KISAH SUFI, SANG KYAI [69]
Kisah Hidup, Kisah Nyata
"SEBUAH KISAH SUFI, ILMU TASAWUF YANG DITULIS DARI SEBUAH PENGALAMAN"
Pada siri ke-68 Sang Kyai, Mengisahkan, malam jam 9:, suasana hening, ada tetamu juga dan aku sedang mengajari Ratu untuk menjalankan zikir pondasi, Alhamdulillah sekali ku ajarkan caranya semua langsung bisa melakukan, tidak terbayang, banyak punya murid dari Bangsa Jin, yang bukan hanya seribu dua ribu, bahkan sampai ratusan ribu…. Ini amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, semoga saja aku kuat menjaga amanah yang dibebankan di pundakku, aku yakin, Allah Maha Bijaksana, dan aku yakin Allah Ta'ala akan memberikan kekuatan untuk menjaga amanah ini. Sehingga memberikan amanah ini, sebab aku sendiri adalah hamba yang daif, tidak berdaya, tiada daya upaya apa-apa, kecuali hanya atas pertolongan Allah Azza Wa Jalla semata.
CAKRAWALA NEWS l Sahabat Fillah, Sekali lagi saya (Sang Kyai / editor) tekankan, apa yang saya tulis ini hanya kejadian biasa, dan bisa saja terjadi pada
siapa saja, saya menulis ini juga bukan bertujuan
mencari populariti, sebab saya sendiri tiap hari
sudah sibuk mengobati pasien, dan membantu
menyelesaikan banyak orang yang minta bantuan,
di samping wira-wiri Pandeglang, Jepara,
Pekalongan, Jawa Tengah, untuk memimpin zikir.
Jadi ini
sekedar pengalaman yang ku alami, bukan untuk
dipercaya kejadiannya, sebab yang kita alami,
belum tentu dialami orang lain. Jadi jika tidak
percaya itu wajar. Jika tidak percaya juga
sebaiknya tidak komentar, sebab ini hanya
kejadian, kejadian yang siapa saja bisa
mengalami, atau siapa saja mungkin tidak
mengalami, namanya juga taqdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala, setiap
orang ditaqdirkan berbeza kejadian
perjalanan hidupnya.
Seperti seorang Badui yang pergi ke kota, yang
asalnya tidak pernah sama sekali pergi ke kota,
yang hidupnya di tengah hutan, juga teman-temannya tidak tahu akan kemajuan zaman, ketika
si Badui kembali ke hutan dan bercerita
pada teman-temannya, teman-temannya
menganggapnya aneh. Padahal dia hanya cerita
soal mobil, jalan raya, sepeda/basikal, tv, dan apa saja
yang ada di kota, yang di pandangan orang kota.
itu hal yang sangat biasa, tapi bagi orang Badui,
malah ada yang berkata,
“Kau bvnoh aku , aku
tetap tidak percaya dengan ceritamu, sejak kau
keluar dari tanah Badui, sekarang bicaramu
makin ngawur dan kau dijangkiti pernyakit gila,
suka mengkhayal dan berbuat yang aneh-aneh,
kalau mandi makai sabun, kalau mhau tidur
memakai alat yang mengeluarkan buih, kau sudah
melanggar kebiasaan nenek-moyang kita.”
Padahal yang diceritakan sang Badui yang baru pulang
dari kota itu hal yang biasa dan ada terjadi di
keseharian di kota, bukan hal aneh, dan ada
nyatanya, tapi bagi orang Badui yang tak pernah ke
kota hal itu jadi di jadikan alasan menuduh kalau sang Badui itu mulai terjangkit penyakit gila.
Makanya saya sadar, sesadar-sadarnya, kalau
yang saya tulis nantinya juga tidak selalu
dipercaya, dan sekali lagi bagi para pembaca,
tulisanku ini bukan untuk dipercaya, malah
silahkan saja siapa saja menulis pengalaman
pribadinya sendiri, syukur banyak yang mahu
membaca, jadi jangan mengirimkan pesan
padaku, seakan kepercayaannya ku perlukan,
jangan merasa jadi orang penting, lantas mengirimkan pesan,
“Aku tak percaya
dengan tulisan Mas di kisah Sang Kyai.”
Jika orangnya masih mengirim itu, ya berarti dia
bodoh, tidak bisa baca sebenarnya, kerana sudah
ku bilang berulang kali bahwa ceritaku ini bukan
untuk dipercaya kejadiannya. Kerana ini hanya
pengalamanku saja, bahkan orang yang bersama denganku saja yang mengalami bersama denganku dengan mata kepalanya sendiri saja
belum tentu percaya, apalagi orang lain, Istriku
saja sering mengatakan, “kok kayak khayalan saja
ya?”
Tulisan yang ku tulis ini akan banyak kejadian
soal makhluk Jin, jadi sekali lagi ku tekankan, sebaiknya
jangan percaya, daripada sakit kepala (mumet), kerana
membaca kisahku, jadikan saja bacaan ringan.
Kalau mumet, hentikan membaca.
Setelah se-Kerajaan Jin masuk Islam dan menjadi
muridku, akhirnya banyak kejadian yang bertubi-tubi, kejadian yang awalnya tidak terungkap,
akhirnya terungkap, kejadian yang sebelumnya
aku sama sekali tidak memikirkan bahkan
tidak terlintas dalam fikiranku, akhirnya terbuka.
Dan memahami, saya sendiri tak seratus persatus mempercayai, kerana sebenarnya juga aku tak
mengerti dengan benar dunia Jin, dan dunia yang
ghaib, yang kadang kita sangka hijau bisa
jadi biru, kita sangka putih ternyata hitam.
Awalnya Ratu Jin, sebagai pemimpin Jin mulai
akrab denganku, dan dia siap dipanggil kalau aku
ingin memerintahnya, dia dan anak buahnya siap
diperintah, aku seperti punya mainan baru, walau
tak percaya seratus peratus, setidaknya
ada bayang-bayang jawaban dari hal yang
sebelumnya tidak ku mengerti.
Awalnya ku tes Ratu
mendeteksi penyakit, dan metode paling simpel
mengobatinya, ku cermati, bagaimana dia
mendeteksi, ternyata dia masih memakai ilmu
hikmah, juga mengobati penyakit masih memakai
ilmu hikmah, lalu aku memerintahkan agar dia
belajar menjalankan Amaliyah Thareqat, yang
bersifah maunah, atau pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bukan
bentuk ilmu hikmah, ku contohkan pada ketika
para Panglima dan Raja, Suaminya Ratu mahu
menyerangku dengan ilmu hikmah
mereka, mereka semua gagal.
Alhamdulillah dia
mahu ku ajari zikir dengan detail, juga semua
prajurit Jin yang sebanyak 30 ribu kemudian
menjalankan dzikir dan sholat berjamaah, dan dia menceritakan setelah menjalankan zikir
yang ku berikan, tubuh mereka bercahaya, dan
serasa tenang, juga Raja dan semua
pasukannya mengucapkan terimakasih, dan makin
ingin mengabdi padaku selamanya, ya perlahan ku didik, dan ku ajari mengaji, khususnya soal
membersihkan hati dan ruhani menjadi punya
watak terpuji.
Apa yang ku lakukan hanya mencoba meniru apa
yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, ya setidaknya
sedikit meniru, Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
“Tidaklah
Aku ciptakan Jin dan manusia, kecuali untuk
beribadah kepada-Ku.”
(Al-Qur'an, Surah az-Zariyaat, ayat
56)
Demikian penegasan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam al-Qur'an
tentang tujuan-Nya menciptakan Jin
dan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah
kepada Allah Yang Maha Esa.
Golongan Jin dan Manusia terbagi dua, yaitu
Islam dan Kafir.
Jin menyatakan keIslaman mereka yang
dijelaskan dalam al-Qur'an, Surah Jin artinya:
“Katakanlah (wahai Muhammad): Sudah
diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya satu
rombongan Jin sudah mendengar (al-Qur'an yang aku bacakan), lalu mereka (menyampaikan hal itu
kepada kaumnya dengan )
mengatakan: Sesungguhnya kami telah
mendengarkan Al-Qur’an yang susunan (ayatnya)
dan menakjubkan. Kitab yang memberi petunjuk
ke jalan yang benar, lalu kami
beriman kepadanya dan kami tidak sekali-kali
akan mempersekutukan sesuatu makhluk dengan
Tuhan kami.” (Al-Qur'an, Surah Jin, ayat 1-2)
Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersama sahabat sedang melaksanakan shalat
Subuh. Ketika itu beliau membaca Al-Qur'an, Surah arRahman, ayat 1-78. Dalam surah ar-Rahman ini
ada beberapa ayat yang bermaksud: “Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu
dustakan?”
Ketika ayat ini dibacakan, Jin yang hadir saat itu
langsung menjawabnya dengan kalimat: “Wahai
Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak
mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala
pujian hanya bagi-Mu yang telah memberikan
nikmat zahir dan batin kepada kami.”
Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa ia turut
menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Aku didatangi juru
dakwah dari kalangan Jin. Lalu kami pergi
bersamanya dan aku bacakan al-Qur'an kepada
mereka.”
Peristiwa ini terjadi di sebuah Masjid yang
terletak di Kampung Ma’ala, tidak jauh dari
perkuburan kaum Muslimin di kota Makkah. Kini Masjid itu bernama Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’ah atau juga Masjid al-Haras. Itu diperbaiki
kembali pada tahun1421 hijrah. Di sini Jin berbai’ah
atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk beriman kepada Allah
Subhanahu Wa Ta'ala dan al-Qur'an.
Ada riwayat mengatakan, di Masjid itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengislamkan Jin kafir. Ada juga menceritakan,
dekat Masjidil Haram ada tiang dinamakan tiang Jin. Ketika Masjidil Haram sedang dibangun,
tidak cukup tiang, kemudian Jin mendatangkan
tiang dari alam mereka. Mereka yang bisa jumpa
tiang ini mungkin bisa nampak alam Jin. Ada yang
khurafat memeluk tiang Jin ini ketika orang lain
wukuf di Arafah seharusnya untuk menjadi tuan
jin.
Masjid Jin menjadi monumen terpenting antara Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan Jin. Dijelaskan, Jin ketika itu
berencana menuju Tihamah. Namun, mereka
mendengar bacaan al-Qur'an. Mereka sangat
takjub mendengarnya dan kemudian berdialog
dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu menyatakan keimanan
mereka. Kemudian mereka menyampaikan hal
itu kepada bangsa Jin lain.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang membaca ayat al-Qur'an, ada beberapa bangsa Jin. Sebahagian riwayat
menyatakan jumlahnya ada sembilan Jin dan
sebagian lain menyebutkan tujuh Jin yang turut
mendengarkan bacaan al-Qur'an dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Kemudian salah satu dari bangsa Jin itu mengingatkan
temannya dan berkata:
“Diamlah,
perhatikan bacaannya.” Setelah itu mereka
kembali kepada kaum mereka untuk
mengingatkan pada jalan yang benar. Salah satu
dari Jin itu bernama Zauba’ah. Demikian
menurut riwayat Ibnu Masud.
Dalam kitab Fathul Bari, disebutkan, Bangsa Jin itu
berasal dari Nasibain, yaitu sebuah daerah yang
terletak di perbatasan antara Negeri Iraq dan Syria,
yaitu dekat wilayah Mosul.
Bangsa Jin terbagi dua yaitu Jin kafir dan Jin Islam
(mukmin). Bangsa Jin yang beriman ditempatkan di
syurga, sedangkan Jin kafir ditempatkan di Neraka.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggambarkan Bangsa Jin itu
terbagi tiga golongan yaitu yang bisa terbang di
udara, golongan ular dan anjing serta golongan
bermukim dan hidup berpindah-pindah.
(Hadits
shahih riwayat Ibnu Abi Dunya, dalam Maqasid
as-Syaitan)
Seperti manusia dan haiwan, Bangsa Jin juga makan dan
minum, menikah, beranak dan mati. Menurut
Syeikh Abdul Mun’im, Bangsa Jin penghuni dunia yang
hidup di tempat sepi dari manusia dan di padang
pasir.
Ada Bangsa Jin yang hidup di Pulau di tengah laut,
di tempat sampah dan bersama manusia. Jin
memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia,
seperti terbang, naik ke langit, mendengar apa
yang tidak bisa didengar manusia dan mereka
juga melihat apa yang tidak dapat dilihat
manusia.
Aku (Sang Kyai / editor) kemudian melatih Bangsa Jin itu mengobati dengan
sistem pengobatan ala thareqat, yang perpaduan
antara doa, dan penyatuan konsentrasi dan zikir.
Dan, Alhamdulillah mereka cepat bisa, semua sudah menjalankan zikir pondasi,
dan Ratu, Raja, Panglimanya mulai menjalankan
amaliyah puasa tingkatan thareqat, dan setiap
hari terjadi dialog denganku, tentunya dengan
cara medium, dengan memakai perantara
orang agar Bangsa Jin bisa bicara ala manusia.
“Pak Kyai…” kata Ratu Jin.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kok Pak Kyai baik, banyak yang memusuhi ya..?”
“Ya itu wajar, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam saja manusia paling
sempurna yang paling baik budi pekertinya saja,
banyak yang memusuhi kok, apalagi saya yang
orang biasa, tentunya banyak khilaf dan
gudangnya dosa.”
“Tapi, Pak Kyai kan tak salah, kok dimusuhi..?”
“Iya, tidak apa-spa Ratu, kadang kita itu oleh Allah Ta'ala mahu didekatkan padaNYA, tapi dilihat secara
amaliyah ibadah, saya mungkin terlalu sedikit,
jadi lantas Allah Ta'ala menurunkan cobaan dan ujian
berupa dimusuhi orang, lantas
Allah Ta'ala menganugerahkan kesabaran padaku,
maksudnya agar aku bisa bersabar, dan dari kesabaran itulah terpetik pahala yang
menjadikanku makin dekat dengan Allah Azza Wa Jalla, kerana 'Innallaha ma’asshabiriin', Allah itu beserta orang
yang sabar.”
“Tapi Pak Kyai, saya tak rela, Kyai yang tak
bersalah kok dimusuhi.”
“Ya, tidak rela itu hanya akan mengeruhkan hati,
kita harus rela, dan redha dengan ketentuan
Allah Azza Wa Jalla.”
“Tapi Pak Kyai, bukan hanya Pak Kyai saja yang
dibuat sakit,”
“Lalu siapa lagi yang dibuat sakit?”
“Ya anak Pak Kyai, ya Istri Pak Kyai, Istri Pak Kyai
itu ada pocongnya, ada Genderuwonya, makanya
dia suka marah-marah dan tidak menurut sama Pak Kyai, juga kandungan Istri Pak Kyai ditutup
dengan sesuatu, agar tak bisa punya anak lagi, Anak Pak Kyai itu sering muntah dan sering tidak
doyan/suka makan, kerana dalam perutnya diisi
beberapa paku. Apalagi kalau Pak Kyai tidak ada di
rumah, mereka akan mengirimkan santet ke Anak, Istri Pak Kyai, saya hairan dengan tingkah laku mereka, kan Pak Kyai tidak salah sama
mereka.”
“Wah, siapa yang berbuat sadis begitu Ratu?”
“Itu Askan…”
“Kok Askan lagi…?”
“Iya dia yang selalu memusuhi Pak Kyai, malah sangat rajin pergi ke dukun, jalan ke rumah Pak Kyai ditaburi kembang/bunga, sehingga tak ada jamaah
yang datang, kerana jalannya tertutup, dan tak kelihatan, juga orang yang mahu ke tempat Pak Kyai ada saja masalahnya, lalu lagi itu sumur Masjid tempat Pak Kyai mengambil air itu dimasuki Jin, untuk diperintah mengaduk aduk, supaya airnya jadi keruh/kotor.”
“Yang benar Ratu?” tanyaku hairan.
“Iya benar.” jawabnya mantap.
“Wah patutlah setelah kejadian soal ribut kemaren aku mengambil air di Masjid itu, kok air Masjid jadi keruh sekali, sampai berwarna kuning, ooo ternyata begitu. Padahal selama ini kan aku sudah 2 sampai 3 tahun mengambil air di sumur
Masjid itu, dan sumurnya tak pernah keruh, ini kok jadi keruh sekali hairan juga.”
“Iya itu sumurnya dimasuki Jin, untuk disuruh membuat sumurnya jadi keruh.”
“Begitu ya?”
“Malah Istrinya juga yang mengambil laptop milik Kyai yang hilang.”
“Hah….!” aku kaget sekali, “Yang benar Ratu… kalau tidak benar itu namanya memfitnah loh..” jelasku.
“Iya benar…”
Aku hairan, kerana sekitar tahun 2011 silam, laptopku hilang dalam rumah, aku bingung, lha, itu laptop alatku satu-satunya kalau mahu menulis banyak, menulis Kisah Sang Kyai kalau pakai handphone juga kan repot, kok hilang, waktu itu laptopku merek/brand BENQ ku beli di Arab Saudi dari keringatku mengumpulkan wang, dan dari berhutang, hehehe…,π kebetulan Kyai Cilik,
guruku, mahu pinjam, mahu dipakai mengetik Kitab Thareqat, kerana laptopku ada keyboard Bahasa Arabnya. Jadi lebih mempermudah untuk menulis bahasa Arab.
Sewaktu mahu dipinjam Istriku ditelpon, lalu laptop yang ku taruh di meja, ku datangi, dan kok tidak ada, yang ada cuma cas wayarnya, ku
tanya Istriku mungkin menyimpannya, ee malah Istriku tidak tahu.
Wah, apa mungkin dibawa orang?
Rasanya tidak mungkin, soalnya tak ada orang yang masuk rumah, daripada aku disalahkan Kyaiku, maka aku milih sowan/ziarah saja, dan bilang kalau
laptopku kayaknya hilang, “kayaknya” soalnya aku masih tidak percaya kalau hilang, isi lemari
semua ku keluarkan, juga tas laptop ku bongkar, mungkin saja terselip, tetap saja laptop tiak ada, yang membuat sedih kan banyak file di dalamnya, juga video waktu aku di Arab Saudi, kenangan-kenangan di
sana, tapi mahu bagaimana lagi barangnya hilang.
Dan guruku mengatakan, kalau yang mengambil laptopku ituadalah Istrinya Askan, benar-benar tidak percaya.
Apa juga perlunya dia mengambil laptopku, dia juga tidak bisa pakai laptop, juga apa motifnya?
Benar-benar bingung, tapi tetap saja Kyaiku menjelaskan yang
mengambil adalah Istrinya Askan, malah Kyai menyebut detail ciri-ciri Istrinya, Askan bagaimana, sampai jalannya bagaimana, sampai bagaimana mengambil laptopku dijelaskan sampai detail, tapi tetap saja aku tak percaya kalau
yang mengambil dia. Kerana sama sekali tidak masuk logikaku.
Aku masih ingat waktu itu, Kyai Cilik, guruku memanggilku, dan yang di tanyakan.
“Bagaimana laptopnya apa sudah di ambil?”
“Dimana Kyai?”
“Ya, di lemarinya Askan.”
“Wah, masak saya ke sana Kyai?”
“Ya iyalah, atau selidiki dulu, makai orang siapa
gitu.”
“Apa benar dia yang mengambil Kyai?”
“Ya masak aku bohong, aku kan gurumu..”
“Bukan tidak percaya Kyai, cuma tidak masuk akal saja, apa perlunya dia mengambil laptopku, wong
dia tidak bisa makainya.”
“Itu kan kerana iri saja padamu,”
“Yang diiri dari saya apa toh Kyai, saya tidak punya
apa-apa.”
“Ya iri-dengki kan dari syaitan, tidak perlu kamu kelihatan
punya apa-apa dulu baru iri..”
“Terus bagaimana ini Kyai..”
“Ya diambil, nanti keburu dijual sudah tidak bisa
diambil lagi.”
Wah, soal laptop ko malah mumet, sudahlah, ku
ikhlaskan saja, biar saja, semoga Allah Ta'ala memberi gantinya. Eee bertahun sudah berlalu, kok Ratu Jin mengingatkanku,
“Apa juga perlunya dia mengambil laptopku?” tanyaku pada Ratu Jin.
“Ya dia iri sama Kyai, Kyai kok bisa beli apa-apa, padahal tidak punya apa-apa, wong tidak punya apa-apa, kok bisa apa-apa.”
“Aneh..”
“Apa sekarang laptopnya masih berada dengan dia?”
“Sudah dijual Kyai…”
“Dijual dengan harga berapa?”
“Dijual seharga 10 juta,”
“Wah mahal amat, aku beli laptop waktu itu kan
sekitar 8-9 jutaan, kok jualnya mahal amat?”
“Ya dia bilang kepada yang membeli, kalau laptop itu
laptopnya orang pintar, jadi harganya mahal.”
“Walah..”
Tiba-tiba, Ratu Jin yang gerakannya lemah gemuai, tiba-tiba frontal…. dan membuat gerakan yang kayak perempuan ganjen…
“Kenapa Ratu..?”
“Aku bukan Ratu..”
“Lalu siapa?” tanyaku hairan.
“Aku adiknya Ratu..”
“Siapa namamu ?”
“Aku…… aku tak punya nama.”
“Mau ku beri nama?”
“Mau..”
“Baik ku beri nama….. Aisyah saja ya..”
“Ya… ya…. aku suka nama itu, namanya bagus…”
“Kalau ku panggil Aisyah, langsung kesini ya..”
“Iya siap..” jawabnya dengan lagak ganjen.
“Sekarang Nyai Ratunya mana?”
“Nyai Ratu sudah pulang..”
“Ooo Aisyah… mau belajar denganku?”
“Iya Kyai… Aisyah mau belajar sama kyai, Aisyah sudah lama ingin belajar sama Kyai.”
“Lhoh, memangnya sudah tahu soal Kyai sejak kapan.”
“Ya sudah lama sekali,”
“Yang benar?”
“Iya, di alam Jin, kan Kyai dibicarakan, kalau Kyai orang baik, orang yang pintar, hebat, jempol, jadi Aisyah jadi ingin belajar sama Kyai,
sekarang Aisyah kenal dan belajar sama Kyai, Aisyah senang sekali.”
“Kalau begitu yang sungguh-sungguh ya..!”
“Ya Kyai…, Aisyah akan berusaha sungguh
sungguh.”
————–
Esoknya Aisyah mulai ku ajari mengobati pasien,
dan sifat dan lagak kemayunya kental, dan
membuat keadaan pengobatan tidak terlihat
kaku dan penuh canda tawa, kalau ada Aisyah pasti ramai, pembawaannya menyenangkan,
kemajuan Aisyah dalam hal mengobati juga
termasuk pesat, dia juga mulai menjalankan
puasa thareqoh tingkat dasar 21 hari, saya juga
hairan Aisyah begitu cepat belajarnya, ku beri
ilmu trawang, juga cepat bisa.
“Pak kyai… top.. top… Pak Kyai..” katanya di sela-sela mengobati pasien.
“Top apa Nduk..?” tanyaku hairan, aku biasa
memanggilnya Nduk, walau secara umur Aisyah
sekitar 500 tahun, atau umur manusia sebesar
orang seumuran 25 tahun.
“Top… top… milik Pak Kyai..” jelas Aisyah sambil
membuat gambar kotak.
“Ooo laptop..” jawabku baru faham,
“Kenapa Nduk?”
“Top Pak Kyai diambil istrinya Askan.”
“Ya biarkanlah Nduk, nanti juga Pak Kyai dapat
gantinya.”
Aisyah nyaprut….
“Tidak apa-apa toh Nduk… kadang Allah itu mengambil
milik kita, kalau kita ikhlas akan diganti dengan
yang lebih baik..”
“Ya tapi dia jelek sekali perangainya, kenapa
beda dengan Pak Kyai.., Pak Kyai sama bangsa Jin
saja baik…”
“Ah biasa saja lah Nduk, mungkin dia tidak
mendalami ilmu batin,”
“Tapi Pak Kyai… sumur Masjid kenapa dia ceburi (dimasukkan) Jin untuk membuatnya keruh, itu kan untuk
wudhu orang banyak… “
“Ya tidak apa-apa…., coba tolong bisa tidak kamu
nanti nyebur ke sumur Masjid, dan Jin yang di
dalam ditangkap semua, jadi air sumurnya jadi
bening.”
“Iya.. iya Pak Kyai, Aisyah nanti malam akan nyebur sama prajurit nanti sumur Masjidnya
biar jadi bening, biar saya tangkap Jin yang
diperintah Askan.”
Memang esoknya air sumur Masjid mulai bening, dan
perlahan mulai bening sebagai mana sebelumnya.
————–
Setelah keberadaan Aisyah di Majlis, Majlis
makin ramai, juga banyak orang yang berobat,
dan banyak juga yang menanyakan barang yang
hilang, dan akhirnya ketemu, yang berobat juga
banyak yang disembuhkan, tentunya atas izin
Allah Azza Wa Jalla, Aisyah sudah mahir memakai ilmu
pengobatan dengan media doa dan energi zikir.
Dia juga rajin berzikir.
Namun tak jarang orang yang berpandangan
miring, dan menganggapku bersekutu dengan Jin,
sebab antipati dengan Jin, selalu beranggapan Jin
itu jelek, setidaknya bagiku para Jin itu muridku
dan bagiku ini amanah yang dipercayakan Allah Ta'ala padaku. Aku hanya berdoa pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar diberi
kekuatan menjaga amanah dari Allah, untuk
mendidik para Jin menjadi murid thareqatku.
“Pak Kyai…. anak Pak Kyai itu ada santetnya..”
kata Aisyah.
“Di mana Nduk?”
“Di perutnya ada pakunya.”
“Kok bisa.. siapa yang mengirim?”
“Askan yang mengirim Pak Kyai..”
“Kok Askan lagi..”
“Iya Pak Kyai… Istri Pak Kyai juga, saudara dan
anaknya saudara Pak Kyai juga, semua ada
santetnya, anak Pak Kyai sering muntah-muntah
kan, juga sering tak doyan (suka) makan, dia
menginginkan anak Pak Kyai mati.”
“Ah, jangan begitu Nduk, kalau tidak benar itu
namanya memfitnah, di alam manusia itu apa-apa
harus ada buktinya Nduk, tidak asal menuduh
begitu.”
“Tapi benar kok Pak Kyai, saya mengatakan apa
adanya, kalau anak saudara Pak Kyai itu juga
disantet dikirim kunti sama pocong, anak
saudara Pak Kyai itu pasti suka menggigit orang,
kerana di mulutnya ada Jinnya yang berbentuk
kera/beruk.”
“Kok ke anak saudara,Iistriku juga toh Aisyah?”
“Ya, soalnya itu persaingan dagang.”
“Wah jelek amat dia.”
“Terus nyantet banyak orang begitu apa
dilakukan sendiri, atau dia memakai jasa dukun?”
tanyaku iseng saja.
“Dia memakai jasa dukun dari Kajen,”
“Wah, bayar berapa sama dukunnya?”
“Kalau nyantet ke Pak Kyai dia bayar 150 juta,
kalau nyantet ke keluarga saudara Kyai dia bayar
60 juta.”
“Wah, tidak mungkin lah Nduk dia punya wang
sebanyak itu.”
“Punya Pak Kyai.”
“Wang dari mana?”
“Dari Istrinya jaga lilin.”
“Jaga lilin? Jualan lilin maksudnya.”
“Ah, masak Pak Kyai tidak mengerti?”
“Ya, tidak mengerti lah Nduk.”
“Itu Pak Kyai…… nanti Istrinya menjaga lilin di atas
baskom (baldi), yang ada airnya, nanti Suaminya keluar
memakai pakaian, lalu jadi b4ab1…”
“Ah, jangan sembarangan menuduh, dia kan juga Kyai, masak melakukan itu.”
“Iya Kyai, memang benar.”
Aku jadi ingat mimpiku, kalau pernah aku melihat
dalam mimpi, Istri Askan menunggui lilin, dan
Askan sendiri jadi b4ab1, lalu ku tembak pakai
senapang, tapi cuma mimpi. Lha, kok ini ada cerita
yang dibuat Aisyah…
“Nduk kalau di alam manusia itu, segala hal harus
ada buktinya, kalau tak ada namanya menfitnah,
jadi fitnah itu lebih kejam dari pembvnohan. Coba panggil Ratu menghadap padaku, masuk
pada Mbak Sun, biar ku tanya dia.”
Aisyah pun memanggil Ratu, dan Ratu segera
masuk ke tubuhnya Mbak Sun.
“Assalamu'alaikum….” Ratu mengucap salam
dengan lembut.
“Wa'alaikum salam.” jawabku.
“Ada apa kyai?”
“Ini mau menanyakan apa yang disampaikan
Aisyah, apa memang benar begitu?”
“Iya Kyai memang kenyataannya begitu, dia
sering mengambil wang di bank BRI Pekajangan,
dan kemaren pas ada orang yang mahu walimah perkahwinan juga yang mengambil dia, dengan memakai ilmu
hitam, menjadi b4ab1.”
“Tapi itu malah akan jadi fitnah saja kalau tidak
terbukti.”
“Iya Kyai, saya akan membantu menangkapkan,
kalau memang Kyai memerintahkan. Tetapi setiap
saya coba siagakan prajurit, seperti dia tahu. Dan
tak melakukan kegiatannya, jadi saya masih
mencari akal, sebenarnya sudah sering dia mahu
ketangkap orang kampung yang siaga, dan sudah
mencurigainya. Tetapi sepertinya ada yang
memberitahu, kalau ada yang mahu menangkapnya,
jadi b4ab1 ngepetnya dibatalkan.”
“Begini saja Ratu, tolong ditempatkan prajurit di
sekitar rumahnya. Ya, kalau dia keluar, nanti
ditangkap saja, kalau dia tahu tak keluar untuk
ngepet. Ya, setidaknya kan dia tidak ngepet, jadi tidak ada orang yang wangnya hilang.”
“Siap melaksanakan Kyai, akan saya perintahkan
beberapa pasukan untuk mengawasi rumahnya,
mohon izin dan do'a Kyai.”
“Ya Nyai, semoga bermanfaat untuk banyak
orang, beramal saja berbuat kebaikan yang kita
bisa, dan seikhlasnya nanti Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan
memberikan balasan yang berlipat ganda.”
“Insya Allah Kyai, saya dan anak buah saya mohon
selalu dibimbing.”
“Ya InsyaAllah.”
“Oh ya, Ratu kenal dengan Dewi Lanjar.”
“Kenal sekali Kyai, dia itu masih saudara beza Ayah denganku.”
“Lhoh, dia itu bukannya manusia yang masuk alam
gaib?”
“Bukan Kyai, dia masih saudara saya, dari bangsa Jin,”
“Oooo, jadi cerita yang beredar selama ini tak
benar?”
“Ya Kyai….”
“Lalu apa dia itu bukan perempuan cantik yang
suka memakai kerudung biru, kerana saya pernah
ke tempatnya dia, dia berwujud seperti itu.”
“Itu cuma penyamaran saja Kyai.”
“Lalu wujud aslinya apa?” tanyaku penasaran.
“Dia berwujud ular Kyai… sama juga dengan Nyai Blorong, dan Nyai Roro Kidul, semua berwujud asli
ular.”
“Lhoh, dalam cerita Nyai Roro Kidul itu dari
penjelmaan Putri Pajajaran, itu bagaimana?”
“Ah, itu hanya mitos dan cerita yang dibuat-buat
orang.”
“Apa Nyai ini kenal sama Nyai Roro Kidul?”
“Kenal akrab Kyai.”
“Kenal sebagai bawahan, apa sebagai sahabat?”
“Saya bersahabat dengannya Kyai,”
“Ooo….” aku terhairan-hairan, “Apa sering
kesana?”
“Sering Kyai..”
“Dia agamanya apa?”
“Dia masih Hindu.”
“Apa dia galak (garang)?”
“Tidak Kyai, dia baik, cuma kalau ada orang yang
minta yang tidak-tidak, dia biasanya galak.”
“Agamanya apa?”
“Hindu Kyai..”
“Kalau Nyai Blorong?”
“Nyai Blorong dulu Islam, lalu murtad.”
“Kalau Nyai Dewi Lanjar,”
“Dia Hindu Kyai.”
“Hhmm…. begitu…” aku tenger-tenger… dalam fikiranku, apa tidak ada yang mengislamkan ya,
bukannya Ulama’ dari dulu sampai sekarang kan
banyak.
“Apa Kyai berkehendak mengislamkannya?” tanya Ratu.
“Hhmm apa mungkin.”
“Kalau Kyai mahu menjadikan mereka murid, saya
akan senang hati menjadi Duta mereka, dan
mengajak mereka, atas izin Kyai..”
“Ya, saya sih silahkan saja, kalau Ratu mahu,”
“Ya, besok saya akan berangkat.”
——————
Baru bangun tidur, hari sudah siang, jam 12
siang, di Majlis sudah ramai tetamu, biasa Aisyah
lagi dikerubuti tetamu.
“Pak Kyai…. Pak Kyai baru bangun ya..” celoteh
aisyah.
“Iya Aisyah… kok Aisyah sudah di sini.”
“Iya, Pak Kyai soalnya di rumah sepi, tiddak ada Nyai Ratu, Nyai Ratu sedang pergi.”
“Kemana perginya?”
“Ke laut.”
“Ke Dewi Lanjar?”
“Iya.”
“Kapan kembalinya?”
“Kembalinya nanti malam minggu kalau ada zikir
bersama.”
“Hhmm,,, masih seminggu lagi kalau begitu..” kataku
sambil berlalu, mengambil air wudhu' untuk
melakukan sholat Zohor.
Di Majlis masih ramai… sementara waktu sudah
sore… Aisyah masih di kerubungi banyak orang,
dan aku mendekat.
“Kyai… Nyai Ratu sudah kembali..”
“Lhoh kok cepat, katanya hari Sabtu malam
minggu.”
“Iya sudah kembali..”
“Kalau begitu suruh menghadap padaku.”
“Baik Kyai..” sebentar Nyai Ratu sudah masuk ke tubuhnya Mbak Sun, dan mulai mengucap salam,
br />“Ya, Kyai saya menghadap..” kata Nyai dengan
suara lembut.
“Katanya Ratu dari tempat Dewi Lanjar,
bagaimana hasilnya?”
“Iya Kyai, saya sudah bicara banyak tentang Kyai
pada dia, dan dia memang sudah lama kenal sama Kyai, Kyai juga sudah pernah datang ke kerajaan dia.”
“Iya, lalu apa dia mau masuk Islam.”
“Alhamdulillah Kyai, dia mau masuk Islam, dan
minta izin untuk menjadi murid Kyai.”
“Ya, boleh saja… kalau dia mahu menerima syarat
yang ku berikan.”
“Dia ada di rumah saya Kyai, apa Kyai
berkehendak dia menghadap?”
“Boleh, suruh dia menghadap.”
Mbak sun mengejap sebentar pertanda sudah
ganti Jin yang masuk… Tetapi tetap diam, lalu
terdengar Aisyah menceloteh. “Kyai, Nyai Dewi
tak mahu bicara kalau ada orang banyak, beliau
malu Kyai…”
“Ooo ya sudah… ke sana saja..” kataku sambil ku
ajak ke ruangan lain. [HSZ]
To be Continued...
Peringatan; Dilarang Keras meng-copy, mem-posting, menyalin secara keseluruhan artikel ini. tanpa izin Admin Blog ini. Jika terjadi pelanggaran tersebut Anda akan ditindak mengikut Undang-Undang yang berlaku di negara Anda.
@Copyright by Cakrawala News
WARNING; It is forbidden to copy, post, copy this article entirely without Admin Blog permission. In case of any such violation you will be prosecuted following the applicable laws of your country.
@ Copyright by Cakrawala News
Untuk Anda yang belum baca siri ini yang sebelumnya,
Anda boleh baca disini : KISAH SUFI, SANG KYAI
Ilustrasi Image; Doc, Cakrawala News
#indonesia, misterinusantara, #KisahKyaiLentik KisahSangKyai, #KisahSufi, #SangKyai,
![KISAH SUFI, SANG KYAI [69] <img src="https://fazryan87.blogspot.com/gambar-tumbler-tuku.jpg" alt="KISAH SUFI, SANG KYAI [69]"/>](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBAUw83d1hNPtZRUywA87T2MSVkmi0fVZPTJ85zqtaKe86SpOwvrOR45nFAD12zDvRD3XqH978889ONlZqr2MrVKVhqKDMeKQy2e_ASfnVXoQPOKLc-Hmd2AoJ_tkR2TopGxGgIqudxpW7ERFAHyk197WSkDNqMCeJfsNmFalTiuBmUqfM1F8L44Sk68qr/w271-h400/2fdde411-4771-4ce6-863f-55a37fabf6b4%20(1).jpg)
No comments
Post a Comment