KISAH SUFI, SANG KYAI [71]
KISAH SUFI, SANG KYAI [71]
Kisah Hidup, Kisah Nyata
"SEBUAH KISAH SUFI, PERJALANAN ILMU KEBATINAN YANG DITULIS DARI SEBUAH PENGALAMAN"
Oleh: Helmy El-Syamza
Pada siri ke-70 Sang Kyai, Bercerita, sesampainya di Pekalongan, Jawa Timur, tidak ada lagi hari damai, tiap hari aku diberondong santet (Bhs Melayu:santau) tiada henti, dia membayar dukun beratus-ratus juta, dan dikirim Jin setiap hari tanpa henti selalu dikirim, ada sampai 500 ribu Jin, dan mengambilnya sembarangan, ada yang dari tepi laut, ada yang dari telaga, ada yang dari alas roban (nama kawasan hutan yang dihuni makhluk2 ghaib) ada pernah Jin dari alas roban, yang dikirim dari sekian banyak Jin.
“Ya sudah nanti kapan-kapan lagi diulang,” kata Kyai.
“Ya kyai.” terus terang aku tak mengerti Kyai memberi ilmu itu, juga aku bukan orang yang kemaruk ilmu, jadi kurang memperhatikan kalau diberi ilmu.
Ya itu, akhirnya diberi ilmu, malah tak tau apa dan bagaimana ilmunya. Wes lah pasrah saja sama Allah.
“Mas, tadi hafal ilmunya?” tanyaku pada Mas Bangun ketika diantar ke terminal Kampung Rambutan.
“Walah saya malah tidak ngeh sama sekali je…” jawab Mas Bangun.
“Waduh bagaimana toh, lha. saya malah tertidur.”
“Lha terus bagaimana?”
“Lain kali kalau dikasih ilmu, siap-siap saja kita
rekam.”
“Heheheh… saya dah minta izin soal itu, soal
merekam apa yang disampaikan Kyai, tapi Kyai tidak membolehkan.” jawab Mas Bangun
menjelaskan bergaya intelek.
“Ya, merekamnya tak usah bilang, la wong
ngasihnya saja sekali langsung diminta hafal,
bagaimana otak yang low kayak saya ini bisa menangkap. Harusnya sayang kalau ilmu itu
terbuang percuma, sayang sekali, yang aneh
kenapa saya kok ngantuk buanget, ngantuk pakai
buanget, masak di depan Kyai duduk sambil
tiduran, sampai ngorok lagi, yang tak bermutu.”
“Sudahlah kita terima dengan ikhlas saja.”
“Ya terimanya sih ikhlas, yang ngasih kan sremet
juga kalau dikasih ilmu tingkat tinggi jadi tidur
kayak diriku, tapi aneh memang kok tak tertahan
mau tidur itu, yo wes lah, semoga saja manfaat.”
“Manfaat dari mana, wong ilmu saja ndak
didapat, kok manfaat?”
“Ya manfaat yang memberi kan Allah, Allah itu
tak memerlukan sebab untuk memberi suatu
kemanfaatan, dan tak perlu alasan untuk
wujudnya manfaat, wes tak usah dipikir… besok
saja kalau diberi kita rekam diam-diam,
heheheh…”π
“Yo wes lah aku manut wae.” (Ya, sudah aku ikut saja)
“Wah lagu lama… mau enaknya tidak mau susahnya, hehehe…”π
Akhirnya kami berpisahan dan aku naik bas ke
Cirebon, kerana bas yang ke Pekalongan sudah
tak ada. Apa ilmu yang tak ku hafal do’a pembukanya itu
akan bisa ku pakai, melihat keadaan Aisyah yang
tak berdaya, sungguh aku kasihan sekali. Ku coba
saja, tangan ku arahkan ke arah Alas Roban,
tempat Jin yang mencuri Aisyah pergi. Lalu ku
tarik. Seperti menarik beras 1 kwintal (one quintal), berat
dan tanganku mengeras.
Ku pegang, dan ku
masukkan ke tubuhnya Aisyah lagi,
“Sudah Pak Kyai….” terdengar suara Aisyah yang
ceria.
“Tapi hanya separoh.” dan kelihatan lemah lagi.
“Ya sudah tak apa-apa, nanti Kyai tambahi lagi…”
“Iya… iya… nanti ditambahi lagi ya Kyai…”
wajahnya sudah ceria lagi.
Kejadian demi kejadian, ku buat selalu sebagai pelajaran,
dan semoga aku bisa mengambil hikmah yang
terkandung di dalamnya, dan atas kejadian ini,
semoga makin mendewasakanku, mungkin ini cara
Allah Ta'ala menggemblengku agar mampu menanggung
tanggung jawab yang besar, entah juga tanggung
jawab apa, aku hanya berusaha menjalaninya,
sebagaimana jalannya air mengalir.
“Aisyah…. Aisyah apa tidak ingin apa-apa?” tanyaku setelah mengobati beberapa orang, kerana ku lihat dia kelihatan lelah
“Tidak Kyai….”
“Bilang saja nanti ku beri apa maunya Aisyah.”
“Tidak ingin apa-apa kok Kyai, Aisyah hanya ingin membantu Kyai, apa saja yang Kyai perintahkan Aisyah siap, Aisyah siap mati untuk Kyai….” katanya sambil bercanda.
“Apa Aisyah tidak ingin makan apa gitu.”
“Aisyah hanya makan pasir saja Kyai..”
“Lha, apa enaknya pasir toh? Apa tidak makan nasi saja?”
“Ya kalau makan nasi Aisyah muntah… ya pasir yang dimakan baunya saja Kyai, bukan pasirnya.”
“Ooo tak kira makan pasirnya sungguhan, sampai Kyai lihatin terus pasir di depan rumah, dah berapa kurangnya, kok ku lihat gak kurang-kurang itu pasir, masih tetap saja utuh.”
“Ya, yang dimakan baunya saja Kyai, nanti pasir yang hitam itu akan agak berwarna keputihan.”
“Apa semua prajuritnya makan pasir?”
“Ya Kyai…. kadang Aisyah juga makan kembang/bunga. Ratu makannya juga kembang.”
“Oooo rupanya begitu, la kembang, mahu ku belikan kembang?”
“Ah tidak lah Kyai, Aisyah cari sendiri saja.”
“Benar tak mau ku belikan?”
“Tidak ah…”
“Aisyah sudah puasa kan, juga Nyai Ratu?”
“Sudah Kyai, puasa 21 yang Kyai berikan itu, cuma Aisyah tak pernah selesai dzikirnya, buanyaaak sekali, paling sampai bismillah, jadi ngutang deh, heheeh… Aisyah pegel duduknya, semuten. Tapi kalau Ratu selesai dzikirnya, malah kalau Raja pergi, ingin menyendiri mengamalkan amalan dari Kyai, dia bertapa.”
“Besok tak belikan kembang ya? Sukanya kembang apa?”
“Ah tak usah lah Kyai, kami sudah sangat bersyukur diangkat jadi murid sama Kyai.”
“Kyai bukan memberikan kerana pamrih, Kyai memberikan untuk memberi makan orang yang berpuasa, kerana memberi makan orang yang berpuasa itu mendapatkan pahalanya puasa orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala puasanya orang yang berpuasa, nah bagaimana?”
“Ya terserah Kyai saja, Kyai kan guru saya, gurunya Ratu, gurunya Dewi, semua akan taat apa yang Kyai ajarkan, kami tahu Kyai tahu apa yang terbaik.”
Maka ku belikan kembang, untuk berbuka puasa, seminggu ku berikan 2 kali.
*pamrih: (selfless /tidak mementingkan diri sendiri)
Sementara itu serangan dari Sengkuni makin meniadi-jadi saja, aku gerakkan murid dari internet untuk ikut andil (ambil bahagian) dalam perang melawan kemungkaran, banyak sekali pengalaman yang mereka alami, memang itu juga perintah Kyaiku, agar dijadikan alat menggembleng murid, sebenarnya momen saat seperti ini itu seperti momen merobohkan gunung dengan ledakan b0m, kalau amaliyah biasa, puasa biasa itu seperti meruntuhkan gunung dengan cangkul, jadi siapa
yang andil kemajuan ilmunya akan seperti roket, sebagaimana aku dulu ketika melawan 900 tukang santet (Melayu: Santau), dan perkembangan ilmuku amat pesat sampai aku sendiri tak masuk akal, dan setengah tak percaya dengan kejadian demi kejadian setelahnya setelah melewati ujian berat.
Tapi di kejadian itu juga akan jadi penyaring, siapa yang akan terbentuk dengan bentuk yang diinginkan atau siapa yang akan tumbang dan berlalu menjadi murid yang lama berkembangnya, siapa yang pantas dijadikan paku bumi, dan siapa yang hanya jadi rumput, itu berlaku juga untuk murid Kyaiku.
Aneh memang didikan seperti ini, kayak tidak masuk akal, tapi Kyaiku selalu menekankan, biar alam yang menyeleksi murid yang jadi dan yang hanya berlalu saja, dan muridku yang asli sini malah semua tak ada yang perduli sama sekali, hanya 80% yang jadi, yang lebih menghairankan malah ada murid Kyai yang dulu kena santet saja sering ku bantu, eehh, kok sekarang malah ikut join Sengkuni menyerangku, seringnya malah mengikat Aisyah dan seringnya berusaha agar majlisku tak ada pengunjungnya.
Memang banyak sekali yang akan jadi pengkhianat, dan akan jadi duri dalam daging, mereka fikir Allah Azza Wa Jalla tak tahu, malah ada juga yang menuduhku tertipu dengan Jin, mungkin tak pernah membaca Al-Qur’an atau bagaimana, apa tak pernah membaca surah Jin, bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengislamkan Jin, dan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah sebaik-baiknya suri tauladan, contoh yang harus kita tiru, bukan pendapat sendiri.
Aku tak berhenti berdoa pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, jika ilmu yang ku berikan pada orang yang salah, ku minta dicabut dari orang itu dan dikembalikan pada lauhil mahfudz.
Alhamdulillah, Aisyah sudah bisa mengobati jarak jauh, kalau Kyai guruku sakit maka ku perintah dia menarik sakitnya dari jarak jauh, dan juga kemarin selepas Ibunya Kyai kena santet juga ku minta mengobati jarak jauh, tapi hal itu makin membuat Sengkuni terbakar hatinya, sekarang yang dituju dan diarah adalah Aisyah, bagaimana menangkap Aisyah, aku sendiri tak bisa menjaganya selalu, PENGGEMBLENGAN (LATIHAN YANG RAPI / RIGOROUS TRAINING) ini yang dikatakan Kyaiku sungguh sangat unik.
Dari pagi Aisyah mengobati, siang dia ikut Istriku belanja, biasa dia ingin lebih tahu banyak tentang manusia, jiwanya mungkin sangat haus akan dunia manusia, dia juga makin rajin melihat TV, aneh jadinya kalau ada Jin hafal iklan, dan hafal cerita sinetron, dia juga suka mengubah channel tv yang disukai. Jin yang dikirimkan padaku dan yang ku taklukkan mungkin keseluruhannya aku tak tahu lagi berapa, tapi ada perkiraanku sampai 600 sampai 700 ribu lebih, pernah ku tanyakan ke Aisyah.
“Ada berapa banyak Jin yang ada di sekitar rumahku?”
“Wah tidak terhitung Kyai, semua atap rumah sudah penuh, sampai atap rumah tetangga dan pohon-pohon, dan di jalan berjejer ada penuh sampai ke sawah yang berjarak satu kilo meter, semua penuuuuh jin.”
“Tapi tak ada yang jahil/nakal kan.”
“Tak ada Kyai… semua taat beribadah, kalau ada yang tak sholat ditegur sama Ratu.”
Memang ku rasakan walau rumahku penuh Jin, tapi hawanya adem, tak panas, atau terasa merinding, semua adem-ayem (semuanya tenang dan damai).
Memang ku sengaja semoga aku banyak bisa mengislamkan banyak Jin, setiap ada kesempatan, atau laporan ada tempat angker (haunted place / tempat berhantu) ku tarik dan ku "mediumisasi" (mediumship / perantaraan) dari rumah. Seperti siang itu, ada yang cerita kalau ada sebuah pabrik yang angker, ku coba me-mediumisasi. Ku tarik Jin dari rumah, dan ku masukkan ke mediator.
“Siapa?” tanyaku.
“Saya Jin raja yang tinggal di pabrik, Assalamualaikum.”
“Wa'alaikum salam.”
“Kamu Muslim.”
“Iya..”
“Apa semua yang tinggal di pabrik itu Muslim?”
“Tidak semua, hanya anak buahku yang Muslim, Kyai..”
“Kamu tahu tentang diriku?”
“Ya Kyai, saya tahu, kalau boleh saya ingin mengabdi dan menjadi murid kyai.”
“Ada berapa temanmu?”
“Ada 20 ribu.”
“Yang masih kafir coba panggil menghadap padaku.”
“Ya Kyai…” sebentar mediator diam dan bergerak lagi, bergaya ingin menyerangku,
“Apa mahu menyerangku?”
“Hiiyyyaa….”
“Coba diserang…” kataku pasrah diam saja.
“Ampuuuun…. saya nyerah…”
“Lhoh kenapa?”
“Ada yang menekanku.. aku menyerah, habis tenagaku, aku mahu takluk saja, aku sebenarnya dari Malaysia.”
“Kok jauh amat dari Malaysia?”
“Iya dikirim dari sana, orang yang punya pabrik bekerja sama dengan orang Malaysia dan aku dikirim untuk memantau pabrik ini,”
“Ooo begitu rupanya, lantas bagaimana mahu menjadi pengikutku atau bagaimana?”
“Iya kalau boleh, saya mahu dijadikan murid.”
“Ya sudah, semua temannya diajak jadi muridku. Ikuti aku ajarkan membaca dua kalimat sahadat.”
Maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat syahadat. Kejadian hal seperti itu, hampir tiap hari terjadi, kadang ada Jin dari jauh, berombongan, dan minta diIslamkan, lalu setelah masuk Islam ada yang tinggal, ingin ikut mengaji, ada juga yang datang setelah diIslamkan kemudian mereka pergi lagi, itu hampir tiap hari, kadang sehari sampai beberapa kali.
Terkadang kita ikhlas membantu orang lain, bahkan tidak meminta bayaran apa-apa sama sekali, kadang sudah menolong juga memberi makan juga memberi apa saja yang diperlukan si sakit, tapi balasannya malah sebaliknya, seperti ada orang yang kena santet, sudah berobat kemana-mana tidak sembuh, dan dibawa kerumahku sembuh, keluarganya menjenguk, itu bukannya berterima kasih, eheh. malah menuduh aku yang menyantet, dan aku yang mengerjai, yang membuatnya sakit, agar aku bisa mengobatinya, hairan juga, apa untungnya juga bagiku, kecuali aku menyuruhnya membayar, lha, mengobatinya saja gratis kok tidak dipungut biaya serupiah pun, kok malah menuduhku katanya yang menyantet, atau wajarkah jika dituduh seperti itu, jika aku mensyaratkan membayar sekian-sekian, lha, serupiah saja tidak ku minta, lalu keuntunganku membuat orang sakit itu ada di mana?
Anehnya lagi mengajak ribut (gaduh), menuduhku sesat dan lain-kain, eaalah kok ada orang ya macam-macam begitu, kadang kalau ketemu orang seperti itu jadi down mahu menolong orang, sudahlah masing-masing saja… Kadang sekilas lintas terbersit rasa seperti itu, namanya juga aku manusia biasa, tapi Allah Ta'ala seperti memperingatkanku, sudahlah anggap saja itu ujian, untuk makin mendekatkanku padaNya, jadikan ladang amal.
Ya, memang harus berfikiran jernih, dan selalu menimbang, mengembalikan segala sesuatu pada Allah Azza Wa Jalla, Allah juga kan yang membolak-balikkan hati manusia, hatinya buruk atau baik, Allah juga yang menjadikan, jika hati seseorang itu kemudian buruk padaku itu sebenarnya atas izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan jadi ujian padaku, atau seseorang itu melakukan keburukan padaku, itu Allah mengujiku, melatihku menanggung beban berat, agar aku terbiasa dengan beban berat, dan jika menanggung beban berat, aku tak merasa keberatan malah akan merasa ringan jika beban itu bobotnya di bawah beban yang biasa aku tanggung.
Yakin seyakin yakinnya saja kalau Allah Ta'ala pasti menolong, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Menolong pada orang yang bertawakal dan berserah diri padaNya.
Kita juga diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kalau kita diserang terus menerus, maka kita boleh balas menyerang untuk membela agama, mati juga akan mati syahid, bersama Allah jangan ragu melangkah.
Tempaan (penempaan/forging) yang ku terima memang saat cerita ini ku tulis, memang tiada sangat beruntun, aku juga cuma menjalani, apa maksud Allah Azza Wa Jalla, aku juga tidak tahu, yang penting aku selalu berusaha dalam koridor istiqamah memegang amanah dan amaliyah.
Tetamu yang minta tolong silih berganti, sekalipun aku menghadapi permasalahan sendiri, tetap juga ku dahulukan permasalahan orang lain, terkadang menghadap tetamu sambil mencabuti santet yang entah berupa paku, bambu, yang ditancapkan ke tubuhku.
Datang tetamu dari MTS Walisongo (Madrasah Tsanawiyah (MTs), dulu tempat Aisyah mengganggu, bersama prajuritnya, katanya masih banyak kerasukan terjadi, sebenarnya kalau mereka tahu, mereka tidak akan minta bantuan dukun atau paranormal, yang memang menawarkan diri untuk menolong kerasukan itu, kerana Jin yang merasuk ke siswa itu adalah Jin yang memang malah kirimannya dukun, kalau motif dan tujuan aslinya sendiri aku tidak tahu apa itu. Tapi kalau menurut pendapatku itu motifnya dukunnya ingin dapat pekerjaan agar dapat wang, atau namanya jadi tenar kerana mengobati kerasukan itu, aku tak tahu juga motif sebenarnya.
*Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum di Indonesia dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar, setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP).“Maaf Pak Kyai mengganggu…” kata dua orang guru MTS.
“Ada perlu apa Bu'?” tanyaku
“Ini Pak, kami mahu minta solusi, sudah beberapa bulan ini anak didik kami mengalami kerasukan, jadi kami ingin minta solusi pada bapak, bagaimana baiknya?”
“Sejak bila Bu', ada terjadi kerasukan?”
“Sudah ada 3-4 bulan pak..”
“Sebentar ya Bu'….” ku tarik Aisyah ke mediator.
“Ini dulu yang mengganggu anak didik Ibu guru, ini Jin yang dulu bertempat di jembatan yang di bangun itu.”
“Maksudnya Pak, apa di dalam orang ini ada Jinnya?”
“Iya Bu' guru… Bu' guru yang sebelah itu kalau mengajar lembut sekali, iya saya yang dulu mengganggu murid Ibu, dulu saya bersama teman-teman saya yang tinggal di jembatan yang diperbaiki, kerana waktu memperbaiki jembatannya tak minta izin, jadi raja kami marah, dan membuat murid ibu kami rasuki, maaf ya Bu', saya sekarang sudah jadi muridnya Pak Kyai.”
Kedua guru itu terbengong-bengong, tidak tahu, faham apa tidak dengan apa yang diucapkan Aisyah, mungkin tidak mengerti, apalagi ini soal ghaib, sulit dicerna dengan logikanya orang yang masih memakai akal.
“Begini loh Bu'… jadi dulu saya mendengar kalau sekolah MTS itu banyak kerasukan, maka saya kemudian membantu dari sini, Jinnya yang merasuki anak sekolah itu saya tarik, dan saya taklukkan,” kedua guru itu makin senyam-senyum, mungkin tidak faham atau bagaimana, atau kesengsem sama wajahku yang ganteng. Ealah memang susah menjelaskannya.
“Saya dulu itu yang menganggu murid Bu' guru, saya itu Jin yang ada di tubuh ini Bu'..” jelas Aisyah lagi kerana melihat kedua guru itu makin bingung.
“Lha kok bisa di dalam tubuh anak ini Pak?” tanya salah satu guru.
“Ya kayak di TV itu loh Bu', di acara dua dunia, jadi Jinnya dimasukan ke manusia, dimediumisasi.”
“Tapi ini sekarang masih banyak kerasukan kok pak..” kata Bu' guru yang satunya lagi, sambil memperbaiki tempat duduknya, mungkin agak mulai faham.
“Ya, kalau sekarang yang merasuki itu bukan dari kelompok saya Bu'.” jelas Aisyah lagi.
“Lha, terus dari mana?” tanya Bu" guru
“Dari yang sengaja dibawa dukunnya..” jelas Aisyah.
“Lha kok bisa, kan mereka mahu menolong.” kata Bu" guru hairan.
“Begini saja Bu"… biar Jinnya dari sekolahan ku tarik ke sini, ku mediumisasi, nanti Bu" guru tanya saja sendiri .” jelasku.
“Apa bisa?”
“Ya nanti dilihat saja…” ku tarik salah satu Jin, dan ku masukkan ke dalam tubuh mediator. Dia menggereng-gereng mahu menyerangku.
“Siapa ini?” tanyaku. Jin diam saja….
“Siapa? Kamu tak mau bicara?” Dia menggeleng.
“Benar tak mau bicara?” Dia tetep menggeleng.
“Baik kalau begitu, ku penggal saja…” kataku lantas mencabut pedang ghaib, dan ku tempel ke lehernya.
“Iya… iya ampun jangan bvnoh aku.. aku mahu bicara.”
“Kamu kenapa, mengganggu di sekolah MTS, kenapa merasuki siswa?”
“Aku disuruh.”
“Disuruh siapa?” Dia diam.
“Disuruh siapa?” ku ulangi pertanyaan. Tapi dia tetap diam, ku tempel saja pedang yang ku pegang ke lehernya, dia baru mengaku disuruh dua dukun yang biasa dimintai tolong mengeluarkan kerasukan di sekolah.
“Nah, Ibu tahu sendiri kan..” kataku pada kedua guru. Kedua guru itu masih setengah percaya setengah tidak. Lalu keduanya untuk meyakinkan diri mereka sendiri, menanyakan ini itu. Setelah keduanya ku rasa cukup bertanya, aku mengambil alih pembicaraan.
“Berapa temanmu yang disuruh mengganggu anak sekolah?” tanyaku pada Jin.
“Ada 100 orang.”
“Seratus itu apa semua ada di sekolah?”
“Yang ada di sekolah 70, yang lain masih merasuk di tubuh siswa.”
“Apa kamu mahu melawanku atau mahu menakluk padaku?”
“Aku tak berani melawan… aku menakluk saja…,”
“Apa tidak coba melawan dulu, daripada nanti penasaran.”
“Ampun aku tidak berani.”
“Coba tanya yang 70 Jin itu apa mahu melawanku, atau mahu takluk?”
“Memangnya kamu bisa menaklukan mereka?”
“Ingin lihat?” tanyaku.
“Hehehe… iya…”
Dia tersenyum meremehkanku, biasa Jin itu seperti itu. Ku panjangkan pedang ghaib yang ku pegang, dan sampai tembus langit,
(yang baca cerita pasti hairan, kok bisa?) yang ingin lihat cerita ini benar atau tidak lihat saja videonya di: https://www.facebook.com/kumpulane.vd.
Setelah pedang ku panjangkan, ku tebaskan ke Jin yang ada di MTS, segera saja datang Jin masuk lagi ke mediator.
“Siapa kamu menyiksa anak buahku?” tanya Jin yang masuk.
“Ada apa? mau melawan?”
“Ya…. ” jawab dia sambil menggeram, dan mahu mengeluarkan jurusnya. Pedang ku ganti dengan cambuk, dan segera Jinnya ku cambuki, sampai minta ampun.
“Ampuuuun… ampuuun, saya menyerah.”
“Benar menyerah?”
“Coba lagi, cambukmu tak akan mempan.”
Ku lecutkan lagi cambuk dan ku tambah kekuatan, kembali dia menjerit minta ampun.
“Bagaimana?” tanyaku,
“Ya, ampuun, saya menyerah..”
“Bagaimana dengan temanmu di sana, apa mahu menyerah semua?”
“Aku tak tau, aku cari selamat sendiri saja..”
“Ku lecutkan lagi cambukku,”
“Yaaa ya… semua ku ajak menyerah.”
“Ada berapa?” “Ada 70.”
“Mau takluk padaku?”
“Ya kami mahu..” Segera ku ajari mengucap dua kalimat syahadat.
“Nah, bagaimana Bu", sudah lihat sendiri kan..”
“Iya Pak….” Aku tak tahu apa mereka percaya atau tidak, yang penting aku sudah menunjukkan, mahu mengatakan ini rekayasa atau bagaimana itu urusan mereka, saya juga tidak diuntungkan atas apa yang ku lakukan, mereka berjanji akan membawa yang kerasukan ke rumahku, tapi saat tulisan ini ku tulis, yang kerasukan malah dibawa ke hospital akhirnya malah ribut di hospital, menjerit jerit tidak karuan. Ya, sudah biarkan saja…. lebih baik tidak ku fikirkan, biar saja mungkin Allah Azza Wa Jalla mempunyai rencana lain, hanya Allah yang Maha Tahu.
Urusanku bukan hanya Sengkuni, aku sendiri hairan apa mahunya dia. Jika orangnya jujur sebenarnya ingin ku tanya langsung, apa mahunya, tapi sayang dia bukan orang yang jujur. Jadi jika ku tanya juga akan sia-sia belaka.
Mungkin orang yang membaca tulisanku ini juga bertanya-tanya siapa sebenarnya Sengkuni itu, kalau ditanya secara pasti, aku sendiri tidak kenal dengan jelas siapa dia, Sengkuni itu menjadi murid Kyai, aku sendiri tidak tau pasti bila pertama kali, mungkin tahun 2006, atau 2007, aku tidak tahu pasti.
Sementara aku sendiri tahun 2006 sampai tahun 2010 sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Kyai, kerana aku bekerja di Arab Saudi, dan aku sendiri tipe orang yang tidak akan menghadap guru kalau tak dipanggil menghadap, sebagai tanda tawadukku pada guru, kerana aku tahu urusan guruku sudah banyak sekali, aku tidak mahu merecokinya (menyusahkan).
Jadi aku tidak akan menghadap kalau tidak dipanggil Kyai, di samping aku sangat takut berbuat kurang adab tata-krama kalau ada di dekat Kyai, yang penting bagiku ilmu dari Kyai aku jalankan dengan istiqomah, bahkan aku orang yang tidak pernah meminta ilmu sama sekali pada Kyai, kalau dikasih ya saya terima, sebab bagiku Kyai lebih tahu, apa yang ku perlukan daripada diriku sendiri.
Tetapi walau aku tak minta, selalu saja kalau Kyai memanggilku berarti akan memberikan ilmu. Satu ilmu diberi maka aku berusaha ku jalankan sampai ku dapatkan buah manisnya ilmu. Baru ilmu itu akan ku berikan kepada orang lain.
Jadi aku kenal Sengkuni tahun 2011, lupa aku bila tepatnya, tapi selama tahun 2006 sampai 2011, ku rasakan perkembangan jamaah thareqat yang ku ikuti kok tidak ada sama sekali, malah ku tahu mengalami kemunduran, belum lagi Kyai Cilik dalam keadaan sakit, aku dipanggil tiap dua minggu sekali, menghadap untuk mengobati beliau, beliau disantet juga diracun, hairan juga, kenapa beliau disantet dari segala penjuru demikian rupa.
Dan waktu itu, aku sendiri baru kenal santet sampai menghadapi 900 tukang santet, hari-hari hanya menghadapi santet, di mana mana, di bas bahkan santet tetap memburu, tidur tak tenang, dan ketika aku diperintah Kyai untuk memimpin dzikir, maka santet menyerangku di tenggorokan, sehingga suaraku habis, juga menusuk ke perutku sampai rasanya sakit minta ampun, pernah dulu di Majlis Cilegon, aku merasakan sakit yang teramat sangat, di perut sampai sakitnya tak karuan, sampai aku tidur melintir-lintir menahan sakit, anehnya sakitnya mulai jika aku mahu berangkat ke Cilegon, dan aku sama sekali tak mengira kalau itu sakit kena santet, ku kira hanya sakit batu ginjal biasa, malah waktu itu Mas Bangun ku ajak menemaniku beli batugin (?), untuk mengobatiku, tapi tetap saja sakitku tak juga sembuh, rasanya mahu mati saja, kerana teramat sakitnya, dan baru diobati Kyai baru jadi sembuh, dan baru kemudian ku ketahui itu santet dari dukun yang dibayar Sengkuni.
Sebab hari-hari belakangan ini, ketika semua telah jelas, apa yang ku rasakan dulu, sekarang hampir tiap hari ku rasakan, cuma sekarang aku bisa menariknya, dan terkadang Aisyah yang ku minta mengeluarkannya, sekarang juga Kyai Cilik sering menghubungiku, juga kadang ku pantau dari jarak jauh, apa ada santet yang masuk ke tubuh Kyai atau tidak, kalau ada ku tarik dari jarak jauh, kadang Kyai menghubungiku lewat telepati dan minta santetnya ku keluarkan dari tubuh beliau, Yah… memang keadaannya seperti ini, kasihan juga kalau Kyai jauh dariku, beliau sering mengatakan tidak ada murid yang bisa diandalkan, kerana muridnya masih cenderung mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri, tidak ada yang serius memperjuangkan thareqat, kebanyakan masih memikirkan bagaimana maunya bisa hidup enak, dari doa Kyai.
Ahh entahlah, kadang malas kalau membahas para murid Kyai, apalagi kalau yang dikehendaki kepentingan masing-masing, lebih baik ku putuskan memperbesar jamaah dengan caraku sendiri. Itu saja mereka bukannya membantu, malah kebanyakan menjelek-jelekkan di belakang, Seakan tidak mahu jamaah menjadi besar dan berkembang pesat.
Sepertinya aku sendirian, maka aku harus kuat sendirian, dan Allah Subhanahu Wa Ta'la hanya yang tak berkhianat bila ku jadikan teman, memang aku seharusnya sendirian, sendirian berjuang, dan tidak akan berhenti sebelum Allah menghentikanku, dan mencabut nyawaku.
Serangan dari Sengkuni, tidak juga berhenti, dengan berbagai cara dia melakukan, yang lebih aneh lagi semua muridku yang ada di rumah, yang tinggalnya di daerahku, sama sekali tidak ada sedikitpun perduli, malah menuduhku mengada-ngada, ya, ini menunjukkan hanya cobaanku, ujianku, dan ujian orang yang dikehendaki maju oleh Allah Azza Ta'ala, maju memperjuangkan thareqat yang ku pimpin, dan yang mendukungku malah murid dari internet, makanya kenapa Kyai Cilik mengacungkan jempol untuk mereka, walau dari internet yang tidak bertemu langsung, ternyata Allah Ta'ala memilih mereka untuk berjuang bersamaku, dan mereka orang-orang yang dipilih dari berbagai kawasan, dan daerah, bukan orang yang asal-asalan, tapi memang orang yang dipilih Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk berjuang bersamaku.
Waktu Maghrib, keadaan kenapa sepi, aku merasakan ada yang aneh, kenapa biasanya juga Aisyah hadir, ini kok tidak ada, biasanya aku mengajari dia berbagai ilmu, dan ku suruh mempraktekkan, tapi ini kok tak muncul, aneh…. ku tarik Aisyah untuk ku masukkan ke mediator. Malah yang masuk Latifah adiknya Aisyah,
“Kok Latifah ya….? mana Mbak Aisyah…?” tanyaku.
“Huuu huuu….” Latifah menangis, Latifah itu umurnya sekitar 250 tahun, ya sekitar seumuran anak kelas 6 SD untuk seumuran manusia.
“Kenapa Nduk, kok menangis?”
“Huuu… huuuu… ” dia malah nangis makin kencang. Aku jadi khawatir terjadi apa-apa terhadap Aisyah, bagiku semua Jin yang sudah masuk thareqat adalah keluargaku sendiri, itu ajaran Kyai, jadi siapa saja yang sudah masuk thareqat adalah saudara kita, kita harus menyayanginya
lebih dari menyayangi diri sendiri. Dan aku berusaha menerapkannya benar benar dalam kehidupanku. Apalagi Ratu sudah menitipkan Aisyah padaku, bagiku tanggung jawab, amanah itu akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah Azza Wajalla. Akan dipertanyakan nanti di pengadilannya Allah, jika kok aku tak bisa menjaganya, bagaimana aku menghadap Allah nanti.
“Nduk… ndak usah menangis, ada apa dengan Mbak Aisyah?” tanyaku menghibur,
“Ayo cerita sama Kyai, kalau ada apa-apa, nanti Kyai akan minta pada Allah Ta'ala untuk minta jalan kelurnya.”
“Huuuhuuu… Kyai, Mbak Aisyah… ditangkap sama Jinnya Sengkuni, dia…. dia dimasukkan kerangkeng (sangkar/cage), sekarang dia disiksa…” jawab Latifah di sela tangisnya.
“Yang benar Nduk?”
“Iya Kyai… huuu..”
“Lalu dia dikerangkeng di mana?”
“Di Surabaya.. di rumahnya adiknya Sengkuni.”
Aku menarik nafas, bingung, bagaimana menolongnya? tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
“Lha, tadi bagaimana Mbak Aisyah kok bisa ditangkap?”
“Huuu… tadi mbak Aisyah ikut Bu"Nyai jalan-jalan, dia di atas, dan ada diikuti Jinnya Sengkuni, dan akhirnya dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam kerangkeng, sekarang sedang disiksa… bagaimana ini Kyai.. kasihan Mbak Aisyah..”
Wah, aku makin panik… Ku kumpulkan saja jamaah yang ada di majlis ada beberapa orang untuk ku ajak dzikir bersama, dan menolong Aisyah yang sedang dipenjara. Aku berdoa semoga Allah Azza Wa Jalla mengirimkan bala tentara Malaikat untuk menolong Aisyah, dan mengembalikan Aisyah, suasana tegang, kerana kami tidak tahu apa nanti hasilnya. Tetapi ini juga menjadikanku makin teguh dan yakin untuk selalu berserah dan bertawakal pada Allah Ta'ala, yakin Akan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. [HSZ]
Bersambung ke Kisah Sufi, Sang Kyai [72]
✍️ Ditulis oleh:
Helmy El-Syamza
Ilustrasi Image; Doc, Cakrawala News
Untuk Anda yang belum baca siri ini yang sebelumnya,
Anda boleh baca disini : KISAH SUFI, SANG KYAI
#indonesia, misterinusantara, #KisahKyaiLentik KisahSangKyai, #KisahSufi, #SangKyai,
@Copyright by Cakrawala News
WARNING; It is forbidden to copy, post, copy this article entirely without Admin Blog permission. In case of any such violation you will be prosecuted following the applicable laws of your country.
@ Copyright by Cakrawala News
![KISAH SUFI, SANG KYAI [71] <img src="https://fazryan87.blogspot.com/gambar-kisahsufi-sangkyai.jpg" alt="KISAH SUFI, SANG KYAI [71]"/>](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-iaB1jzOBc_FufZLYdIFHyglGYCqtbq9KHvlfWnVuBuivmyKNTUW2h3dO1JgkEUJWCXKm80UKE0BAoP8cPP4getA6i8k9RcspENPIcFdNuC0rySKxfLfPoIUcSSS636_ini5R0AG7xtxNMNhrNLWgXtspt2h0NvoKmhGsUCAfQhzakFHSF8AwkyyptOZ_/w400-h271/0d140519-3662-46e2-ad1e-3060fa7c30c7Helmy54.jpg)
No comments
Post a Comment