KISAH RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM [114]

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="KISAH RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM [114]">

KISAH RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM [114]

  • KISAH RASULULLAH ﷺ صل الله عليه و سلم
  • Bagian-114

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ  وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

  • Pada siri ke-113 Diriwayatkan, apa yang akan dilakukan Rasulullahﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para Sahabat Radhiyallahu 'Anhum, ketika mengetahui bahwa Bani Quraizhah berniat menikam dari belakang?

  • Orang Yahudi adalah pedagang dan ilmuwan yang jauh lebih unggul dari  Kaum Anshar yang terdiri atas Aus dan Khazraj. Namun, ketika melihat pemeluk Islam meningkat pesat, orang Yahudi khawatir mereka akan kalah dalam perdagangan dan pengetahuan. Kemudian mereka menolak ke-Rasulan Muhammad ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mentertawakan ajaran baginda Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

      Kaum Muslimin Sangat Terkejut

     FORTUNA MEDIA -- Tentu saja Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para Sahabatnya terkejut setelah mendengar Yahudi Bani Quraizhah telah membelot ke pihak musuh. Ini berarti pasukan Muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu harus membagi pasukan dalam dua kelompok pertempuran. Keadaan ini benar-benar memberatkan.

    Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengutus Saad bin Muadz pemimpin suku Aus yang pernah menjadi sekutu sekaligus pelindung bani Quraizhah ditemani Sa'ad bin Ubadah pemimpin suku Khazraj dan beberapa orang Sahabat Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam  meminta mereka mengecek keadaan Bani Quraizhah.

    Para sahabat itu kemudian pergi menemui Bani Quraizhah yang telah mengurung diri dalam benteng mereka. Saad bin Muadz mencoba mengingatkan perjanjian damai yang berisi saling bantu antara kaum Muslimin dan Bani Quraizhah.

   "Antara kami dan Muhammad tidak ada ikatan apa-apa dan tidak ada perjanjian apa-apa," jawab bani Quraizhah kepada Saad bin Muadz 

    Saad berusaha menyadarkan Bani Quraizhah terhadap risiko yang akan mereka hadapi kerana membelot dari perjanjian dengan Kaum Muslimin. Saad bin Muadz meminta mereka agar tetap mahu menjadi sekutu dengan segala kejujuran sebagaimana pada masa-masa lalu dan tetap menjaga hak kedua belah pihak agar tidak mengecewakan Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada saat-saat sulit seperti ini.

    Namun jawaban bani Quraizhah sangat kasar dan menghina. Sa'ad bin Muadz marah sekali sampai terjadi perang mulut antara Sa'ad bin Muadz dan Bani Quraizhah. Akhirnya Sa'ad bin Muadz dan para Sahabat yang lain pulang dengan hati kesal. 

    "Biarkan mereka menentang dirimu, sebab jika dilayani hanya akan menambah ramai pertengkaran antara kita dan mereka," hibur Sa'ad bin Ubadah kepada Sa'ad bin Muadz.

    Sa'ad bin Muadz menemui Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan melapor, 

    "Ya Rasulullah, mereka telah melanggar perjanjian sebagaimana dulu dilakukan suku Adhal dan Qarah."

     Mendengar itu Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 

    "Allahu Akbar, Bergembiralah, Wahai kaum Muslimin!"

Saad bin Muadz masuk Islam pada usia 31 tahun. Pada usia 37 tahun Ia pergi menemui Syahidnya. Hari-hari ke-Islaman sampai wafatnya diisi semua dengan karya-karya gemilang dalam berbakti kepada Allah ﷻ dan Rasulnya ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

       Suara Kaum Munafik

    Kata-kata hiburan Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang penuh semangat itu tidak ditanggapi dengan baik oleh orang-orang munafik dan mereka yang lemah Iman. 

    Memang benar, keadaan seperti itu membuat hampir seluruh sahabat dilanda kecemasan. Al-Qur'an melukiskan bahwa keadaan Kaum Muslimin waktu itu sedang diuji dengan guncangan yang amat dahsyat sampai-sampai tidak tetap lagi penglihatan mereka. Terasa sesak naik sampai ke tenggorokan dan mereka menyangka bermacam-macam terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Akan tetapi bagaimanapun keadaannya orang yang imannya kuat tidak beranjak dari sisi Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

    Berbeda halnya dengan orang-orang munafik. Mereka berkata, 

    "Muhammad berjanji kepada kita semua bahwa suatu saat kita akan merebut kekayaan Kaisar Persia (Parsi) dan Romawi (Rom). Nyatanya? Hari ini saja tidak seorang pun dari kita merasa aman, bahkan untuk sekedar pergi ke jamban."

    Suara-suara Sumbang yang lain juga terdengar, 

    "Muhammad rumah kami saat ini sedang kosong tak berpenghuni. Izinkanlah kami keluar dari barisan tempur untuk pulang ke rumah masing-masing kerana rumah kami terletak di luar Madinah."

     Para Sahabat setia menjadi marah, 

    "Mereka sungguh-sungguh penghianat. Ya Rasulullah, izinkanlah kami memenggal leher-leher mereka!"

    Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak ingin memaksa seseorang untuk bertempur. Beliau mengizinkan orang-orang lemah iman itu untuk pulang, biarlah hanya orang-orang yang mampu menghadapi bahaya dan benar-benar menginginkan mati syahid saja yang tetap bertahan di barisan pasukan. Orang-orang lemah iman justru akan menularkan rasa takutnya kepada banyak orang.

    Dan penilaian Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini tepat sekali. Setelah perginya orang-orang pengecut, barisan tempur yang tersisa justru semakin bulat tekadnya untuk bertempur dan berjuang.

    Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam, menyampaikan wahyu Allah ﷻ bahwa, jika orang melarikan diri dari kematian, seandainya pun bisa hanya akan mengecap kesenangan dunia sebentar saja. Tak layak seorang lari dari bencana, padahal bencana itu datang atas izin Allah ﷻ dan Allah ﷻ -lah yang satu-satunya sumber pertolongan dan perlindungan.

     Pasukan Quraisy Mulai Putus Asa

    Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam, merancang suatu strategi baru. Beliau ingin menawarkan kepada pasukan Ghathafan sepertiga hasil perkebunan Madinah jika mereka mahu kembali pulang. Tidak ragu lagi. Orang Ghathafan pasti akan menyambut baik dan jika mereka pulang pasukan musuh yang tersisa tinggal 4 ribu prajurit Quraisy. 

    Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam, meminta pendapat terlebih dahulu kepada Sa'ad bin Muadz dan Sa'ad bin Ubadah sebagai pemimpin penduduk asli Madinah.

   "Ya Rasulullah, Jika Allah yang memerintahkan kami pasti tunduk dan patuh" demikian jawab keduanya, 

    "Namun jika ini pendapat Tuan kami tidak sependapat. Dulu orang Ghathafan tak pernah merasakan kurma Madinah, kecuali dengan membeli atau sedang diundang jamuan padahal waktu itu kami semua masih Musyrik. Lalu mengapa kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam kami harus menyerahkan harta kami seperti itu? Demi Allah kami tidak akan memberikan sesuatu kepada mereka kecuali tebasan Pedang." 

     Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengangguk setuju, 

    "ini memang pendapatku sendiri sebab aku melihat orang-orang Arab menyerang kita dengan panah."

    Pertempuran dilanjutkan, Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar prajuritnya tidak menampakkan diri kecuali dengan berbaju besi lengkap. Namun Sa'ad bin Mu'adz terkena panah hingga menembus urat tangannya. Saat itu ia hanya mengenakan baju besi yang pendek.

     Doa Sa'ad bin Mu'adz pada waktu itu adalah, 

   "Ya Allah Sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku amat mencintai Jihad melawan orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mengusirnya. 

    Ya Allah, jika engkau masih menyisakan sedikit peperangan melawan orang-orang Quraisy, berikanlah sisa kehidupan kepadaku agar aku bisa memerangi mereka kerana Engkau semata."

     Nah, pada suatu malam pasukan Quraisy yang sudah hampir kehilangan akal untuk menerobos parit mencoba kembali menyeberangi parit dengan pasukan berkuda pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan Muslimin menebarkan hujan panah. Dalam gelap Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam berhasil memanah Ikrimah bin Abu Jahal sehingga pasukan musuh terperosok dan kembali mundur.

    Abu Sufyan mengirim surat kepada Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang isinya menuduh Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai pengecut, Abu Sufyan menantang Muslimin untuk bertempur di lapangan terbuka. 

    Rasulullah ﷺ Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tersenyum dan membalas surat itu. Isinya mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini beliau memang akan keluar menemui mereka untuk mengikis habis berhala-berhala Quraisy di Makkah. Pada hari-hari ini kesabaran memang menjadi senjata terampuh untuk meraih kemenangan.[HSZ] 

Shallu 'alan Nabi...

💐Bersambung ... Semoga Kita Mendapat Barokah Allah 'Azza Wa Jalla.

آمينَ يا رَبَّ الْعلَمِيْنَ ..بَارَكَ اللهُ فِيْك

Untuk Anda yang belum baca siri ini yang sebelumnya,

Anda boleh baca disini ; The Story of The Prophet Muhammad SAW

Editor ; Helmy Network
Ilustrasi Image, Doc, Helmy Network

No comments