Syria Bangkit dan Wacana Menghidupkan Kembali Kereta Api Hijaz Warisan Sultan Abdul Hamid II
'Syria pasca konflik menunjukkan tanda kebangkitan. Salah satunya wacana menghidupkan kembali Kereta Api Hijaz, projek bersejarah Sultan Abdul Hamid II Rahimahullah'.
CAKRAWALA NEWS l Jika Ghāzzāh adalah sebuah portal untuk menuju era baru. Maka Syria mungkin adalah bentuk nyata dari benih era baru tersebut.
Hari ini, Syria sedang mencatat lembaran baharu. Mata wang baharu. Lambang negara baharu. Presiden baharu. Kebijakan dasar baharu.
Seperti sebuah kisah yang benar-benar berbeza dimana Masjid Umayyah legenda, tadinya kotor berdebu, kini negara hadir bahkan untuk menghidupkan halaqah tahfidz dan kajian-kajian ilmu.
Syria Pasca Konflik dan Pembinaan Semula Syria
Bank Dunia memperkirakan rekonstruksi (pembinaan semula) Negara Syria memerlukan dana sekitar US$216 billions.Walau bagaimanapun, bilangan warga Syria yang pulang ke negara mereka semakin meningkat.
Di Airport Damsyik, Anda akan melihat mata yang sembab kerana kerinduan, setelah belasan tahun benteng Bumi Syam itu hancur lebur. Prediksi / Ramalan ke depan, sekitar 14 juta warga Syria yang mengungsi akan kembali secara bertahap dalam dua tahun ke depan.
Peranan Turkiye dalam Dinamik Serantau Syria
Nah, Turki sebagai Negara Muslim yang dekat dengan Syria, ingin membantu Syria menata kembali kekuatannya.
Presiden Erdogan menyatakan komitmen dukungan pertahanan dan logistik bagi proses penstrukturan semula (restructuring) militer Syria yang baru dibentuk.
Turki juga membekalkan (supply) 900 megawatt (MW) letrik ke Syria pada awal 2026 dan membina saluran paip gas asli dari Kilis ke Aleppo.
Sejarah seperti berulang: eratnya hubungan Bangsa Turki dan Arab, untuk membebaskan Baitul Maqdis.

Kereta Api Hijaz: Projek Strategik Sultan Abdul Hamid II Rahimahullah.
Projek terbaru yang diperkirakan akan memicu (trigger / pencetus) dinamika geopolitik baru adalah gagasan Turki–Syria, untuk kembali menghidupkan gagasan Hijaz Railway; projek yang bercita-cita tinggi (ambisius) Khalifah Abdul Hamid II Rahimahullah. Anda pernah mendengarnya?
Projek kereta api Hijaz, adalah misi ke-Khalifahan yang dibangun antara tahun 1900 hingga 1908 ini memiliki tiga tujuan utama:
- 1. Memudahkan perjalanan haji dari bandar Istanbul dan Damsyik menuju kota suci Madinah Al-Munawwarah (sebelumnya memakan waktu 40 hari dengan unta, dikurangkan kepada hanya 3 hari sahaja)
- 2. Memperkuat posisi Sultan Abdul Hamid II sebagai Khalifah Umat Islam dengan menyatukan wilayah-wilayah Muslimin yang jauh.
- 3.Mempercepatkan mobilisasi (pengerahan) pasukan tentera Uthmaniyyah ke Jazirah Arab bagi melindungi Haramain daripada ancaman asing.
Kemarin (26 Januari 2026) Duta besar Turki untuk Syria Dr Nuh Yilmaz menulis di akaun media X nya, "penghidupan kembali Jalur Kereta Api Hijaz juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan tersebut."
Yakni di pertemuan antara Duta besar Turki dan Menteri Perhubungan Syria.
Jika benar-benar terjadi, maka rel (landasan) kereta api ini akan menghubungkan mulai dari Istanbul dan berakhir di Kota Madinah Al-Munawwarah!
Seorang aktivis dakwah di Syria, Badruddin Ad Dimasyqi menulis di laman X-nya,
"Sekalipun projek itu sepenuhnya tidak praktikal, tidak nyaman, tidak membawa manfaat, dan tidak menguntungkan, Kereta Api Hijaz tetap harus dibangun semata-mata kerana nilai sejarah dan budayanya, sebagai bentuk realisasi rencana Allahyarham Sultan Abdul Hamid Rahimahullah, meskipun baru terwujud lebih dari 120 tahun kemudian."
Aroma baru muncul dari bumi Syam.
Jika Anda perhatikan kisahnya baik-baik, bumi Syam yang bentengnya berada di Syria itu mulai memeluk lagi kepahlawanan Bangsa Arab, ketangkasan Bangsa Turki dan ketangguhan Bangsa Kurdi.
Bangsa-bangsa yang kata Presiden Turkiye, Recep Toyyib Erdogan merupakan elemen penting dalam wacana geopolitik kawasan dan isu Baitul Maqdis dan Pālësṭīne yang lebih luas.
Tetapi, Muslim Indonesia dan Malaysia pun bisa berperanan: terdidik, mendidik, dan menjadi mercusuar yang membersamai umat Islam sedunia menuju musim seminya.
Antara Sejarah, Identity, dan Masa Depan Umat
Apakah Indonesia dan Malaysia bisa berperanan lebih? Apakah jauhnya jarak kita dari Baitul Maqdis tidak bisa membuat kita punya saham besar seperti saudara-saudara kita orang Turki, Arab dan Kurdi?
Menariknya, sejarah senantiasa mengandungi miskalkulasi (salah perhitungan). Damsyik memang menjadi kunci, tapi di masa Khalifah Umar Al-Khattab Radhiallahu 'Anhu ada Muslimin Yaman yang menjadi otot pembebasan.
Bandar Kairo (Kaherah), Mesir memang dekat dengan Al-Aqsha, tapi pemimpinnya malah orang Kurdi. Apakah kelak, Indonesia dan Malaysia bisa menjadi tulang punggung kebangkitan umat?
Dan semua perubahan besar itu, mendekatkan kita perlahan-lahan menuju Masjid Al Aqsha yang merdeka. InsyaAllah! [HSZ]
📌 Catatan Editor: Artikel ini di adaptasi dan dengan izin di publish untuk website ini - dari gensaberilmu.com•Media Berteraskan Islam untuk Dakwah Sejarah Islamiyah dan Ke-Pālësṭīnean• "Learn History, Repeat Victory"•
Editor: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
Follow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: International, IslamicWorld, Featured, Islamic History









No comments:
Post a Comment