JEJAK PERTAMA DUNIA BACA: DARI FLASH GORDON HINGGA HAMKA
๐๐๐๐ช๐๐ ๐ ๐๐ฃ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ง๐๐๐ก๐๐ฃ๐๐ฃ ๐จ๐๐ค๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐ฃ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐๐ก ๐๐ช๐ฃ๐๐ ๐ข๐๐ก๐๐ก๐ช๐ ๐๐๐ข๐๐๐ง, ๐๐๐ก๐๐ข๐๐ฃ ๐๐ช๐ ๐ช, ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐๐ฉ๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ข๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐๐ข๐๐๐๐ฃ๐๐จ๐ ๐จ๐๐ฅ๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฎ๐๐ฉ.
Ada masa ketika sebuah buku bukan sekadar benda, tetapi sebuah pintu menuju dunia yang belum pernah kita kenal. Jauh sebelum layar telefon pintar memenuhi kehidupan, saya mengenal rasa ingin tahu melalui sebuah majalah komik hitam putih bernama Flash Gordon yang diberikan oleh Ayahanda Zainuddin (Almarhum). Saat itu saya belum memahami bahasa Inggerisnya, tetapi gambar-gambar di dalamnya sudah cukup menyalakan rasa kagum dan membawa saya masuk ke dunia imajinasi.
CAKRAWALA NEWS l Sejak usia dini, bahkan sebelum mengenal bangku sekolah rendah, saya sudah diperkenalkan dengan dunia bacaan.
Kenangan pertama saya bermula ketika Ayahanda Zainuddin menghadiahkan sebuah majalah komik hitam putih Flash Gordon berbahasa Inggeris. Saat itu tentu saya belum memahami jalan ceritanya. Huruf-huruf asing itu masih terasa seperti kode rahasia dari dunia lain, tetapi gambar-gambar ilustrasinya sudah cukup membuat saya terpikat.
Dari situlah benih rasa ingin tahu terhadap buku mulai tumbuh.
Ketika duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (Sekolah Rendah-Malaysia), minat membaca semakin kuat. Saya sering membaca komik di toko-toko yang menyediakan tempat membaca. Jika ingin membawa pulang dan membaca di rumah, harus membayar sewa berdasarkan hitungan hari.
Begitulah perjuangan kecil seorang anak yang haus cerita, bahkan sebelum era internet datang membawa segalanya dalam genggaman.
Kemudian saya mulai mengenal dunia novel.
Saya tertarik membaca novel-novel spionase dan misteri terjemahan Bahasa Indonesia karya penulis dunia seperti Agatha Christie, Sherlock Holmes, Ian Fleming dan beberapa novelis Barat lainnya. Kisah penuh teka-teki, penyelidikan, dan permainan strategi membuat imajinasi saya semakin berkembang.
Namun bacaan dari Negeri Leluhur Indonesia juga tidak kalah memberi warna. Saya menikmati karya para Sastrawan Indonesia seperti Motinggo Busye, Arswendo Atmowiloto dan Buya Hamka, yang membawa cerita tentang manusia, kehidupan, cinta, perjuangan, dan nilai-nilai yang lebih dalam.
BACA JUGA:
PUISI, Memory Bersama Buya Hamka
Kini bila mengenang masa itu, saya sadar bahwa buku-buku sederhana yang pernah hadir dalam hidup bukan sekadar hiburan. Mereka adalah jendela pertama yang membuka dunia.
Sebuah komik hitam putih dari tangan seorang Ayah ternyata mampu menyalakan api kecil yang kemudian menjadi kecintaan panjang terhadap membaca.[HSZ]
Author: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
Follow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: #Sejarah #Nostalgia #CatatanLama #FlashGordon #Masyarakat

No comments:
Post a Comment