Bagaimana Jika Selama Ini Peta Dunia yang Kita Lihat Tak Seperti Bentuk Bumi yang Sebenarnya?
Ketika Peta Mengubah Cara Kita Melihat Dunia
CAKRAWALA NEWS l Selama bertahun-tahun, kita mungkin mengira peta dunia hanyalah sebuah gambar sederhana yang menunjukkan posisi negara dan benua. Namun, ternyata ada cerita yang jauh lebih menarik di baliknya.
Ukuran Benua Afrika, Pulau Greenland (Greenland), Benua Eropah, Benua Asia dan benua lainnya yang kita lihat di layar atau buku pelajaran tidak selalu menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi. Sebuah peta dapat mengubah persepsi kita tentang dunia tanpa kita menyadarinya. Dan kini, setelah PBB mengangkat kembali persoalan tersebut melalui resolusi “Correct the Map”, pertanyaan besarnya muncul: seperti apakah dunia, jika kita melihatnya dengan ukuran yang lebih mendekati kenyataan?
1. Pernahkah kita bertanya mengapa Greenland terlihat hampir sebesar Benua Afrika pada peta dunia yang selama ini kita kenal? Atau mengapa negara-negara yang berada jauh di utara tampak begitu raksasa?
Pertanyaan yang selama ini mungkin dianggap sepele itu tiba-tiba kembali menjadi pembicaraan dunia setelah sebuah resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) atau PBB bertajuk “Correct the Map” diadopsi pada 4 September 2026.
Resolusi tersebut didukung 164 negara, sementara Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak dan enam negara memilih abstain. Inisiatif ini dipimpin oleh Negara Togo dengan dukungan African Union.
2. Lalu, apa sebenarnya yang sedang “dikoreksi”?
Bukan bentuk bumi. Bukan pula garis batas negara.
Yang menjadi persoalan adalah cara kita menggambarkan bumi yang bulat ke dalam sebuah bidang datar.
PBB mendorong penggunaan map projection (unjuran peta) yang lebih mampu menunjukkan perbandingan luas wilayah secara proporsional, termasuk Equal Earth, sebuah projection equal-area yang dikembangkan pada 2018. Resolusi tersebut juga tidak melarang penggunaan Mercator, terutama untuk keperluan navigasi yang memang menjadi tujuan awal projection tersebut.
BACA JUGA:
BUKAN HANYA INDONESIA, MADINAH JUGA DIKELILINGI JEJAK GUNUNG BERAPI PURBA
KETIKA GUNUNG KRAKATAU MELETUS: APA YANG TERJADI DI DUNIA ISLAM PADA 1883?
Trump Klaim Selat Hormuz Milik AS, Iran Balas dengan California: Ketika Peta Menjadi Senjata Diplomasi
3. Di sinilah persoalan peta menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar gambar di buku pelajaran.
Selama ratusan tahun, manusia telah terbiasa melihat dunia melalui berbagai jenis projection. Salah satu yang paling terkenal adalah Projection Mercator, yang diperkenalkan oleh Cartographer Gerardus Mercator pada tahun1569.
Mercator dirancang untuk keperluan navigasi. Salah satu keunggulannya adalah membantu pelaut mempertahankan arah kompas pada peta.
Masalahnya, ada konsekuensi matematik yang tidak bisa dihindari.
Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar distorsi (distortion/herotan) luas yang muncul pada peta tersebut.
4. Contoh paling terkenal tentu saja adalah Greenland.
Pada peta Mercator, Greenland terlihat sangat besar, bahkan secara visual tampak mendekati ukuran Afrika.
Namun kenyataannya sangat berbeza.
Afrika memiliki luas sekitar 14 kali Greenland.
Benua Afrika memiliki luas daratan lebih dari 30 juta kilometer persegi, sedangkan Pulau Greenland sekitar 2,2 juta kilometer persegi. Jadi jika selama ini mata kita merasa keduanya hampir seukuran, masalahnya bukan pada bumi.
Masalahnya ada pada proyeksinya (Unjuran).
5. Dan bukan hanya Greenland.
Wilayah-wilayah yang berada dekat kutub, termasuk bagian utara Amerika Utara, Eropah dan Rusia, juga mengalami pembesaran visual dalam projection Mercator.
Sebaliknya, wilayah yang berada lebih dekat dengan khatulistiwa tampak relatif lebih kecil.
Itulah sebabnya sebuah peta dunia tidak pernah sesederhana “gambar bumi”.
Setiap peta sebenarnya adalah hasil dari pilihan matematik tentang apa yang ingin dipertahankan dan apa yang harus dikorbankan.
6. Di sinilah perdebatan tentang peta mulai memasuki wilayah yang lebih besar: persepsi manusia terhadap dunia.
Selama puluhan tahun, anak-anak belajar geografi melalui peta. Media menggunakan peta untuk menjelaskan konflik dan ekonomi. Buku pelajaran menggunakannya untuk memperkenalkan benua dan negara.
Artinya, peta bukan hanya alat navigasi.
Peta juga membentuk cara manusia membayangkan ukuran, jarak, posisi dan pentingnya suatu wilayah.
7. Kerana itu, campaign “Correct the Map” yang dipimpin Togo dan didukung African Union tidak hanya berbicara mengenai 'mathematical cartography'.
Para pendukungnya melihat persoalan ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki representasi Afrika dalam pendidikan, media, institusi internasional dan platform digital.
Resolusi PBB sendiri menyatakan bahwa distorsi semacam ini dapat berkontribusi terhadap apa yang disebut sebagai “symbolic minimization” terhadap Afrika.
8. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menyampaikan gagasan yang kemudian menjadi salah satu pesan utama campaign tersebut:
“Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di baliknya terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar:
Seberapa besar cara kita menggambarkan dunia ikut menentukan cara kita memahami dunia?
9. Peta baru seperti Equal Earth mencoba menjawab persoalan tersebut dengan pendekatan berbeza.
Projection Equal Earth dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih mendekati kenyataan di bumi.
Hasilnya cukup mengejutkan bagi orang yang sudah puluhan tahun terbiasa melihat peta Mercator.
Afrika tampak jauh lebih besar.
Amerika Selatan tampak lebih proporsional.
Sementara wilayah-wilayah di sekitar kutub tidak lagi terlihat sebesar yang biasa kita lihat pada peta Mercator.
10. Tetapi ada satu hal penting yang harus difahami.
Tidak ada peta datar yang mampu menggambarkan bumi secara sempurna.
Bumi berbentuk hampir bulat, sedangkan peta berada pada permukaan datar. Ketika sesuatu yang bulat dipaksa menjadi datar, pasti akan ada bagian yang mengalami perubahan bentuk, jarak, arah atau luas.
Kerana itu, tidak ada satu projection yang menjadi “peta paling benar” untuk semua keperluan.
11. Mercator tetap sangat berguna untuk tujuan tertentu, terutama navigasi.
Equal Earth memiliki keunggulan ketika tujuan utamanya adalah membandingkan luas wilayah.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sesederhana:
“Peta lama salah, peta baru benar.”
Yang lebih tepat adalah:
“Setiap peta memiliki tujuan, kelebihan dan keterbatasannya.”
Dan kita perlu memilih projection yang sesuai dengan tujuan tersebut.
12. Namun keputusan PBB pada September 2026 tetap memiliki arti simbolis yang besar.
Untuk pertama kalinya, isu tentang bagaimana dunia digambarkan secara visual mendapatkan perhatian diplomatik internasional yang sangat luas.
Resolusi itu mendorong pemerintah, sekolah, organisasi internasional, penerbit dan perusahaan teknologi untuk mempertimbangkan penggunaan projection yang lebih akurat dalam menggambarkan perbandingan luas wilayah.
13. Jadi, apakah selama ini kita melihat dunia yang “salah”?
Tidak sepenuhnya.
Kita melihat dunia melalui salah satu cara untuk memproyeksikan bumi.
Tetapi kejadian ini memberi kita pelajaran penting: sesuatu yang kita lihat setiap hari belum tentu kita fahami secara kritikal.
Bahkan sebuah gambar yang tergantung di dinding kelas selama bertahun-tahun ternyata dapat menyimpan sejarah matematik, teknologi, navigasi, politik dan persepsi manusia terhadap dunia.
14. Mungkin inilah bagian paling menarik dari kisah “Correct the Map”.
Yang sedang dikoreksi bukan hanya sebuah peta.
Yang sedang diajak untuk kita koreksi adalah cara kita melihat dunia.
Afrika memang tidak tiba-tiba menjadi lebih besar.
Greenland tidak tiba-tiba mengecil.
Asia, Amerika Selatan dan wilayah lainnya juga tidak berubah ukuran.
Buminya tetap sama. Yang berubah adalah cara manusia menggambarkannya.
Dan mungkin, setelah melihat perbandingan Equal Earth dengan Mercator, kita akan mulai bertanya:
Jika selama ratusan tahun kita bisa salah memahami ukuran dunia hanya kerana sebuah projectio/unjuran peta, berapa banyak hal lain yang selama ini kita anggap benar hanya kerana kita terbiasa melihatnya dengan cara yang sama?
Itulah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah peta.
Kerana kadang-kadang, untuk melihat dunia dengan lebih jelas, kita harus berani mengubah cara kita memandangnya. [HSZ]
Referensi:
1. Laporan Resmi PBB: General Assembly Adopts Text to 'Correct the Map'.
2. Liputan BBC News: UN votes to adopt new world map to reflect Africa's true size.
3. Liputan Al Jazeera: UN votes to adopt new world map that reflects Africa's true size.
πCatatan editorial:
Aku (penulis) sengaja mengganti naratif “peta lama adalah warisan penjajahan yang sengaja mengecilkan Afrika” menjadi lebih presisi/tepat. Fakta sejarahnya adalah Mercator dibuat untuk navigasi, sedangkan isu tentang dampak budaya dan geopolitik dari distorsi (Malay: herotan) luas memang menjadi bagian penting dari campaign Correct the Map. Dengan begitu artikel Helmy Network terasa kritis dan geopolitik, tetapi tidak mudah dipatahkan oleh pembaca yang faham cartography (pemetaan). PBB sendiri menegaskan bahwa resolusinya bersifat dorongan, bukan kewajiban hukum untuk mengganti seluruh peta dunia.
πCatatan Editor:
Artikel ini diadaptasi dan disusun ulang dari materi yang dipublikasikan oleh Gen Saladin Channel, dengan penyuntingan, penyesuaian bahasa, dan pengembangan editorial untuk keperluan publikasi di Helmy Network Geopolitical Insight.
Sumber asli: Gen Saladin Channel
“Learn History, Repeat Victory”
Author: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
TAGS: Correct the Map,Equal Earth,Peta Dunia, Proyeksi Mercator, Greenland, Benua Afrika, Distorsi Peta Dunia, Kartografi Dunia, Geopolitik Afrika, Geopolitik Global, Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB 2026, Politik Internasional, Sejarah Peta Dunia, Ukuran Negara di Peta
Peta, Equal Earth, Dunia Multipolar, Asia Afrika, Global South, Correct the World Map,











No comments
Post a Comment