My Ghost Stories [20]

<img src="fazryan87.blogspot.com.jpg" alt="My Ghost Stories [20]">

My Ghost Stories [20]

[Chapter 02-Part 20]


Klekk..!..Pintu terbuka dengan mudah lalu menampakkan wajah Dewi yang tampak cemas. 

"Sofia, kenapa lama sekali? Cepatlah sebelum mereka menyadari keberadaanmu," peringatnya dengan nada khawatir.

"Dia Bu Dewi. Orang yang membantuku masuk ke sini. Kau ingat, kan? Dia pernah datang untuk makan malam bersama."

Arvin tidak menyahut, hanya mengangguk singkat. Entah untuk menjawab pertanyaanku atau pertanyaan Dewi. Lalu tanpa kata dia berjalan tenang melewati Dewi yang tampak kebingungan.

"Kau bukan Sofia, ya?" Akhirnya Dewi bertanya dengan nada ragu. 

Arvin berhenti lalu berbalik menghadap Dewi. Menatap wanita bertubuh berisi itu dengan tatapan kosong. "Aku Arvin. Terima kasih sudah membantu Sofia sampai ke sini."

Tampak Dewi terbelalak seraya menutup mulut dengan kedua tangan. Tanpa menunggu tanggapan, Arvin kembali berbalik menuju ujung lorong tempat lift berada. Tidak sampai lima menit, kami sudah tiba di tingkat dasar. 

"Apa rumahmu jauh?" tanyaku saat kami berjalan melintasi lobby.
"Kita tidak punya banyak waktu. Sebelum jam delapan malam, Aku sudah harus kembali ke hospital. Ibu-Bapaku yang menjadi jaminan kebebasanku selama tujuh jam."


Arvin tidak menanggapi. Dia pasti tidak ingin dianggap aneh dan menjadi pusat perhatian jika ketahuan berbicara sendiri. Akhirnya Akupun memilih diam. 

Tiba di luar, Arvin menghirup udara dalam-dalam. Dia pasti senang akhirnya bisa keluar dari penjara berbentuk apartment itu. Dadaku sesak melihatnya. Lalu berubah bingung menyadari Arvin tidak beranjak pergi. Malah berdiri diam di tepi jalan raya yang masih menjadi kawasan gedung apartment.

"Kenapa kau berhenti?"

"Hmm, Aku memesankan taksi."


"Bu Dewi?" tanyaku bingung...Arvin berbalik menghadap wanita yang kini berdiri di samping kami. "Sekali lagi terima kasih."

"Senang bisa membantu. Ini kejadian luar biasa. Aku tidak sabar hendak menceritakan pada yang lain." Dewi terdengar sangat bersemangat. 

"Jangan ceritakan apapun sebelum semua ini berakhir."

"Ya, tentu saja." Lalu Dewi menunjuk. "Oh, sepertinya itu taksi yang kupesan."

Taksi yang ditunjuk Dewi berhenti di dekat kami. Dengan anggukan kecil, Arvin masuk ke dalam taksi lalu menyebutkan serangkaian alamat pada sopir. Tak lama kemudian, mobil pun melaju meninggalkan kawasan gedung apartment tempat Arvin selama ini terkurung.

Dalam perjalanan, kami sama-sama terdiam, sibuk dengan fikiran kami masing-masing. Aku sendiri bertanya-tanya apa kira-kira yang akan kami hadapi di rumah Arvin nanti. Apa akan ada pertarungan sengit layaknya dalam film-film paranormal atau aksi? Atau mungkin lebih seperti drama dengan banyak air mata? 

Perjalanan ke rumah Ibu-Bapa Arvin terasa sangat lama. Satu setengah jam kemudian taksi yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sangat megah.

Aku terpana memandang rumah itu sementara Arvin merogoh saku belakang sesuai arahanku tadi, tempat Aku menyelipkan lembaran wang sebelum pergi dari hospital.

Turun dari taksi, kami mendekati pintu gerbang rumah yang terbuka namun dijaga seorang security. Lelaki berperawakan gagah itu menanyakan nama kami datar, berkebalikan dengan nada bicaranya yang ramah.

"Sofia Hani," Arvin memperkenalkan diri.

"Oh, Nona Sofia. Nyonya Alfi sudah menunggu Anda di dalam. Langsung masuk saja." 

"Terima kasih."...Security itu mengangguk. Namun matanya yang jeli menatapku lekat, seolah merasakan keanehan pada sikapku. Namun dia tidak berkomentar, membiarkanku masuk tanpa diantar.

Tentu saja Arvin mengenal rumah ini dengan baik. Langkahnya sama sekali tidak canggung. Dia langsung menaiki anak tangga yang berada di antara tanaman bunga dan rumput hias menuju beranda.

"Sepertinya banyak tetamu," gumamku kerana melihat banyak mobil yang terparkir di halaman rumah. Ah, apa semua itu mobil milik Ibu-Bapa Arvin?

"Bukan. Memang ada tetamu. Sepertinya Mama mengadakan acara keluarga. Mungkin sebagai alasan untuk menahan Alvin tetap di sini," bisik Arvin perlahan, tak ingin menarik perhatian. 

"Oh." Hanya itu tanggapanku. Sepertinya Arvin sudah ingat semua. Tentang dirinya.

"Ya." Dia masih sempat menjawab perlahan sebelum kami mencapai ruang tamu yang tampak luas, seolah bisa menampung seratus tetamu.

Dari sini, terdengar samar suara orang-orang dalam rumah. Tapi Aku belum merasakan hawa dingin aneh yang biasanya selalu melingkupi Alvin. Sepertinya Aku perlu berada dalam jarak tertentu dari Alvin agar bisa merasakannya. Itu artinya keberadaan Alvin cukup jauh dan mungkin terpisah dari orang-orang yang tengah berkumpul.

Atau—mungkinkah Alvin berhasil kabur? Kalau benar begitu, perjalanan kami ke sini tampaknya hanya membuang waktu.

"Tidak. Alvin ada di dalam. Aku bisa merasakannya."

PRANGGG!!...Suara benda pecah dari dalam membuatku terperanjat. Namun Arvin tak menghentikan langkah. Terus berjalan masuk melewati lorong yang sepertinya menuju halaman samping tempat diadakannya acara. 

"Arvin, apa yang terjadi?" suara itu samar. Namun Aku bisa menangkap jelas ucapannya. Sepertinya seorang wanita yang bertanya.

"Siapa yang mengundangnya?!" suara Alvin bagai raungan singa yang tengah terluka. 

"Mengundang siapa?" Suara lain. Suara lelaki.

"Dia pembunuh! Dia berniat membunuhku! Kenapa kalian membiarkannya masuk?! Apa kalian—"

Suara Alvin tercekat begitu tatapannya terpaku padaku yang sudah keluar ke taman samping tempat acara keluarga tengah diadakan. Makanan mewah tampak tersaji di gazebo. 

"Arrghh!"...Tiba-tiba Alvin memekik seraya memegang dadanya. Dia tampak sesak nafas.

Semua orang menatap bingung bergantian antara Aku dan Alvin. Lalu beberapa orang mendatangi Alvin dengan panik melihat lelaki itu tampak kesakitan.

"Arvin, kau kenapa?" tanya seorang lelaki di sampingnya. 

"Singkirkan... dia... dariku...," perintah Alvin tanpa melepas pandangan dariku.

Tiba-tiba seorang wanita menghampiri kami. Jika diperhatikan secara seksama, dia tampak mirip Arvin. Apa dia saudara kandungnya?

"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan pada adikku?" Matanya berkilat penuh amarah.

Aku menahan diri untuk bertanya, tahu betul Arvin tidak akan menjawab dalam situasi seperti ini.

"Alya," panggil Arvin perlahan, membuat mata wanita itu terbelalak. Lalu Arvin bergerak mendekatinya lalu berbisik, "Kenapa lelaki itu ada di sini? Lelaki yang memerkosamu dulu. Apa kau benar-benar sudah kehilangan akal sehat dan menikah dengannya saat Aku tidak ada?"

Alya tersentak mundur seolah baru saja ditonjok. Dia menatap kami dengan kedua tangan membekap mulut dan mata berkaca-kaca. Pasti kalimat yang dilontarkan Arvin adalah sesuatu yang hanya diketahui mereka berdua. Seorang lelaki yang sedari tadi hanya menjadi penonton bergegas menghampiri Alya lalu merangkul bahunya dengan sikap posesif dan khawatir. 

"Ada apa?" tanya lelaki itu sambil menatapku garang.

"Arvin...," Hanya itu yang Alya katakan, membuat suasana berubah mencekam penuh kebingungan.

"Alya, apa maksudmu? Arvin ada di sini," tanya wanita lain sambil melirik bingung padaku dan Alvin.

Alya sendiri tak bisa menjelaskan lebih jauh. Dia menoleh ke arah Alvin, menatapnya lama dengan sorot menilai.

"Dia pasti penyihir!" Tiba-tiba Alvin berseru seraya menunjukku.
"Dia sengaja ingin mengacaukan kita. Bahkan aku kesakitan begitu dia datang. Cepat usir dia!"


"Dia tetamuku! Tidak ada yang boleh mengusirnya!"  Auntie Alfi yang sejak tadi tidak tampak, mendadak muncul dari pintu di belakangku lalu berdiri di sampingku. "Arvin," panggilnya perlahan, membuat Arvin yang sejak tadi hanya fokus pada Alvin menoleh padanya.

"Mama," panggil Arvin serak.

"Oh, sayang!" Auntie Alfi memelukku secara tiba-tiba, membuat semua orang semakin ternganga tak percaya.

"Arrgghh!"...Pekik ketakutan itu membuat pelukan kami terlepas. Refleks semua mata mengarah pada Alvin yang kini menarik wanita di sampingnya lalu menodongkan pistol ke kepala wanita itu.

"Arvin! Apa yang kau lakukan pada Leah?! Dia sepupumu!" Seorang lelaki yang tampaknya merupakan Papa Leah—kerana Leah menyebut 'Papa' ke arahnya tanpa suara—menghardik. Dia tampak amat murka.

Namun Alvin mengabaikannya. Fokusnya hanya padaku dan Auntie Alfi. Atau lebih tepatnya pada Arvin dan Mamanya.

"Ini sangat tidak adil!" Seruan itu penuh kemarahan. Tapi entah mengapa Aku juga merasakan kerapuhan di sana. "Kenapa semua orang hanya menginginkan Arvin? Dia sudah hidup enak selama bertahun-tahun." 

Ucapan Alvin tentu semakin membuat bingung semua orang. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan.

"Alvin." Arvin menyebut nama itu seraya melangkah maju. "Kau tahu kami menyayangimu, terutama Aku. Meski kau menganggap Aku hidup dengan menjadikanmu sebagai tumbal, tapi Aku yakin dalam hatimu tahu bahwa itu tidak benar." 

Alvin mundur dengan satu tangan mencengkeram lengan Leah sementara tangan yang lain masih memegang pist01. Tampak jelas dia ketakutan kerana Arvin terus mendekat.

Dan Aku melihatnya dengan jelas. Sedikit demi sedikit tampak ada debu yang keluar dari tubuhku. Hal yang sama juga dialami tubuh Arvin yang masih dirasuki Alvin. Juga tampak debu keluar dari tubuh itu dalam gerakan perlahan.

"Mundur atau kutembak dia!" seru Alvin dengan sorot panik dalam matanya.

Namun Arvin tidak berhenti. Dia terus melangkah, bertekad mengikis jarak di antara mereka. "Bukankah seharusnya Aku yang merasa iri padamu? Tuhan begitu sayang padamu hingga mengambilmu lebih dulu bahkan sebelum kau sempat berbuat dosa."

Alvin tertawa sumbang. "Itu hanya kata-kata untuk menutupi rasa bersalahmu, kan? Hati kecilmu juga yang paling tahu bahwa sebenarnya kau seorang pembunuh. Demi bisa bertahan hidup, kau rela mengorbankan saudaramu sendiri!" 

Tiba-tiba Arvin menghentikan langkah. Ada perasaan murka yang merayapi hatinya. "Sepertinya Aku sudah cukup bersabar menghadapimu. Ini memang salahku hingga kau bisa menguasai tubuhku. Aku terlalu lemah. Iman dalam hatiku kurang kuat. Tapi tak akan kubiarkan kau menodai Alvin. Menodai jiwanya yang bersih tanpa dosa dengan berpura-pura menjadi dia. Kau bukan Alvin. Kau hanya Jin yang menyerupainya."

Jin? Jadi itu bukan Alvin?...Ah, iya. Bukankah tiap bayi lahir dalam keadaan tanpa dosa? Jadi mana mungkin Alvin menyimpan dendam? Dan pengetahuan itu, menyadari siapa sebenarnya makhluk yang sedang kami hadapi, membuat rasa takut merayapi hatiku. 

Sepertinya ucapan Arvin membuat makhluk itu murka. Matanya berubah perlahan. Dari hitam semakin cerah hingga akhirnya putih mengerikan. Auranya pun terasa semakin jelas. Dingin menyesakkan yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. 

Mendadak dia menyeringai. "Mungkin kau akan menang. Tapi Aku akan membawanya bersamaku."

Terdengar pekik ketakutan di sekitar kami. Sementara itu Arvin bergerak gesit. Langsung berlari, berusaha mencapai makhluk itu yang berjarak sekitar lima meter dari kami.

Tapi tiba-tiba dia mengalihkan moncong pist01. Yang semula mengarah pada pelipis Leah, tiba-tiba saja sudah mengarah pada kami—pada tubuhku.

Itu terjadi begitu cepat dalam jarak yang sangat dekat. Masih sempat kulihat ujung telunjuk makhluk itu yang menarik pelatuk bagai gerakan lambat sebuah filem... DOORR! [hsz] To be Continued..
Editor ; Romy Mantovani,
Kredit Ilustrasi image ; wattpad.com

No comments