Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">
Perintah Taliban untuk menutup salon kecantikan akan memaksa penutupan ribuan bisnis yang dijalankan oleh perempuan // Photo: Rahmat Gul/AP/picture alliance

Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan

"Perniagaan dan Bisnis Salon kecantikan menjadi salah satu dari sedikit jalan yang tersisa bagi perempuan Afghanistan untuk mendapatkan penghasilan dan bersosialisasi. Namun, pemerintahan Taliban ingin salon ditutup dalam waktu satu bulan (July 2023)".

  • Seluruh salon kecantikan dan salon rambut di seluruh Afghanistan harus ditutup dalam waktu satu bulan, demikian perintah Taliban pada minggu tersebut, tanpa menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

  • Perintah itu otomatik akan memaksa penutupan ribuan bisnis salon yang dijalankan oleh perempuan.

  • Dewan Perniagaan Kabul, memperkirakan bahwa lebih dari 50.000 perempuan Afghanistan akan kehilangan pekerjaan.

  • "Saat ini ada sekitar 12.000 salon rambut perempuan yang beroperasi di Afghanistan,” Abdul Latif Salehi, Direktur Eksekutif Dewan Perniagaan Kabul, mengatakan kepada media DW.

  • Salon-salon ini harus menutup pintunya secara permanen pada 26 July 2023, menurut keputusan Taliban.
  • Salon sering kali menjadi satu-satunya sumber pendapatan rumah tangga dan salah satu dari sedikit jalan yang tersisa bagi perempuan untuk bersosialisasi jauh dari rumah.


<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

    Afghanistan menghadapi bencana kemanusiaan

     FORTUNA MEDIA - KUALA LUMPUR - Fatemah telah bekerja di salon sejak kematian kakaknya dalam serangan bvnuh diri di Kabul.

    "Saya menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk keluarga saya yang beranggotakan lima orang. Sekarang saya sangat khawatir tentang apa yang akan terjadi pada saya dan keluarga saya ketika itu ditutup," katanya kepada DW.

     Laleh, seorang penata rambut dari Herat, juga telah menghimbau pemerintahan Taliban untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka, dengan menunjukkan bahwa dia sejauh ini mematuhi semua aturan yang ditetapkan dan tidak melanggar Syariah atau hukum Islam.

     "Saya mendesak Taliban untuk tidak membatasi lebih jauh hak-hak perempuan dan tidak membuat hidup mereka seperti neraka," katanya putus asa.

   READ MORE:
Tentang Episode Kegagalan Espionage Jerman di Afghanistan

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

     Nasib perempuan Afghan berubah di bawah Taliban

   Setelah merebut kekuasaan pada Ogos 2021, Taliban mulai memaksa perempuan keluar dari ruang publik, melarang anak perempuan dan perempuan dari sekolah menengah dan university, melarang mereka dari taman, pasar malam, pusat kebugaran, hingga dan memerintahkan mereka untuk menutup diri di depan umum.

   Sebagian besar perempuan juga dilarang bekerja untuk PBB atau LSM (Lembaga Social Masyarakat) - NGO. Sementara ribuan perempuan lainnya telah dipecat dari pekerjaan pemerintah atau dibayar untuk tinggal di rumah.

   Sebuah laporan terbaru kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB oleh Richard Bennett, pelapor khusus untuk situasi hak asasi manusia di Afghanistan, mengatakan keadaan buruk perempuan dan anak perempuan di negara itu "termasuk yang terburuk di dunia."

   "Diskriminasi yang parah, sistematik, dan terlembagakan terhadap perempuan dan anak perempuan adalah inti dari ideologi dan aturan Taliban, yang juga menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka mungkin bertanggung jawab atas apartheid gender,” kata Bennett.

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

<img src=https://fazryan87.blogspot.com".jpg" alt="Derita Perempuan Afghan Memburuk,Taliban Tutup Bisnis Salon Kecantikan">

    Kemarahan dan keputus-asaan di kalangan perempuan

    Perintah penutupan bisnis salon dikeluarkan beberapa hari setelah pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, mengatakan perempuan Afghanistan diselamatkan dari "penindasan tradisional" dengan penerapan pemerintahan Islam dan bahwa status mereka sebagai "manusia yang bebas dan bermartabat" telah dipulihkan.

   Pernyataan itu dikecam oleh para pembela hak asasi manusia dan perempuan di media sosial.

   "Saya tidak mengerti misogini (misogyny/perselingkuhan) Taliban. Mengapa perempuan bahkan tidak memiliki hak untuk memotong rambut mereka? Demi Tuhan, kami lelah hidup dalam kondisi ini. Kami telah melakukan semua yang mereka perintahkan," kata Nasrin, yang telah menjalankan bisnis salon kecantikan di Kabul selama bertahun-tahun, kepada DW.

   "Mereka juga memungut cukai/tax dari pangkas rambut saya, tapi mereka tetap memblokir kami," tambahnya.

   Pada hari Selasa (04/07/2023), Misi Bantuan PBB di Afghanistan mengimbau pihak berwenang untuk mencabut perintah penutupan bisnis salon.

   "Pembatasan baru terhadap hak-hak perempuan ini akan berdampak negatif pada ekonomi dan bertentangan dengan dukungan yang dinyatakan untuk kewirausahaan perempuan," katanya dalam sebuah cuitan.

   Nasrin, pemilik salon, mengatakan 10 siswi dan mahasiswa yang telah dicabut haknya untuk mengenyam pendidikan, saat ini bekerja di salonnya. Namun, saat ini dia khawatir, mereka semua juga akan menjadi pengangguran.[HSZ]

Adaptasi dari artikel by www.dw.com/id/

Ilustrasi Image; Doc, www.dw.com/id/

 #TAGS : #Topstories, #News & #Politics, #Hitler, #Nazi, #Germany, #Afghanistan, #Taliban,

No comments