KETIKA GUNUNG KRAKATAU MELETUS: APA YANG TERJADI DI DUNIA ISLAM PADA 1883?
KETIKA GUNUNG KRAKATAU MELETUS: APA YANG TERJADI DI DUNIA ISLAM PADA 1883?
Krakatau 1883: Ketika Bencana Alam Mengguncang Nusantara di Tengah Gejolak Dunia Islam
Ketika Gunung Krakatau meletus dahsyat pada 26–27 OGOS 1883, dunia bukan sedang berada dalam keadaan tenang. Gugusan Nusantara masih berada di bawah kekuasaan kolonial, sementara dunia Islam menghadapi tekanan imperialisme dan perubahan besar dalam politik serta pemikiran. Di tengah suasana itu, puluhan ribu manusia menjadi korban tsunami Krakatau, sementara sejumlah tokoh yang kelak menentukan sejarah Indonesia masih berusia sangat muda-belia. Peristiwa alam tersebut ternyata berlangsung pada sebuah zaman yang penuh pergolakan.CAKRAWALA NEWS l 26–27 OGOS 1883 menjadi salah satu tarikh paling mengerikan dalam sejarah kawasan Gugusan Nusantara. Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dengan dahsyat, menghancurkan wilayah di sekitarnya dan mencetuskan tsunami besar yang menewaskan puluhan ribu manusia.
Namun, ada satu pertanyaan menarik yang jarang dibahas: ketika Gunung Krakatau meletus, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia Islam, dan siapa saja tokoh penting yang hidup pada masa itu?
1. Krakatau 1883 Bukan Sekadar Cerita dari Masa Lampau
Ketika aktiviti Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat, nama Krakatau kembali memenuhi pemberitaan. Sekolah, media sosial, video letusan, hingga khabar tentang abu vulkanik membuat masyarakat kembali mengingat betapa dahsyatnya kekuatan gunung api di Selat Sunda, Pulau Jawa, Indonesia.
Tetapi Gunung Krakatau yang meletus pada 1883 jauh lebih dahsyat.
Letusan tersebut berlangsung pada 26–27 OGOS 1883 dan menjadi salah satu bencana alam paling terkenal dalam sejarah modern. Suara ledakannya bahkan dilaporkan terdengar sangat jauh dari pusat letupan.
Yang lebih mengerikan bukan hanya material vulkaniknya, melainkan tsunami besar yang menyapu pesisir Wilayah Banten, Jawa Barat dan Lampung, Sumatera Selatan.
2. Puluhan Ribu Orang Menjadi Korban
Catatan sejarah yang umum digunakan menyebut sekitar 36.000 lebih manusia meninggal dunia akibat rangkaian letupan dan tsunami Gunung Krakatau.
Sebagian besar korban bukan meninggal kerana lava, melainkan kerana gelombang tsunami yang menghantam kawasan pesisir Pulau Jawa hingga Pulau Sumatera.
Di sejumlah tempat, gelombang mencapai puluhan meter. Permukiman, pelabuhan, dan wilayah pesisir yang sebelumnya ramai penduduk mendadak berubah menjadi kawasan kehancuran.
Bencana itu kemudian dikenang bukan hanya di Nusantara, tetapi juga oleh dunia internasional.
3. Tetapi Para Tokoh Pergerakan Indonesia Saat Itu Masih Sangat Muda
Menariknya, ketika Gunung Krakatau meletus, sejumlah tokoh yang kelak mempunyai pengaruh besar dalam sejarah Indonesia sebenarnya masih berusia sangat muda-belia.
KH Hasyim Asy'ari saat itu masih sekitar usia 12 tahun. (kemudian pendiri NGO-Organisasi Nahdhatul Ulama)
KH Ahmad Dahlan sekitar usia 15 tahun. (kemudian pendiri NGO-Organisasi Muhammadiyah)
Sementara Syaikh Kholil Bangkalan sudah berusia sekitar 48 tahun dan telah menjadi salah satu Ulama penting di lingkungan pesantren Madura.
RA Kartini bahkan baru berusia sekitar empat tahun.
Sedangkan HOS Tjokroaminoto baru sekitar satu tahun.(HOS: Haji Omar Said)
Artinya, ketika Gunung Krakatau mengguncang Selat Sunda, generasi yang kelak ikut membentuk perjalanan Bangsa Indonesia masih berada pada tahap awal kehidupan mereka.
4. Di Dunia Keilmuan Islam, Ada Ulama Besar yang Sudah Mendunia
Pada masa yang sama, dunia Islam telah memiliki jaringan Ulama yang melampaui batas wilayah dan kerajaan.
Salah satu tokoh besar tersebut adalah Syaikh Nawawi al-Bantani, Uama asal Banten yang bermukim dan mengajar di Kota Makkah Al-Mukarramah.
Beliau sudah menjadi Ulama yang sangat berpengaruh dan karya-karyanya dipelajari di berbagai wilayah dunia Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan intelektual antara Nusantara dan pusat-pusat keilmuan Islam sebenarnya sudah berlangsung kuat jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara.
5. Dunia Islam Sedang Menghadapi Tekanan Kolonialisme
Tahun 1883 juga bukan tahun yang tenang bagi dunia Islam.
Pada akhir abad ke-19, berbagai wilayah Muslim berada di bawah tekanan atau pengaruh kuat kekuatan Eropah. Imperialisme berkembang, sementara kekuatan politik tradisional di banyak wilayah Muslim mengalami tekanan.
Dalam situasi tersebut muncul gagasan pembaruan dan persatuan umat yang kemudian diasosiasikan dengan tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh.
Gagasan mereka tidak identik satu sama lain, tetapi keduanya menjadi bagian penting dari dinamika pemikiran Islam moden yang membahas pendidikan, kemunduran umat, persatuan, serta tantangan imperialisme Barat.
6. Lalu, Apakah Kekhalifahan Utsmaniyah Masih Berdiri?
Ya.
Pada tahun 1883, Kekhalifahan Utsmaniyah masih berdiri.
Pemimpinnya adalah Sultan Abdul Hamid II, yang naik takhta pada 1876 dan kemudian dikenal kerana politiknya yang menekankan solidariti Umat Islam serta penguatan posisi Khilafah Utsmaniyah di tengah tekanan kekuatan Eropah.
Pada masa inilah gagasan mengenai hubungan Umat Islam lintas wilayah memperoleh dimensi politik yang semakin kuat.
Bagi sebagian Muslim di Wilayah Nusantara, keberadaan Khilafah Utsmaniyah juga memiliki makna simbolis sebagai representasi kekuatan politik Islam yang masih bertahan di tengah ekspansi kolonial Eropah.
7. Nusantara Tidak Terisolasi dari Dunia Islam
Ada anggapan bahwa masyarakat Wilayah Nusantara pada abad ke-19 hidup dalam dunia yang sepenuhnya terpisah dari perkembangan global.
Pandangan tersebut terlalu sederhana.
Jaringan perdagangan, perjalanan haji, pendidikan Ulama, dan hubungan intelektual telah menghubungkan Nusantara dengan Makkah, Madinah, Kairo, Istanbul, dan berbagai pusat dunia Islam lainnya.
Kerana itu, peristiwa besar yang terjadi di dunia internasional dapat memengaruhi cara sebagian masyarakat Muslim Nusantara melihat keadaan mereka sendiri.
Krakatau pun tidak berdiri sendirian sebagai sebuah peristiwa alam. Ia terjadi dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial, politik, keagamaan, dan kolonial.
8. Ketika Bencana Alam Bertemu dengan Keyakinan Masyarakat
Bencana sebesar Gunubg Krakatau tentu menimbulkan berbagai penafsiran di tengah masyarakat.
Sebagian Ulama dan Masyarakat Muslim pada masa itu dapat melihat bencana melalui perspektif keagamaan, termasuk sebagai pengingat agar manusia melakukan introspeksi dan memperbaiki kehidupan moral.
Namun, penting membezakan antara keyakinan atau tafsir masyarakat pada masa itu dengan fakta ilmiah mengenai penyebab letusan.
Gunung Krakatau merupakan fenomena vulkanik yang memiliki penjelasan geologis. Sementara makna keagamaan yang diberikan masyarakat merupakan bagian dari sejarah sosial dan pemikiran mereka.
Dua hal tersebut bisa dibahas bersamaan tanpa harus mencampuradukkannya.
9. Belanda Juga Semakin Serius Mengawasi Jaringan Islam
Ada konteks yang lebih luas dan jauh lebih menarik.
Pemerintah kolonial Belanda memang semakin memperhatikan perkembangan jaringan Islam, terutama hubungan antara Masyarakat Muslim Nusantara dengan dunia Islam melalui perjalanan haji.
Haji bukan sekadar perjalanan ibadah.
Pada abad ke-19, Makkah Al-Mukarramah juga menjadi tempat bertemunya Umat Muslim dari berbagai wilayah. Pertukaran gagasan, pengetahuan, dan jaringan sosial membuat pemerintah kolonial melihat perjalanan haji sebagai sesuatu yang memiliki konsekuensi politik.
Kerana itu, pengawasan terhadap jaringan tersebut semakin diperkuat.
10. Kemudian Muncullah Nama Snouck Hurgronje
Dalam konteks inilah nama Christiaan Snouck Hurgronje menjadi penting.
Snouck Hurgronje pergi ke Kota Makkah Al-Mukarramah pada 1884–1885 dan mempelajari kehidupan serta jaringan Muslim, termasuk jamaah haji dari Hindia Belanda.
Pengalaman tersebut kemudian digunakan dalam kebijakan kolonial Belanda terhadap masyarakat Muslim di Hindia Belanda.
Jadi, jika kita melihat kembali tahun 1883, kita menemukan sebuah dunia yang sedang berubah cepat.
Di satu sisi, Krakatau sedang meledak dan menghancurkan pesisir Nusantara.
Di sisi lain, dunia Islam sedang menghadapi tekanan kolonialisme, munculnya gagasan pembaruan, berkembangnya jaringan Ulama internasional, dan semakin intensifnya pengawasan kekuatan kolonial.
11. Krakatau 1883 Terjadi di Tengah Zaman yang Sedang Bergolak
Inilah bagian yang membuat sejarah Gunung Krakatau menjadi jauh lebih menarik.
Ketika gunung itu meletus, Indonesia belum ada sebagai negara merdeka.
Tetapi masyarakat dan tokoh-tokoh yang kelak memainkan peranan dalam sejarah Indonesia sudah hidup di tengah perubahan besar.
Ada Ulama yang membangun jaringan keilmuan.
Ada generasi muda yang kelak menjadi pendiri NGO/organisasi dan gerakan Islam penting.
Ada kekuatan kolonial yang berusaha mempertahankan kekuasaannya.
Dan di luar Nusantara, ada dunia Islam yang sedang mencari jawaban terhadap tekanan politik dan intelektual dari Barat.
Gunung Krakatau meletus di tengah semua pergolakan itu.
12. Dari Krakatau, Kita Bisa Melihat Sejarah dengan Cara Berbeza
Sejarah tidak selalu berjalan dalam kotak-kotak terpisah.
Letusan Gunung Krakatau bukan hanya cerita tentang gunung api. Ia juga membawa kita melihat bagaimana Masyarakat Nusantara hidup dalam jaringan dunia yang jauh lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.
Pada 1883, ketika Gunung Krakatau mengguncang Selat Sunda, Sultan Abdul Hamid II masih memimpin Khilafah Utsmaniyah, Syaikh Nawawi al-Bantani telah menjadi Ulama besar di Makkah Al-Mukarramah, Syaikh Jamaluddin al-Afghani dan Syaikh Muhammad Abduh berada dalam arus pemikiran pembaruan Islam, sementara sejumlah tokoh yang kelak menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia masih kanak-kanak.
Dengan kata lain, Krakatau meletus bukan di dunia yang kosong.
Ia meletus di tengah sebuah zaman yang sedang berubah.
Dan mungkin itulah alasan mengapa sejarah 1883 masih terasa begitu dekat hingga hari ini.
Satu gunung meletus. Puluhan ribu nyawa hilang. Dunia Islam sedang bergolak. Dan sebuah generasi baru sedang tumbuh tanpa menyadari bahwa beberapa dekade kemudian, merekalah yang akan ikut menentukan arah sejarah Indonesia. [HSZ]
πCatatan Editor:
Artikel ini diadaptasi dan dipublikasikan dengan izin dari gensaberilmu.com.
“Learn History, Repeat Victory”
Author: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
TAGS: Krakatau 1883, Letusan Gunung Krakatau, Sejarah Gunung Krakatau, Sejarah Indonesia, Sejarah Nusantara, Dunia Islam, Islam Nusantara, KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Kholil Bangkalan, Sultan Abdul Hamid II, Syaikh Jamaluddin al-Afghani, Syaikh Muhammad Abduh, Snouck Hurgronje, Kekhalifahan Utsmaniyah, Hindia Belanda, Kolonialisme Belanda, Jaringan Islam Nusantara, Sejarah Haji, Pan-Islamisme, Imperialisme Eropah,
No comments
Post a Comment