësṭīne (PA): Badan semi (separa) pemerintahan Pālësṭīne untuk mengelola wilayah tertentu.
- Pembagian wilayah Tebing Barat:
Area A: dikelola penuh Pālësṭīne
Area B: warga sivil (orang awam) Pālësṭīne, keamanan pihak penjajah.
Area C: dikuasai penuh penjajah.
Janji solusi dua negara
Pālësṭīne merdeka bertahap, melalui negosiasi.
Tetapi sekarang, mereka robek perjanjian Oslo itu!
Dengan semakin terang-terangan penjajahan di Tebing Barat, dan tidak dihiraukannya point perjanjian Oslo, maka inilah kemungkinan yang terjadi di hari-hari ke depan:
Pertama: Penjajah sudah menghapus kewajiban posisi formalnya sebagai “mitra / rakan proses damai." (“peace process partners”)
Tidak lagi berpura-pura mendukung solusi dua negara
Kedua: Penjarahan dan pendudukan/penjajahan menjadi terbuka dan t3lanjang, tanpa topeng perundingan.
Berita tentang terbukanya penjajahan langsung di Tebing Barat ini ditandai dengan keputusan penjajah yang terbaru:
- Akses tentara penjajah z10n1s Isrāhell Laknatullah 'Alaihim diperluas ke wilayah A dan B, termasuk pembongkaran rumah dengan dalih izin, lingkungan, dan situs sejarah (tapak bersejarah).
- Dampaknya sangat besar kerana lebih dari 90% warga Pālësṭīne tinggal di wilayah A dan B.
- Aturan baru mempermudah perampasan tanah, terutama milik warga Pālësṭīne yang tinggal di luar Tebing Barat atau tidak punya identiti.
Kewenangan pemerintah Wilayah Pālësṭīne dicabut, khususnya di Hebron Selatan.
Dan Masjid Ibrahimi diambil alih sepenuhnya!😡
Seorang aktivis dan penganalisis dunia Islam bernama Syaikh Nashir Ad Duwailah menulis,
"Tampaknya penjajah telah menembakkan 'p3luru terakhir' ke Perjanjian Oslo, mengakhiri proses perdamaian, dan memperluas kendalinya atas seluruh wilayah Tebing Barat."
Semakin jelas, sepertinya penjajah Z10N$ Isrāhell Laknatullah 'Alaihim tahu bahwa waktu semakin tidak berpihak padanya. Maka mereka semakin buas dan liar langkah-langkahnya.
Maka, di tengah berita menyesakkan ini, aku mencari apa yang pejuang Ghāzzāh katakan. Dalam release resmi pernyataannya, pejuang Ghāzzāh menyeru,
"Kami menuntut negara-negara Arab dan Islam untuk memikul tanggung jawab sejarah mereka dalam menghadapi penjajahan serta rencana-rencananya yang bertujuan memaksakan perebutan Tebing Barat sebagai kenyataan yang sudah terjadi."
Perhatikan, berita ini serius. Tetapi luput dari perhatian kita.!
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Aku yakin itulah pertanyaan pembaca.
In the official release pejuang, kita diajak untuk "melakukan tekanan yang nyata dan efektif terhadap pihak penjajah Z10N1S Isrāhell Laknatullah 'Alaihim untuk menghentikan pelanggaran dan agresinya (pencerobohannya).
" Ya, jangan lupa dan terbiasa. Kembali bersuara, mengilmui dan memahami bahwa ini bukan masalah Muslimin Baitul Maqdis saja. Nyalakan hari-hari menuju Ramadhan ini dengan 3D: doa terbaik, daya tertanggung dan dana tanda cinta melalui lembaga terpercaya.
(maksud: daya tertanggung / insured power / kuasa yang diinsuranskan)
Ini, adalah masalah Umat Islam sedunia.
Tanggung jawab menjaga Al-Aqsha yang mulia! [HSZ]
📌 Catatan Editor: Artikel ini di adaptasi dan dengan izin di publish untuk website ini - dari gensaberilmu.com•Media Berteraskan Islam untuk Dakwah Sejarah Islamiyah dan Ke-Pālësṭīnean• "Learn History, Repeat Victory"•
Editor: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
Follow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: International, IslamicWorld, Featured, Islamic History, West Bank

No comments
Post a Comment