Beragam Polemik Isu Di P4lestine, Benarkah H4MAS itu Syiah?

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Beragam Polemik Isu Di P4lestine, Benarkah H4MAS itu Syiah?">
Barisan Br1gad3 Al-Q@$$4m sedang berjalan / Photo Istimewa

Beragam Polemik Isu Di P4lestine, Benarkah H4MAS itu Syiah?

  • Setiap kali Z10n15 Isr43l Laknatullahi 'Alaihim melakukan serangan kepada Bumi G@z4, tuduhan bahwa gerakan perlawanan Palestine H@m4$ sebagai kelompok Syiah kerap mencuat. Disematkan αΈ€4mās, sebagai Syiah umumnya terjadi kerana hubungannya dengan Iran atau kerana adanya kerja sama dengan Iran.

  • Untuk menjawab isu ini, ada berbagai variable yang bisa kita nilai untuk mengukur apakah αΈ€4mās dapat dikategorikan kelompok Syiah. Ketiganya, antara lain dari akar gerakan atau sejarah kemunculan αΈ€4mās, manhaj gerakannya, dan politiknya.
  • Gerakan Perjuangan Islam (ArabΨ­Ψ±ΩƒΨ© Ψ§Ω„Ω…Ω‚Ψ§ΩˆΩ…Ψ© Ψ§Ω„Ψ§Ψ³Ω„Ψ§Ω…ΩŠΨ©rumi: αΈ€arakat al-Muqāwamah al-ΚΎIslāmiyyah, "Gerakan Perjuangan Islam" disingkatkan kepada ArabΨ­Ω…Ψ§Ψ³rumi: αΈ€4mās, adalah sebuah pertubuhan politik dan ketenteraan Islam beraliran Ahlu al-Sunnah, yang mentadbir Genting Gaza terangkum dalam wilayah Palestine taklukan entiti Israel. Ia beribu pejabat di Bandar Gaza dan juga di Tebing Barat (West Bank). Bahkan, ibu pejabat di Tebing Barat lebih besar tetapi wilayah pengaruh lebih dikuasai pesaingnya, Fatah.[ms.wikipedia.org]

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Beragam Polemik Isu Di P4lestine, Benarkah H4MAS itu Syiah?">
Ilustrasi: Arab Saudi - Iran dan H4m4s

     FORTUNA MEDIA - KUALA LUMPUR  – Untuk membaca lebih jauh apakah benar αΈ€4mās adalah gerakan fahaman Syiah. Pertama, kita bisa melacak dari sejarah gerakan αΈ€4mās itu sendiri. Zayd Abu Amar, peneliti gerakan Palestine, dalam αΈ€4mās : A Historical and Political Background (1993), mengatakan akar sejarah dan background berdirinya αΈ€4mās  tidak lepas dari berdirinya Ikhwanul Muslimin (IM) di Palestine dan jihad Ulama Sunni Syekh Izzuddin Al Q@ss4m yang melawan penjajahan British dan gerakan Z10n15me hingga gugur syahid pada tahun 1935.

   Hubungan  Ikhwanul Muslimin (IM) dengan Palestine sendiri dimulai pada tahun 1935, ketika pendiri IM Syaikh Hasan al-Banna mengutus saudaranya Syaikh ‘Abd al-Rahman al-Banna, untuk menjalin hubungan dengan Ulama-Ulama Palestine. Pada tahun 1945, IM meresmikan cabang pertamanya di Baitul Maqdis. Dengan bantuan pusat IM di Mesir, Ikhwanul Muslimin melahirkan pelbagai cabang di kota-kota Palestine lainnya.

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Beragam Polemik Isu Di P4lestine, Benarkah H4MAS itu Syiah?">
Tuduh markas H4m4s alasan Isr43l untuk serang Hospital al-Syifa-fasiliti kesihatan terbesar di G4za Hospital al-Syifa

   Pada tahun 1947, cabang IM di Palestine bahkan telah berhasil menembus 25 buah. Cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di Palestine memiliki anggota sekitar 12.000 hingga 20.000, dan terpusat pada komando pusat IM di Kairo, Mesir.

   Syeikh Amin Al-Husaini, Ulama Sunni popular sekaligus Mufti Baitul Maqdis, merupakan pemimpin IM Palestine yang membantu menyebarkan pengaruh IM di Palestine. Philip Mattar dalam The Mufti of Jerusalem: Al-Hajj Amin al-Husayni and the Palestinian National Movement (1988), mengatakan Syekh Amin Al-Husaini memang memiliki pengaruh kuat di Palestine kerana keluarganya sudah memiliki kendali atas pos-pos politik dan agama di kota Baitul Maqdis sebelumnya. Syekh Amin Al-Husaini merupakan produk dari lingkungan politik dan ekonomi kekuasaan tradisional di Baitul Maqdis.

   Ibrahim Al Khatib, dalam The Muslim Brotherhood and Palestine (2012) menerangkan Syaikh Hasan al-Banna menggambarkan Palestine bagi Ikhwanul Muslimin (IM) bukan sekadar sebuah rumah bagi dunia Islam, melainkan sites spiritual dan tempat istimewa. Selain itu, Palestine juga bagian dari tubuh Umat Islam dan sebuah batu bata yang berharga dalam bangunan Ummah.

   Di sisi lain, Ikhwanul Muslimin (IM) berpendapat bahwa berdirinya negara Z10n15 Isr43l di Palestine akan menjadi basis penjajahan Barat dan menjadi duri beracun bagi negara-negara Arab. Oleh kerana itu, Syaikh Hasan al-Banna memperingatkan negara-negara Muslim dan Arab akan berada dalam bahaya dengan berdirinya negara Zionis.

   Pada tahun 1954, Syekh Yassin resmi menjadi anggota IM. Ia fokus pada pembinaan masyarakat dan generasi muda Muslim Palestine, Syekh Yassin mendirikan al-Mujamma’ al-Islami (Pusat Islam) dan University Islam Gaza sebagai wadah pengajaran Islam berpengaruh di Jalur G@zz4. Hingga kemudian ia membidani lahirnya αΈ€4mās pada tahun 1987.

   Dari sejarah di atas, literatur-literatur ilmiah yang ada, tidak ada yang menyebut akar sejarah H@m45 dari kelompok Syiah atau diwarnai gerakan Syiah.Yang terjadi adalah cikal bakal αΈ€4mās tidak lepas dari gerakan-gerakan Sunni dan para Ulama Ahlussunah di Tanah Bumi Palestine.

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Beragam Polemik Isu Di P4lestine, Benarkah H4MAS itu Syiah?">

     Manhaj αΈ€4mās

   Kedua, tinjauan Manhaj. gerakan αΈ€4mās adalah gerakan yang bersandarkan mazhab Ahlussunah Wal Jama'ah.
Para Ulama-Ulama 
αΈ€4mās adalah Ulama bermazhab Syafi'i. Ini berbeza dengan Hezbollah Lebanon yang berdiri atas pilar keyakinan Syiah dan konsep Wilayat al-Faqih. Imam Khomeini mendakwahkan teori Wilayat al-Faqih, sebuah konsep elitis yang terkait dengan supremasi tokoh senior Syiah.

   Sedangkah αΈ€4mās tidak menganut ideologi ini. αΈ€4mās menolak gagasan Wilayatul Faqih ala Iran. Dalam piagamnya, gerakan αΈ€4mās  mengidentifikasi dirinya sebagai sayap Ikhwanul Muslimin (IM) di Palestine. (Lihat: Joshua L. Gleis and Benedetta Bert. Hezbollah and αΈ€4mās: A Comparative Study, 2012).

   Hal ini juga bisa dilihat dalam perselisihan antara IM di Palestine dan kelompok Jihad Islam terhadap Revolusi Iran, yang mulai dikritik oleh IM setelah pecahnya perang Iran-Irak. Sebaliknya, Jihad Islam menganggap Ayatollah Khomeini sebagai sumber inspirasi ideologi yang penting (Ziad Abu Amr, 1993). Meski begitu Jihad Islam pun tetap tidak bisa dianggap kelompok Syiah, kerana mazhab mereka tetap Ahlussunah Wal Jama'ah. Adapun kedekatannya kepada Iran hanyalah pada aspek geo-politik.

   Jika memang gerakan αΈ€4mās itu, menganut fahaman Syiah, maka seharusnya publik secara luas mendapati pemandangan majoriti ritual Syiah di G@zz4 atau berdirinya menjamurnya (mold it) Husainiyat-Husainiyat di G@z4 layaknya di Iran.

   Namun, yang terjadi adalah masyarakat G@z4 majoriti bermanhaj Ahlussunah wal Jama'ah dengan amalan Mazhab Syafi'i. Tidak ada juga perayaan-perayaan Syiah tiap tahun di G@z4. Amalan-amalan ibadah masyarakat G@z4 sama seperti warga Indonesia pada umumnya yang bermazhab Syafi'i. Bahkan, kediaman Ketua Biro Politik αΈ€4mās di Jalur G@za, rutin menjadi tempat kegiatan sholawatan masyarakat G@za.

    Kritik αΈ€4mās kepada Regime Bashar Assad

   Ketiga, sikap politik gerakan αΈ€4māsαΈ€4mās tidak melulu satu suara dengan Iran. Hal ini bisa dilihat dari sikap αΈ€4mās terhadap Revolusi Syria. Alih-alih bergabung dengan koalisi Syiah global untuk mendukung Bashar Assad, αΈ€4mās sangat tegas melakukan kritik terhadap Regime Bashar Assad. Bahkan dalam pidatonya di Kairo pada 2012, Perdana Menteri αΈ€4mās Ismail Haniyah menyampaikan rasa salutnya kepada rakyat Syria yang heroik yang memperjuangkan kebebasan, demokrasi, dan reformasi.

   Wakil Ketua Biro Politik αΈ€4mās, Mousa Abu Marzouq juga mengatakan posisi αΈ€4mās tidak mendukung regime Bashar Assad dalam tindak-tanduk menghadapi demonstrasi warga Syria. Mousa Abu Marzouq mengatakan αΈ€4mās menghormati keinginan rakyat Syria. Pernyataan tersebut mencerminkan perpecahan yang semakin mendalam antara αΈ€4mās dan Bashar Assad hingga akhirnya αΈ€4mās ditendang keluar dari Damaskus (Damsyik).

   Syaikh Dr. Abdurrahman Yusuf al-Jamal, Rois Ma’had Darul Quranul Karim was Sunnah G@za, mengatakan dulu αΈ€4mās memang didukung oleh Bashar Assad. Sebab saat itu tidak ada Negara Arab yang mahu menerima perjungan αΈ€4mās. Tapi sekarang regime Bashar Assad membantai rakyatnya sendiri. Maka Bangsa Palestine tidak bisa bekerjasama dalam kebatilan. “Sikap kami sekarang jelas mendukung jihad melawan regime Syiah Nushairiyah, Bashar Assad. Di Palestine, khususnya setiap Juma'at kami menggalang dana untuk rakyat Syria dan perjuangan mereka,” jelasnya saat diwawancara Jurnalis Islam Bersatu (Lihat: Bashar Assad Lebih Kejam Dari Z10on15 Isr43l,Hidayatullah.com, 2013).

    Syekh Dr. Abdurrahman Yusuf al-Jamal, juga menuturkan sebelum revolusi,  Pemimpin αΈ€4mās, Khalid Misy’al telah menyampaikan nasihatnya kepada Bashar Assad untuk memberikan kebebasan dan perubahan kepada rakyat Syria. Kerana waktu itu rakyat Syria tidak meminta Bashar Assa turun dari jabatan, mereka hanya ingin kebebasan dan keadilan.

    Bahkan komentar terbaru juru bicara Brigade Izzudin Al Qassam, Ab0e Oeba1dah, secara tegas menolak klaim Iran bahwa Operasi Taufan Al Aqsha adalah balas dendam atas tewasnya Jendral Iran Qassem Solemaini yang semakin menegaskan bahwa αΈ€4mās bukanlah proksi Iran.

   Oleh kerana itu, tuduhan bahwa αΈ€4mās itu menganut fahaman Syiah sebenarnya terjadi secara intens hanya dalam bebera tahun terakhir kerana semakin populernya αΈ€4mās mengalahkan Negara-negara Arab yang seharusnya lebih banyak berbuat menghentikan genocide penjajah Isr43l Laknatullahi 'Alaihim.

   Kalau tuduhan gerakan αΈ€4mās itu Syiah itu dilandasi kerana mereka punya hubungan dengan Iran, itu tidak bisa dijadikan hujjah untuk menuding H@m45 itu Syiah kerana, αΈ€4mās itu menerima bantuan manapun tanpa syarat.

   Dalam hubungan internasioal, hubungan sebuah kelompok dengan negara lain, tidak otomatik, maka dia menjadi kaki tangan negara tersebut. Kita harus melihat apakah itu aliansi ideologi atau aliansi taktikal. Yang terjadi adalah aliansi taktikal, kerana Negara-negara Arab sendiri enggan membantu αΈ€4mās secara strategik dan lebih suka menjalin aliansi dengan Amarika Syarikat (AS) dan Isr43l yang menjajah Palestine.

    Hubungan Kerajaan Arab Saudi, Iran, dan Regime Bashar Assad

   Kalau berhubungan dengan Iran, maka αΈ€4mās dapat dikategorikan menganut fahaman Syiah. Maka bagaimana dengan hubungan Kerajaan Arab Saudi dan Iran yang semakin intim dalam setahun terakhir. Bahkan Pangeran Muhammad Bin Salman menjamu khusus Presiden Iran Ibrahim Raisi di Riyadh, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi soal Palestine. Dalam pertemuan itu, Mohammad Bin Salman mengatakan ingin memperkuat hubungan dengan Iran dalam bidang ekonomi dan pertahanan.

   Tahun lalu, Rohullah Latifi, juru bicara Kementerian Perdagangan dan Industri Iran, mengatakan kedua negara telah mempersiapkan landasan bagi hubungan ekonomi yang baik antara Teheran dan Riyadh. Selama tiga tahun terakhir ekspor baja Iran ke Arab Saudi menyentuh angka $14 juta.

   Farzad Piltan, Direktur Asia Barat di Organisasi Promosi Perdagangan Iran, mengatakan Teheran mengincar perdagangan senilai $1 billion dengan Arab Saudi, yang menurutnya dapat diperluas hingga $2 billion dengan fokus pada baja, kunyit, karpet, simen, dan buah-buahan kering (Lihat: Iran, Saudi Arabia resume bilateral trade as part of rapprochement, Anadolu Agency, 2023)

   Menariknya pada April 2023, Arab Saudi memulai upaya di Timur Tengah untuk menormalisasi regime Syria di Timur Tengah yang berlumuran atas pembunuhan warga Sunni di Syria. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bertemu dengan Bashar al-Assad di ibu kota Syria, Damaskus.

   Hanya satu bulan kemudian, Kesatuan Liga Arab menerima kembali salah satu penjahat perang paling terkenal di dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 2012. Anehnya, yang mengkritik Bashar Assad kembali ke Liga Arab justru Negara Qatar, yang diblock Arab Saudi selama empat tahun dengan dalih dekat dengan Iran. Qatar mengatakan Bashar Assad belum memenuhi syarat untuk kembali ke Kesatuan Liga Arab dan menegaskan Doha tidak bisa mentolerir penjahat perang dan tidak bisa melihat rakyat Syiria yang masih menderita (Lihat: Middle East Monitor, Qatar: ‘Our stance on Assad regime has not changed’, 2023).

   Berkat restu Kerajaan Arab Saudi, Bashar Assad justru diberikan karpet merah oleh Arab Saudi untuk hadir dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Arab - China pada Mei Lalu di Riyadh dan regim Bashar Assad pada Disember 2023 resmi menunjuk Duta Besarnya untuk Kerajaan Arab Saudi.

   Pertanyaannya kemudian: "Apakah Kerajaan Arab Saudi juga bisa kita identifikasi sebagai penganut fahaman Syiah?"

Adaptasi dari artikel by *Pizaro Gozali Idrus via, Gaza Media, Palestine

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute. Doctoral Candidate
 pada bidang Policy Research and International Studies, Universiti Sains Malaysia-USM.

Ilustrasi Image; Doc, Romy Mantovani 

 #TAGS : #Topstories, #News & #Politics, #TelAviv, #Israel, #Gaza, #Palestine, #Beirut, #Lebanon

   RELATED POST,

"In 100 Days Genocide In G@za" Mengenang Syahidnya Syaikh Saleh Al-Arouri

Ketika peristiwa ini terjadi, akankah segala sesuatunya berubah dan berubah selamanya?

No comments

Cakrawala News Logo