Marhaban Ramadhan, Bulan Pemurnian Jiwa dalam Jejak Para Ulama
Marhaban Ramadhan, Bulan Pemurnian Jiwa dalam Jejak Para Ulama
Bagaimana Orang-Orang yang Faham Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Disiplin Jiwa, Ilmu, dan Al-Qur’an.
Transisi dari Umar bin Khattab ke Para Ulama
- Pandangan Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu 'Anhu tentang Ramadhan tidak berhenti sebagai nasihat moral di zamannya, tetapi menjelma menjadi tradisi hidup yang diwarisi oleh generasi Ulama setelahnya. Nilai kesungguhan, disiplin ruhani, dan penghormatan terhadap waktu Ramadhan tumbuh menjadi prilaku nyata, bukan sekadar slogan.
- Dari sinilah kita melihat bagaimana para ulama salaf memaknai Ramadhan bukan sebagai bulan aktiviti yang dipadatkan, tetapi sebagai bulan penyucian yang diutamakan. Mereka tidak menambah hiruk-pikuk, justru menguranginya, agar hati punya ruang untuk Al-Qur’an berbicara.
Bagi orang beriman, menyambut Ramadhan bukanlah euforia seremonial, melainkan seperti menemukan kembali harta berharga yang lama hilang.
Ada kegembiraan yang tenang, bukan riuh. Kegembiraan itu tercermin dari kesungguhan menyiapkan diri dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits Nabi, serta nasihat para ulama yang lahir dari pengalaman panjang mengelola jiwa.

Hanya mereka yang benar-benar faham kedudukan Ramadhan yang menyadari bahwa bulan ini terlalu agung untuk diisi dengan kelalaian. Setiap detiknya layak dihidupi dengan kesadaran, dzikir, dan tadabbur Al-Qur’an. Ramadhan bukan sekadar jadwal ibadah yang diperbanyak, tetapi ruang pembentukan batin yang diperdalam.
Maka, kesadaran inilah yang membuat kita takjub pada cara para ulama terdahulu menyambut Ramadhan.

Imam Malik Rahimahullahu Ta'ala, Ulama besar Madinah dan guru utama di Masjid Nabawi, dikenal tidak pernah jauh dari majelis ilmu.
Namun ketika Ramadhan tiba, beliau meliburkan seluruh majelisnya. Bukan kerana lelah mengajar, melainkan kerana ingin sepenuhnya berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ilmu diberi jeda, wahyu diberi ruang utama.
- Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullahu Ta'ala, menyiapkan waktu terbaiknya untuk mendalami Al-Qur'an, membacanya, berlama-lama dengannya, seolah tidak ingin kehilangan satu bisikan makna pun. Ramadhan baginya adalah waktu memperdalam hubungan, bukan sekadar menyelesaikan bacaan.
- Begitu pula Imam Al-Bukhari Rahimahullahu Ta'ala, beliau bisa khatam Al-Qur'an setiap siang hari. Bukan untuk pamer kemampuan, tetapi sebagai bentuk totalitas pengabdian pada bulan yang dimuliakan. Ritme hidupnya disesuaikan, dunia ditata ulang, agar Al-Qur’an berada posisi keutamaan.
- Said bin Jubair Rahimahullahu Ta'ala, mengkhatamkan Al-Qur'an dua (2) malam sekali. Bagi generasi ini, Ramadhan bukan waktu kompromi dengan kemalasan, melainkan waktu pembuktian cinta kepada kalam Ilahi.
- Imam Asy Syafi'i Rahimahullahu Ta'ala, diriwayatkan khatam Al-Qur'an 60 kali selama Ramadhan. Sebuah angka yang mungkin terasa mustahil bagi banyak orang hari ini, tetapi menjadi cermin tentang bagaimana Ramadhan dimaknai secara total, zahir dan batin.
Contoh sederhana:
Reflektif: “Kita tidak dituntut meniru angkanya, tapi memahami arah hidupnya.”
Itu refleksi.
Cermin, bukan papan pengumuman.

"Bukannya mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari 3 hari tidak dibolehkan"
Ibnu Rajab Rahimahullahu Ta'ala akan menjawab:
"Adapun ketika waktu-waktu utama seperti Ramadhan dan tempat -tempat utama seperti Makkah, maka disunnahkan memperbanyak tilawah Al-Qur'an sebagai bentuk memanfaatkan peluang keberkahan waktu dan tempat tersebut." (Kitab Latha'iful Ma'arif)

Rebutlah dan ambil momentum Anda saat ini, kerana Ramadhan begitu mahal. Tidak ada time stone Dr Strange untuk mengulangi lagi.
Tidak ada yang menjamin ianya (peluang di bulan Ramadhan) akan kita dapatkan lagi tahun depan.
"Jika Anda susah shalat di malam hari, dan tidak bisa berpuasa di siang hari selama Ramadhan: Ketahuilah Anda telah diharamkan dari kebaikan! Artinya Anda telah penuh dengan dosa-dosa", tegas Ulama Hasan Al-Bashri Rahimahullahu Ta'ala.
Penutup Reflektif
Jejak para Ulama ini bukan untuk ditiru secara matematik, melainkan difahami secara maknawi. Mereka mengajarkan bahwa Ramadhan adalah bulan memusatkan diri, menyingkirkan yang sekunder (get rid of the secondary ones), dan menghidupkan yang esensial (yang penting). Di situlah pemurnian jiwa terjadi. Bukan kerana banyaknya aktiviti, tetapi kerana jernihnya arah tujuan.
📌 Catatan Editor:Artikel ini diadaptasi dan dipublikasikan dengan izin dari gensaberilmu.com.
“Learn History, Repeat Victory” [HSZ]
Editor: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
Follow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: Ramadhan, Pemurnian Jiwa, Tadabbur Al-Qur’an, Ulama Salaf, Spiritualitas Islam, Umar bin Khattab, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Al-Bukhari, Muhasabah Diri, Keutamaan Ramadhan, Tradisi Ulama, Disiplin Spiritual,


1 comment
Alhamdulillah sempat juga menulis dii awal Ramadhan ini, InsyaAllah🤲
Post a Comment