EPILOGUE My Ghost Stories

<img src="fazryan87.blogspot.com.jpg" alt="EPILOGUE My Ghost Stories">

EPILOGUE, My Ghost Stories

"Arvin...." ... Aku menyebut namanya setengah menggerutu, setengah khawatir. Tanganku mencengkeram erat satu tangannya yang merangkul pinggangku. Pandanganku gelap hingga menyerahkan diri sepenuhnya pada arahannya. 

Beberapa waktu yang lalu—mungkin sudah empat jam—kami telah rasmi menjadi Suami-Istri. Pesta pernikahan berlangsung meriah sekaligus elegan. Banyak sekali tamu yang hadir. Menunjukkan bahwa Arvin dan keluarga besar kami benar-benar merencanakan pesta ini jauh hari. 

Ternyata Aku menjadi satu-satunya yang tidak tahu tentang semua rencana itu. Padahal Aku pengantin wanitanya. Bahkan Andin pun tahu bahwa Aku akan segera menikah. Lucu sekali!

Aku masih saja jengkel-geram sekaligus takjub jika mengingat bagaimana semua orang bergerak diam-diam di belakangku. Tak kusangka mereka bisa merencanakan hal sebesar ini dan Aku sama sekali tidak curiga.

Dan belum cukup sampai di situ, kini Arvin kembali bermain simpan rahasia mengenai tempat bulan madu kami. Bahkan sejak masuk ke mobil dari rumahku yang menjadi lokasi diadakannya pesta pernikahan, dia menutup mataku menggunakan secarik kain dan melarangku membuka atau mengintip. 

Jadi wajar kalau Aku sedikit khawatir. Sekarang Aku harus berjalan entah ke mana dengan mata tertutup. Benar-benar mempasrahkan nasibku di tangan Arvin, Suamiku. 

"Arvin!" Kali ini Aku berseru kerana panggilanku sebelumnya tidak mendapat tanggapan.

"Iya, sayang," Arvin menyahut dengan nada geli. Tampak jelas menikmati kekesalanku. "Aku di sini. Memelukmu."

DEGH.,!...Memori itu membuatku mencengkeram lengan Arvin yang memeluk pinggangku lebih kuat. "Meski waktu itu menyenangkan, Aku sama sekali tidak ingin mengulangnya."

"Apa? Saat Aku meminjam ragamu?"
Aku mengangguk. Lalu kami berhenti melangkah seolah menunggu sesuatu. Kuduga itu lift. Dan dugaanku benar kerana hanya selang beberapa detik kemudian Arvin kembali bergerak, membuatku turut melangkah, lalu kami kembali diam setelah dia membalik tubuhku menghadap arah kami datang tadi.

Ya, jelas itu lift..
"Sejujurnya Aku juga berfikir begitu. Itu benar-benar tidak nyaman. Tapi Aku menyayangkan kehilangan kemampuanku membaca fikiranmu." Ada nada geli dalam suara Arvin yang terdengar jelas.

Ucapan Arvin membuatku tak bisa menahan diri untuk menyeringai geli. Kusandarkan kepalaku di dadanya lalu mendongak meski hanya kegelapan di depan mataku. "Terkadang Aku juga merindukan saat-saat itu. Tanpa berbicara, kau akan langsung tahu apa yang kuinginkan."

"Wanita selalu ingin dimengerti. Begitu, kan?"

Aku terkekeh seraya mengangguk..Cup.,!...Seketika Aku membeku begitu sebuah kecupan mendarat di bibirku. Dengan posisi kepala bersandar dan mendongak ke arah Arvin seperti ini, lelaki itu hanya perlu menundukkan kepala untuk mendapatkan sebuah ciuman.
Tapi—ini kan di tempat awam.


"Arvin, kau tidak mencium istrimu di depan orang lain, kan?" bisikku khawatir.

"Tentu saja tidak. Aku tidak mahu membuat orang lain menginginkan bibirmu juga."

"Jadi kita hanya berdua di sini?"

"Ya."

"Apa masih lama?"


"Lumayan."


"Lagi."


"Hah?"... 
Aku menyeringai geli menyadari kebingungan Arvin. "Cium lagi," pintaku dengan nada manja. 
Seketika Arvin terkekeh. Tak lama kemudian terasa bibir empuknya kembali menempel di bibirku. Kali ini bukan hanya kecupan singkat. Melainkan ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Sayangnya itu hanya berlangsung beberapa detik. Lift berdenting menandakan kami telah sampai di tingkat yang kami tuju hingga mahu tak mahu Arvin menarik diri. 

"Aku semakin tidak sabar untuk segera memilikimu malam ini," desah Arvin di telingaku penuh gairah...Seketika jantungku berdebar semakin cepat penuh antisipasi. Otak kotorku mulai memberikan gambaran-gambaran erotik dengan kami berdua sebagai tokoh utama. Namun sebelum bayangan dalam kepalaku bergerak semakin jauh dan sesat, tiba-tiba Arvin mengangkatku dalam gendongannya hingga membuatku memekik kaget.

"Apa yang kau lakukan?!" seruku.

"Ssstt, jangan berisik dan mengganggu para tetangga. Aku hanya ingin membawa pengantinku melewati ambang pintu". 

Aku terkekeh perlahan dan tidak berkomentar lagi. Lenganku merangkul lehernya dan kepalaku bersandar di lekukan antara leher dan pundaknya. Tentu Aku tidak akan protes atau mengeluh. Ini lebih baik daripada berjalan tanpa kepastian dengan mata tertutup.

Tak lama kemudian, Arvin berhenti lalu entah melakukan apa. Kuduga dia membuka sebuah pintu. Entah bagaimana caranya melakukan itu sambil tetap membopong tubuhku.

KLEKK.,!...Lagi-lagi dugaanku benar. Lalu kurasakan Arvin mendorong daun pintu menggunakan kakiku yang menggantung. Setelah kami tiba di dalam, dia melakukan hal yang sama untuk menutup pintu.

"Selamat datang di rumah." Arvin bersuara penuh kepuasan.

"Rumah?" tanyaku tak mengerti. Tiga hari yang lalu setelah membeli cincin, Arvin mengajakku ke sebuah rumah yang luas dan indah. Rumah itu yang saat ini ditempati Arvin dan akan jadi rumah kami berdua setelah menikah. Tapi setahuku, rumah itu hanya memiliki tiga tingkat dengan tingkat ketiga dibiarkan terbuka dengan taman buatan untuk tempat bersantai. Apa di sana menggunakan lift? 

"Ya, rumah kita yang lain," bisik Arvin seraya mengecup pipiku lembut sebelum menurunkanku. Begitu kedua kakiku menjejak lantai, Arvin menempatkan diri di belakangku seraya memeluk pinggangku. 

"Apa sekarang Aku boleh membuka penutup mata ini?" tanyaku tak sabar.

"Tentu saja."...Buru-buru kutarik turun kain yang sejak beberapa waktu lalu menghalangi pandanganku. Lalu kelopak mataku terangkat dan harus mengerdip beberapa kali sebelum pandanganku menjadi jernih. Dan begitu menyadari di mana Aku berada, Aku terkejut sambil menutup mulut dengan kedua tangan.

"Ini kan...."... Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Hanya menoleh menatap Arvin penuh rasa tak percaya yang dibalas Arvin dengan anggukan dan mata berbinar.

"Astaghfirullah, Aku tidak percaya. Semuanya bahkan sama persis seperti dua tahun yang lalu." 


"Kerana Aku menjaganya tetap begitu."...Aku berbalik hingga menghadap Arvin sepenuhnya dengan senyum mengembang. Tanpa bisa menahan diri, kedua tanganku menangkup pipinya lalu melabuhkan ciuman basah di bibirnya. Hanya sebentar. Kerana setelahnya Aku melepaskan diri lalu mengamati ruangan dan tiap perabotan di sana dengan seksama. 

"Ini sofa kesukaanmu. Aku ingat tiap pagi kau selalu berbaring di sini menonton film kartun." Aku tergelak seraya membaringkan tubuh di sofa yang dulu menjadi tempat bersemayamnya Arvin, hantu penghuni apartment ini. 

Ya, Arvin membawaku ke apartment tempat pertemuan awal kami. Apartment tempatnya terkurung selama hampir tiga tahun. Ternyata Auntie—eh, Mama Alfi baru menyadari perubahan sikap Arvin beberapa bulan sejak makhluk itu menempati tubuh Arvin. Kerana itu dia fikir tubuh Arvin dikuasai makhluk lain selama dua tahun. Padahal sebenarnya sudah hampir tiga tahun Arvin terkurung di sini. 

Apartment ini benar-benar masih sama persis seperti saat terakhir kali Aku berada di sini dua tahun lalu. Meski Aku sudah sering pindah tempat tinggal demi ambisiku mencari pengalaman dan inspirasi, namun tidak ada yang pernah melekat di hati seperti tempat ini. Seluruh kenangan di tempat ini tersimpan rapi dalam benakku. Begitu membekas hingga kadang Aku berfikir itu baru terjadi kemarin.

Aku menoleh, menatap sofa tunggal di dekat sofa panjang yang Aku tempati sekarang. Aku mengubah posisi menjadi duduk. Mataku berkaca-kaca dengan senyum haru melekat di bibir.

"Kenapa?" tanya Arvin seraya duduk di sampingku lalu mengikuti arah pandangku.

"Aku masih ingat ciuman pertama kita di sofa itu." Refleks Aku menjilat bibir. "Bahkan Aku masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya. Rebutan bantal guling yang berakhir dengan ciuman panas."

"Padahal itu bukan ciuman pertama kita."

"Yang kuingat di situ. Ciuman saat Aku tak sadarkan diri tidak masuk hitungan." Tanpa menunggu tanggapan Aku berdiri lalu berjalan menuju satu-satunya kamar di apartment kecil itu.

Kamar ini juga masih sama. Letak tempat tidurnya, lemari, meja nakas, dan— Aku tertegun menatap foto berbingkai di atas meja nakas. Lalu perasaan kagetku berubah menjadi sorot tak percaya dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

"Kali ini apa lagi?" tanya Arvin yang menyusulku ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang.

"Di saat seperti ini Aku amat menyesali hilangnya kemampuanmu membaca fikiranku," dan Aku kembali terbahak tanpa penjelasan lebih lanjut.

Arvin mengerutkan kening tidak mengerti. Dia menoleh ke arah meja nakas yang sejak tadi menarik perhatianku. Lalu dia terkekeh geli memahami alasan tawaku.

"Kau meninggalkan gambar aneh itu tergeletak begitu saja di meja situ. Aku tidak sanggup membuangnya kerana itu adalah bagian dari kenangan kita." 

Aku duduk di samping Arvin, merangkul lengannya seraya menyandarkan kepala di bahunya. "Padahal menurutmu gambar itu sangat jelek. Bahkan anak Tadika-pun tidak bisa menggambar sejelek itu. Tapi sekarang kau malah membuatkan bingkai." Aku tidak bisa menahan nada geli sekaligus menggoda dalam suaraku.

"Saat kau jauh, Aku seperti pengembara kelaparan yang mensyukuri tiap tetes air yang kutemukan."

Aku mendongak, menatapnya penuh cinta. "Itu manis sekali, Pak Arvin Radhika."

"Tapi sudah cukup kita mengenang masa lalu." Mendadak suara Arvin berubah serak saat dia menunduk dan menyatukan kening kami. "Sekarang waktunya mengukir masa depan." Lalu dia menyeringai. "Aku ingin punya banyak anak darimu. Itu sebabnya kita harus bekerja keras mulai sekarang." 

Dan sebelum aku menyadari maksud Arvin, lelaki itu merangkul pinggangku lalu menarikku ke tengah ranjang. Dengan mudah dia menjatuhkanku dan membuatku terjebak di bawah tindihan tubuhnya. [THE END] 
Editor ; Romy Mantovani,
Kredit Ilustrasi image ; wattpad.com

No comments