PUISI, Portrait Rohingya Dibalik Tangisan, Tertindas dan Terasing


<img src="https://asiaspotlight.blogspot.com.jpg" alt=" PUISI, Portrait Rohingya Dibalik Tangisan, Tertindas dan Terasing">

PUISI | Portrait Rohingya Dibalik Tangisan, Tertindas dan Terasing

Dari sebuah negeri nan indah
Elok mata memandang
Bagaikan mutiara yang terpendam

Hamparannya luas seumpama zamrud khatulistiwa
Tak kalah indah dengan bumi Malaysia
Dunia menggelar namanya Myanmar

Di Negeri itu ada suatu kaum yang terluka

Menangis... merintih... luka, nanar berdarah

Tertindas, terasing, terbuang, terkubur tanpa nama,
Terjajah pada sebuah kekuasaan 
Demokrasi kebrutalan

***

Aku bersenandung duka pada dunia melalui puisi.
Hanya itu yang boleh Aku lakukan sebagai penyair dan penulis bebas

bila berbicara tentang Rohingya [hsz]

READ MORE;

PUISI "Negeriku Sedang Dilahap Rayap"
PUISI "Pelangi Impian"

Etnik Rohingya Adalah Korban Genocide Etnik (Ethnic Cleansing)

Among the Atrocities Committed Upon Them:)

Edisi Edited, Rohingya yang ditindas sejak kemerdekaan Negeri Burma yang kini dikenal dengan Myanmar tak pernah diketahui dunia.

Rohingya adalah orang-orang yang terlupakan. Seorang Aung San Suu Kyi pun, ketika ditanya soal Etnik Rohingya, menjawab, "Saya tak tahu." katanya, "Kita harus jelas dulu tentang hukum kewarganegaraan mereka dan apa hak mereka." Seorang peraih  Nobel Prize dan pejuang demokrasi dari Myanmar itu tak berani menyikapi sesuatu yang sudah terang benderang situasinya.

Pemerintah Myanmar tidak mengakui kewarganegaraan kaum Rohingya kecuali generasi ketiga ketika Myanmar merdeka pada 1948. Kerana itu, tanah mereka disita, rumahnya dirosak dan mereka diusir dari rumahnya, tak diberi hak pendidkan, sekolah dan pekerjaan, diperkosa, juga dibunuh. Semua itu dilakukan, terutama sejak Presiden Ne Win melakukan kudeta militer pada 1962. Sejak itu, sudah ada 11 kali operasi militer, pada masa sebelumnya ada lapan operasi. Yang paling kejam dan brutal adalah Operasi Raja Naga (Operasi Nagamin) pada 1978-1979.

Dari sinilah kemudian terjadi debat soal nama Rohingya. Orang-orang Burma (suku terbesar di Myanmar) menyebutkan bahwa kata Rohingya baru dikenal pada 1950-an. Namun, orang-orang Rohingya berpendapat sebaliknya.

Menurut mereka (Etnik Rohingya) kalimat nama ini berasal dari bahasa Arab, Rahma. Nama ini berevolusi menjadi Roham, Rhohang, dan akhirnya Rohingya. Kalimat itu terbentuk sejak abad ke-8 ketika Islam pertama kali masuk wilayah itu melalui para pedagang Arab.

Ada juga yang menyebutkan kata itu berasal dari Mrohaung, nama Kerajaan Purba Arakan. Sebuah buku terbitan 1799 yang ditulis Francis Buchanan-Hamilton, dari Britain, menyebut kata Rooinga, yang merujuk pada Rohingya. Ada pula yang menyebutkan bahwa kata itu berasal dari kata Ruha, nama suku di Afghanistan.

Orang-orang Rohingya juga adalah keturunan Bengali, Bangladesh. Kehadiran mereka di Rakhine (orang Rohingya lebih suka menyebut nama aslinya, Arakan) secara besar-besaran terjadi dalam beberapa gelombang. Pertama pada 1430 ketika Raja setempat meminta bantuan Sultan Bengali.

Sejak itu Islam menjadi agama rasmi Arakan. Lalu, datang lagi pada abad ke-17. Pengungsian besar-besaran terakhir pada tahun 1927, disebabkan keperluan mendadak tenaga kerja sektor pertanian dan birokrasi oleh kolonial British.

Pada tempo dahulu, Arakan adalah Negeri Merdeka. Namun, pernah di bawah Kerajaan Chittagong (Islam), sebuah kerajaan di Bangladesh pada 1459-1666. Mereka ditaklukkan Burma pada 1785, setelah 355 tahun di bawah kerajaan Islam (sejak 1430). Etnik Burma tak berkuasa lagi di Arakan sejak kedatangan kolonial British pada 1824. Kerana Arakan berada di bawah British India. Namun, kedatangan pendudukan Jepun mengembalikan hegemoni etnik Burma di Arakan.

Muslim Rohingya menjadi sasaran pembantaian etnik Burma pada 1785, sebagian juga dipindahkan secara paksa ke wilayah lain di Burma. Pembantaian kedua terjadi ketika Burma berkolaborasi dengan Jepun. Namun, penindasan, kezaliman terancang terjadi sejak Ne Win berkuasa pada 1962. Media massa ataupun lembaga-lembaga rasmi dunia, saat ini, menilai apa yang menimpa Rohingya sebagai "communal violence" atau kekerasan, keganasan komunal.

Padahal, apa yang menimpa mereka bukan sekadar kerusuhan pada bukan Jun 2012 tersebut. Bukan pertembungan fisik antara Muslim dan Buddhist. Tapi kerana negara, dan terutama pihak militer dan pemerintah, menjadi aktor utama penyingkiran Rohingya. "Myanmar akan bertanggung jawab atas etnik bangsa ini, tetapi sama sekali tidak mungkin mengakui Rohingya yang bukan [kelompok] etnik di Myanmar," kata Presiden Myanmar, Thein Sein. Sejujurnya, Rohingya adalah korban pembasmian, genocide etnik (ethnic cleansing).

Lalu sang penyair bertanya pada dirinya dan Anda juga ..:

" I am
 ashamed ... in a herd of lions take care of each other..
Give whole-hearted sacrifice "


" I am ashamed ... the human herd in the state of Syria there..
In the midst of suffering is sincerely shared "


" I salute ... in a flock of people in the land of Egypt there
Amid mutual struggle hand in hand"
.
So .. Where We,.


Author. Helmy Zainuddin
Kuala Lumpur, Sat, 20 Feb,2021

S
OURCE ; Wikipedia Bebas/Pelbagai Sumber.

Artikel ini telah disiarkan oleh Website FortunaNetwork.Com
pada August 05, 2012.

No comments