Semangat Mempertahankan PΔlΓ«sαΉΔ«ne Bukan Emosi Kosong#2
Semangat Mempertahankan PΔlΓ«sαΉΔ«ne
Bukan Emosi Kosong#2
FORTUNA MEDIA - Berhentilah Menyeret PΔlΓ«sαΉΔ«ne Ke Dalam Naratif Usang
- Siaran Pers/Akhbar Gerakan Perlawanan Islam - HΔ∆mΔ§: Setelah melakukan serangkaian konsultasi nasional. Dan berdasarkan tanggung jawab mendalam kami terhadap rakyat kami dan penderitaan mereka, Gerakan Perlawanan Islam, HΔ∆mΔ§, hari ini menyampaikan tanggapannya terhadap proposal terbaru utusan Amerika Syarikat, Steve Witkoff kepada saudara-saudara pengantara/mediator. Usulan/Proposal ini bertujuan untuk mencapai gencatan senjata permanen (permanent ceasefire) -- penarikan menyeluruh dari Semenanjung GΔzΔ. Dan memastikan aliran bantuan kepada rakyat kami dan penduduk di Semenanjung GΔzΔ.
- Berdasarkan perjanjian ini -- sepuluh tahanan IsrΔhell yang masih hidup yang ditahan oleh kelompok perlawanan/mujahidin akan dibebaskan -- sebagai tambahan terhadap penyerahan delapan belas jenazah -- sebagai imbalan atas sejumlah tahanan PΔlΓ«sαΉΔ«ne yang disepakati. (Sabtu : 04 Dzulhijjah 1446 H// 31 Mei 2025)
- Sumber untuk Al-Ghad: HΔ∆mΔ§ telah menyampaikan tanggapannya terhadap Proposal utusan Amerika Syarikat, Steve Witkoff kepada mediator Mesir dan Qatar. Tanggapannya termasuk jadwal penyerahan tahanan IsrΔhell dalam tiga kelompok: empat pada hari pertama, dua pada hari ketiga puluh, dan empat pada hari keenam puluh.
- Adapun jenazah IsrΔhell juga akan diserahkan dalam tiga gelombang: gelombang pertama pada hari kesepuluh, gelombang kedua pada hari ketiga puluh, dan gelombang ketiga pada hari kelima puluh.
- Tanggapan tersebut juga mencakupi tuntutan terkait diizinkannya penduduk GΔzΔ untuk bepergian dan kembali melalui penyeberangan Rafah, bersama dengan tuntutan lain termasuk penarikan tentara IsrΔhell dan dimulainya negosiasi yang bertujuan mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen (permanent ceasefire).

Artikel Ini lanjutan dari artikel sebelumnya;
Semangat Mempertahankan PΔlΓ«sαΉΔ«ne Bukan Emosi Kosong#1
Berhentilah Menyeret PΔlΓ«sαΉΔ«ne Ke Dalam Naratif Usang
Yang dihadapi PΔlΓ«sαΉΔ«ne hari ini bukan sekadar penjajahan. Tetapi projek peradaban kolonial global yang dikemas dalam wajah negara bernama IsrΔhell.
HΔ∆mΔ§ – Fatah Dan Solusi Dua Negara
Walaupun sebelum ini saya menekankan bahawa terdapat perbezaan asas antara kolonialisme tradisional dan neo-kolonialisme Barat di PΔlΓ«sαΉΔ«ne, terdapat satu corak yang sentiasa berulang dalam sejarah penentangan bangsa terjajah: Senantiasa ada dua paksi utama dalam perjuangan—dua strategi utama yang kelihatan berbeza, tetapi mempunyai satu matlamat: 'Kemerdekaan'.
Di Indonesia dulu, kita punya Presiden Soekarno yang memimpin jalur diplomasi, dan Jenderal Soedirman yang setia di garis perlawanan bersenjata. Nah, dalam konteks PΔlΓ«sαΉΔ«ne hari ini, “versi” itu hadir dalam bentuk HΔ∆mΔ§ dan Fatah.
HΔ∆mΔ§ , Gerakan Perlawanan Islam PΔlΓ«sαΉΔ«ne—dari namanya saja sudah jelas: ini adalah poros/paksi perlawanan. Sedangkan Fatah adalah parti politik yang memilih jalur perundingan
Mari kita hentikan kebiasaan melihat dua faksi ini hanya dari sisi konflik internal. Kerana seperti sejarah Indonesia, mereka justru mewakili dua sayap perjuangan yang saling melengkapi.
Sejak kecil, dari berbagai bacaan, Aku menyimpulkan bahwa: HΔ∆mΔ§ menolak solusi dua negara, Fatah ngotot/berkeras mendukungnya.
Tetapi setelah lebih dari satu dekade hidup di GΔzΔ, mendengarkan langsung dari para politisi, ulama, dan warga-rakyat biasa—keyakinanku itu keliru.
Faktanya, baik HΔ∆mΔ§ maupun Fatah sama-sama menerima idea solusi dua negara. Jangan kaget. Ini bukan rahasia. Ini realiti politik.
Ada banyak rakaman pernyataan dari para petinggi HΔ∆mΔ§—seperti Ismail Haniyah, Khalid Misyal, Musa Abu Marzuk—yang menyatakan hal itu secara terbuka.
Bahkan Dr. Ahmad Abdul Hady, juru bicara HΔ∆mΔ§ di Lebanon, dalam wawancaranya di TV tahun lalu (2014) mengatakan bahwa Syaikh Ahmad Yasin—pendiri HΔ∆mΔ§—pun tidak menolak idea solusi dua negara.
Sudah tentu, dengan satu syarat penting: penyelesaian dua negara mesti merangkumi wilayah PΔlΓ«sαΉΔ«ne sebelum 1967, dan yang paling penting—
Al-Quds (Jerusalem) mesti kekal sebagai ibu kota PΔlΓ«sαΉΔ«ne.
Itu batas minimum. Garis merah. Tanpa Al-Quds sebagai pusat kedaulatan PΔlΓ«sαΉΔ«ne. Maka semua solusi hanyalah tipuan (sandiwara)
Apakah itu berarti mereka mengkhianati tanah air mereka? Tidak mahu merdeka sepenuhnya? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Retorik.
Mereka adalah orang-orang cerdas, realistik, dan paling memahami medan konflik. Mereka tahu: Ada perbezaan besar antara target idealistik dan realistik.
Bagi Ahmad Yasin -- selama solusi dua negara itu mencakupi wilayah PΔlΓ«sαΉΔ«ne pra-1967, dengan Al-Quds sebagai ibukota, maka it's fine. Tetapi mereka juga tahu—sekalipun seluruh rakyat PΔlΓ«sαΉΔ«ne sepakat dengan itu, IsrΔhell Laknatullahi "Alaihim tidak akan pernah setuju.
Kerana IsrΔhell bukan sedang mencari solusi dua negara. IsrΔhell sejak awal adalah pengusung/penyokong Projek One-State Solution. Menerima solusi dua negara bagi mereka adalah kekalahan mutlak.
Dan ini bukan dugaan.
Bahkan perdana menteri IsrΔhell sendiri, Benyamin Netanyahu, mengatakannya secara terang-terangan. Awal tahun 2024, dalam sebuah pernyataan publik, ia menyindir:
“HΔ∆mΔ§ dan Fatah itu sama saja. Mereka sama-sama ingin melenyapkan IsrΔhell . Bezanya, Fatah ingin melenyapkan kami nanti — sementara HΔ∆mΔ§ ingin melenyapkan kami sekarang juga.”
Kalimat itu keluar dari mulut seorang penjajah, bukan untuk pujian—tetapi sebagai peringatan. Dan dalam kepanikan itu, ia justru mengungkapkan sebuah kebenaran: bahwa bagi rakyat PΔlΓ«sαΉΔ«ne, kemerdekaan penuh tetaplah tujuan akhir.[HSZ]
Kuala Lumpur, Ahad, 01 June -2025 M //
05 - Zulhijjah 1446 H
Author: Muhammad Hussein GΔzΔ
Editor: Helmy El-Syamza
Follow me at;⭐
twitter.com/romymantovani
facebook.com/helmyzainuddin
pinterest.com/hsyamz



No comments
Post a Comment