KISAH RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM [115]

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="KISAH RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM [115]">

KISAH RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM [115]

  • KISAH RASULULLAH ﷺ صل الله عليه و سلم
  • Bagian-115

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ  وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

Rasulullahﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam Mengutus Nu'aim bin Mas'ud

     FORTUNA MEDIA -- Bersabar bukan berarti berdiam diri. Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam memanggil Nu'aim bin Mas'ud yang baru saja masuk Islam dan hal itu tidak diketahui oleh musuh. Pada masa jahiliyah Nu'aim bin Mas'ud sangat erat bersahabat dengan Bani Quraizhah dan Ghathafan.

    "Ya Rasulullah, sesungguhnya kaum saya tidak mengetahui ke-Islaman saya. Kerana itulah silahkan kalau mahu berbuat apa saja yang engkau inginkan terhadap diri saya," kata Nu'aim bin Mas'ud.

    Rasulullahﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan rencananya kepada Nu'aim bin Mas'ud. Setelah itu Rasulullahﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 

    "Laksanakanlah rencana ini, Nu'aim bin Mas'ud kerana suatu pertempuran itu memang penuh tipu daya."

    Apa yang dilakukan Rasulullahﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah strategi yang luar biasa untuk memecah-belah musuh. Atas perintah Rasulullahﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Nu'aim bin Mas'ud pergi menemui Bani Quraizhah. Nu'aim bin Mas'ud berkata, 

   "Kalian semua telah tahu betapa aku sangat mencintai kalian,"

    "Kami memang tidak menaruh curiga sama sekali kepada-mu," jawab Bani Quraizhah.

     Nu'aim bin Mas'ud melanjutkan, 

    "Sebenarnya orang-orang Quraisy dan Ghathafan tidak sama dengan kalian sebab ini adalah negeri kalian. Di sini lah kalian menyimpan harta dan Istri-Istri kalian. Sementara itu harta dan Istri-Istri orang Quraisy serta kekuatan ada di tempat masing-masing".

     "Lagipula pengepungan sudah berjalan terlalu lama. Orang Quraisy dan Ghathafan mulai kehabisan bekal. Kuda-kuda dan unta-unta mereka sudah semakin kurus kerana rumput di sekitar bandar Madinah telah menggundul. Sebentar lagi mereka akan pulang, sementara kalian akan ditinggalkan sendiri untuk menghadapi Muhammad dan pengikutnya". 

    "Mengapa kalian sampai hati menghianati Muhammad? Bukankah kalian mengetahui bahwa Muhammad itu sangat jujur dan setia? Ia pasti akan membela kalian jika kalian dalam kesulitan seperti yang tertera dalam perjanjian di antara kalian dan Muhammad". 

     "Jika pasukan al-Ahzab datang posisi kalian akan terjepit. Yang pasti kalian tidak akan mampu menghadapi Muhammad dan para pengikutnya, jika kalian dan mereka saling berhadapan langsung."

    "Apa yang harus kami lakukan?" tanya orang Yahudi itu bingung.

     "Minta sandera dari pihak Quraisy dan Ghathafan. Dengan demikian keduanya tidak akan pulang melainkan bertempur bersama kalian. Janganlah kalian mahu disuruh menyerang sebelum sandera-sandera dari pihak Ahzab ada di tangan kalian," jawab Nu'aim bin Mashud.

      Bani Quraizhah menyetujui usul yang menurut mereka sangat baik ini.

      Musuh Terpecah Belah

     Kemudian secara diam-diam Nu'aim bin Mas'ud melanjutkan visinya, ia pergi ke perkemahan Bani Ghathafan yang juga sahabatnya.
Kepada mereka Nu'aim bin Mas'ud berkata, 

    "Sebenarnya Bani Quraizhah merasa menyesal telah memusuhi Muhammad. Mereka enggan meneruskan pertempuran di pihak kalian. Hati-hati, mereka akan berpura-pura meminta sandera kepada kalian, padahal sandera itu akan diserahkan kepada Muhammad, agar Muhammad memaafkan perbuatan mereka."

     Mendengar itu para pemimpin Ghathafan dan Quraisy jadi ragu-ragu terhadap Bani Quraizhah. Abu Sufyan pun menulis surat kepada Kaab pemimpin Bani Quraizhah. 

    "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat ini dan mengepung Muhammad. Menurut hemat kami, besok kalian harus sudah menyerbu Muhammad dari belakang dan kami akan menyusul."

    "Besok hari Sabtu," tulis Kaab. "Pada hari Sabtu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun."

    "Cari hari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok," geram Abu Sufyan dalam surat balasannya. 

   "Sebab besok Muhammad sudah harus diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak turut serta dengan kami, persekutuan kita dengan sendirinya bubar dan kamulah yang akan kami serbu lebih dahulu sebelum Muhammad!"

    Bani Quraizhah tidak berani melanggar pantangan pada hari Sabtu. Mereka mengulangi jawaban itu dengan tambahan bahwa ada golongan mereka yang dapat kemurkaan Tuhan kerana telah melanggar hari Sabtu, sehingga berubah menjadi monyet dan babi. 

    Kemudian bani Quraizhah malah meminta sandera dari pihak Ahzab untuk ditahan di benteng mereka agar yakin bahwa orang Quraisy dan Ghathafan tidak akan pergi begitu saja.

    Mendengar itu, yakinlah pasukan Ahzab bahwa apa yang dikatakan Nu'aim bin Mas'ud benar. Keraguan besar segera melanda pasukan Ahzab. Jika Bani Quraizhah tidak menyerang dari belakang, mereka terpaksa harus menyerang dari depan melalui parit. Padahal parit itu tidak akan diseberangi dengan cara bagaimanapun. 

     Kerana orang Quraisy menolak menyerahkan sandera. Yakinlah Bani Quraizhah bahwa mereka akan ditinggalkan.[HSZ] 

Shallu 'alan Nabi...

💐Bersambung ... Semoga Kita Mendapat Barokah Allah 'Azza Wa Jalla.

آمينَ يا رَبَّ الْعلَمِيْنَ ..بَارَكَ اللهُ فِيْك

Untuk Anda yang belum baca siri ini yang sebelumnya,

Anda boleh baca disini ; The Story of The Prophet Muhammad SAW

Editor ; Helmy Network
Ilustrasi Image, Doc, Helmy Network


No comments