Dari Clubbing ke Kesadaran: Arah Generasi Baharu di Zaman Perubahan Besar
Apabila Clubbing Ditinggalkan dan Bacaan Al-Qur'an Menjadi Trend: Kita Sedang Hidup dalam Zaman Perubahan Besar
Apabila membaca al-Qur'an menjadi budaya, Pālësṭīne menjadi arus perdana, dan kebenaran menemui momentumnya
- Sinopsis: 1. Clubbing semakin menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman. Kehidupan yang sihat dan bermakna semakin menjadi pilihan.
- 2. Pālësṭīne dan Al-Quran telah meningkat satu tahap. Bukan melalui paksaan, tetapi melalui kesedaran.
3. Ini bukan kebetulan. Ini zaman perubahan besar. Orang yang memahami alirannya, dialah yang menang. - 4. Clubbing itu merujuk kepada aktiviti kehidupan malam di kelab malam. Biasanya, ini termasuk:
- Muzik yang kuat, DJ, lampu berkelap-kelip,
- Menari sehingga tengah malam atau awal pagi,
- Alk0h0l adalah satu kemestian.
- Budaya hedonistik, pelarian stress, dan “have fun tanpa memikirkan hari esok"
CAKRAWALA NEWS l Kita patut jujur mengakui, Gen Z datang dengan banyak dobrakan (breakthroughs / gebrakan / kejayaan)
Beberapa riset dan laporan menunjukkan generasi ini justru "lebih melek" (lebih celik huruf) Al-Qur’an dan lebih gemar membaca buku dibanding sebagian generasi sebelumnya.
Bahkan dalam isu Pālësṭīne, Gen Z berhasil mendorongnya dari isu pinggiran menjadi percakapan arus utama / mainstream.Semoga ini merupakan tanda bahwa Umat ini sedang menuju ke arah yang lebih baik.
Terutama dengan ditinggalkannya clubbing jedag-jedug (hura-hura)
Ini bukan hal kecil. Ini signal zaman.
Bersamaan dengan itu, budaya clubbing perlahan ditinggalkan. Pola hidup sihat mulai naik kelas. Kopi menggantikan minuman keras. Tidur cukup dan kesihatan mental jadi target hidup, bukan kemewahan.
Perubahan sosial memang hampir selalu mengikuti pola yang sama: Resistance → Adoption → Acceptance.
Awalnya ditolak. Lalu dicoba oleh sebagian kecil. Hingga akhirnya diterima secara luas. Pola ini kita saksikan dalam isu ke-Pālësṭīnean, gaya hidup sihat, bahkan dalam cara generasi muda memaknai enjoy kesenangan.Media sosial merakamnya dengan jujur dan santai. Ada yang berkomentar,
“Clubbing sudah tidak zamannya. Orang sekarang ingin finansial stabil, hidup sihat, dan work-life balance.”
Ada juga yang bercanda lucu,
“Aku sudah letih dijedag-jedugin kehidupan. Tidak perlu ke clubbing buat merasakan perkara / hal-hal tersebut.”Intinya jelas: dunia sedang berubah. Generasi di persimpangan zaman ini punya sudut pandang berbeza dari pendahulunya.
Dulu, mengaji Al-Qur'an itu terasa eksklusif. Hari ini, mengaji Al-Qur'an bisa muncul sebagai konten segar lintas segmen. Bahkan pelakon Stand-Up Comedy, Pandji Pragiwaksono bisa mengaji Al-Qur'an dengan Ustaz Felix Siauw. Dan jafi konten fresh bagi anak-anak milleneal dan Gen-Z.
Fenomena ini menandai perubahan budaya: tidak mengaji Al-Qur'an terasa kurang afdhal, clubbing dianggap usang, dan membenci isu Pālësṭīne terasa tidak relevan secara moral.
Akhirnya muncul sebuah fenomena dimana tidak mengaji Al-Qur'an itu kurang afdhal. Budaya dimana clubbing itu tidak zamannya lagi. Dan membenci isu Pālësṭīne terasa tidak relevan secara moral.
Meski, di saat yang sama, yang tak benar juga semakin terang-terangan. Kebenaran dan kebatilan sedang adu besar gelombang. Ini yang dinamakan oleh Syaikh Ahmad Yusuf Sayyid sebagai "zaman at tahawwulat al kubra", era transformasi besar.Sejarah memberi pelajaran penting. Di masa Rasulullah ﷺ, ada kaum yang memeluk Islam bukan di awal perjuangan, melainkan ketika Islam telah menjadi arus utama di Jazirah Arab - Islam sudah trending.
Mereka adalah warga Thaif. Kaum yang dahulu melempari Nabi Muhammad ﷺ dengan batu, menghina dengan kasar.
Tapi, pada akhirnya di "last minute" perjuangan Rasulullah ﷺ, kaum ini memeluk agama Islam kerana risalah ini telah menjadi mainstream Bangsa Arab. Mereka adalah penduduk Negeri Thaif.
Pelajarannya sederhana tapi tajam
Belajar dari kisah runtuhnya budaya clubbing hingga kisah Islamya warga Thaif, kita bisa menarik sebuah tafakkur:Banyak orang menerima kebenaran bukan ketika ia disampaikan, tapi ketika ia telah menjadi gelombang arus utama dalam masyarakat.
Rasulullah ﷺ mengubah Jazirah Arab di akhir hidupnya. Pendakwah Walisongo membentuk arus dakwah besar di Nusantara. Semua memahami satu hal penting: kebenaran perlu difahami, tapi juga perlu diposisikan secara sosial.
Di titik inilah seorang da’i, pemikir, atau agen perubahan wajib memahami cara kerja dunia.
Bahwa ada, orang yang mahu menerima perubahan ketika perubahan itu sudah menjadi trend di masyarakat. Ada? Banyak.
Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjelaskannya dengan jernih.
Termasuk Thaif, yang kata Syaikh Ahmad Yusuf Sayyid, "mereka sudah tidak ada alasan lain selain menerima Islam." Kaedahnya, orang akan menerima perubahan ketika perlawanan sudah tidak lagi relevan.
Dan orang-orang Thaif memeluk Islam saat seluruh Jazirah Arab sudah lebih dahulu memeluknya. Mereka akhirnya menjadi "late majority".
Mengapa kita perlu memahami ilmu dunia? Ada 3 jawaban:- Pertama, kerana dunia adalah anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan halal dimanfaatkan dengan benar.
- Kedua, kerana kita diamanatkan sebagai khalifah di bumi, dan pemimpin wajib memahami sistem yang ia kelola.
- Ketiga, kerana ilmu agama yang berjalan bersama ilmu dunia membuat dakwah lebih luas, lebih kuat, dan lebih mudah diterima.
Singkatnya, kebenaran yang tidak memahami zaman akan tertinggal.
Dan kebenaran yang mampu membaca zaman, akan menjadi arus perdana / mainstream.
Dan semua perubahan besar itu, mendekatkan kita perlahan-lahan menuju Masjid Al Aqsha yang merdeka. InsyaAllah! [HSZ]
📌 Catatan Editor: Artikel ini di adaptasi dan dengan izin di publish untuk website ini - dari gensaberilmu.com•Media Berteraskan Islam untuk Dakwah Sejarah Islamiyah dan Ke-Pālësṭīnean• "Learn History, Repeat Victory"•Editor: Helmy El-Syamza
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWSFollow me at;⭐
facebook.com/helmyzainuddin
CAKRAWALA NEWS:
https://t.me/cakranews
www.tiktok.com/@romymantovani
twitter.com/romymantovani
TAGS: International, IslamicWorld, Featured, Islamic History
- Pertama, kerana dunia adalah anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan halal dimanfaatkan dengan benar.










No comments:
Post a Comment