Mengenal Proses Pernikahan Adat Minangkabau;Tentang Malam Bainai, Momen ‘Pelepasan’ Pengantin Minangkabau yang Menyentuh Hati



FORTUNA LIFESTYLE.COM |  Berdasarkan tradisi turun-temurun, pernikahan Urang Awak - Istilah panggilan untuk Orang Minangkabau. Melibatkan peranan dari keluarga besar kedua calon mempelai. Terutama pihak wanita. Setiap rangkaian prosesnya sarat akan petatah-petitih (nasihat) kehidupan. Tak heran, meski zaman terus berganti, hal tersebut masih terus dilaksanakan hingga kini.

Pada artikel Inspirasi & Wedding, kali ini akan sharing tentang satu proses Adat dan Budaya pra-pernikahan Masyarakat Melayu Minangkabau yang digelar Malam Bainai atau Malam Berinai .

Seperti kita ketahui setiap Bangsa, Etnik/Suku dari Daerah ataupun sebuah Negara  mepunya kebudayaannya masing-masing, termasuk dalam pelaksanaan upacara pernikahan. Rangkaian ritual Adat ini biasanya dimulai sejak beberapa hari sebelum hingga setelah pernikahan.

Nah, jika di Daerah Jawa biasa dilakukan prosesi siraman sebelum hari pernikahan, maka di Minangkabau, Sumatera Barat, ada ritual yang disebut ‘malam bainai’ tepat malam hari sebelum hari pernikahan.

Seperti apa ya pelaksanaan Adat Malam Bainai yang dilakukan oleh calon pengantin Minang? Yups, kita telusuri sama-sama!
<img src="Malam Bainai.jpg" alt="Mengenal Proses Pernikahan Adat Minangkabau;Tentang Malam Bainai, Momen ‘Pelepasan’ Pengantin Minangkabau yang Menyentuh Hati ">
                         Proses Malam Bainai Tradisi Minang via https://www.bridestory.co

  • Malam Bainai

Dan malam hari sebelum acara akad nikah, dilaksanakan 'Malam Bainai' di kediaman calon mempelai perempuan. Bainai berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke setiap kuku calon pengantin. Tradisi ini melambangkan kasih sayang dan doa restu para sesepuh keluarga besar mempelai wanita. Perlengkapan lain yang turut digunakan pada acara tersebut, antara lain: air yang berisi keharuman tujuh macam bunga, daun inai tumbuk, payung kuning, kain jajakan kuning, kain simpai, dan kursi untuk calon mempelai.
    READ MORE

Kisah Mengharukan,Di Balik Foto PreWedding Bukan Jaminan Naik Pelaminan,Ini Bisa Jadi Renungan
In Pictures Pre Wedding Pasangan BerUniform,Gagah & Anggun
Mempelajari Dan Motivasi Jati Diri Minangkabau di Nagari Tuo Pariangan,Sumatera Barat
<img src="Malam Bainai.jpg" alt="Mengenal Proses Pernikahan Adat Minangkabau;Tentang Malam Bainai, Momen ‘Pelepasan’ Pengantin Minangkabau yang Menyentuh Hati ">
 Perihal menikahkan anak gadis di Minangkabau bukan saja dianggap sebagai suatu yang sangat sakral-suci tetapi juga kesempatan bagi segenap keluarga dan kerabat untuk saling menunjukkan partisipasi dan kasih sayangnya kepada pihak yang punya hajat. Kerana itu jauh-jauh hari sebelum akad nikah dilangsungkan, semua keluarga dan tetangga terdekat akan berkumpul di rumah yang punya hajat dan ikut membantu menyelesaikan berbagai macam persiapan pernikahan. Pada kesempatan inilah acara malam bainai itu diselenggarakan, di mana seluruh keluarga dan kerabat menunjukkan kasih sayang dan memberikan doa restunya untuk melepas calon anak daro (sebutan untuk pengantin wanita) yang besok pagi akan dinikahkan.
<img src="Malam Bainai.jpg" alt="Mengenal Proses Pernikahan Adat Minangkabau;Tentang Malam Bainai, Momen ‘Pelepasan’ Pengantin Minangkabau yang Menyentuh Hati ">
                        Memakaikan inai ke kuku calon anak daro via www.weddingku.com

Malam bainai juga merupakan prosesi memakaikan inai atau daun pacar merah ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita

Secara harfiah, bainai artinya berinai atau memakaikan inai, yang berarti melekatkan tumbuhan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan daun inai ini akan meninggalkan bekas warna merah cemerlang di kuku setelah dipakai semalaman. Selain memberi tanda bahwa wanita tersebut sudah menikah, dengan memakai inai, pengantin wanita diyakini akan terlindung bahaya atau hal-hal buruk lainnya jika sudah melewati proses ini.

Uniknya, tidak sepuluh kuku jari tangan dipakaikan inai, tapi hanya sembilan jari. Kerana sepuluh berarti sempurna, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Inai yang dipakaikan ke masing-masing kuku jari yang dipakaikan inai pun punya doa dan makna yang berbeda-beda. Para kerabat yang memakaikan inai biasanya akan membisikkan kata-kata berisi nasihat tentang berumah tangga kepada calon anak daro.

Di malam bainai, calon anak daro juga pakai busana khusus,!

Pakaian wajib yang dipakai selama malam bainai adalah baju tokah yang terbuka di bagian lengan dan hiasan kepala khas Minang atau suntiang. Baju tokah merupakan sebuah selendang yang dipakaikan secara menyilang di dada calon anak daro namun bahu dan lengan dibiarkan terbuka. Sedang suntiang yang digunakan adalah yang tingkatannya lebih rendah daripada suntiang yang digunakan untuk upacara pernikahan. Untuk menyemarakkan suasana, orang-orang yang hadir biasanya juga mengenakan busana khusus. Baju Melayu Teluk Belanga untuk lelaki dan baju kurung ringan bagi wanita, begitu juga ayah bunda dari calon anak daro.

Sebelum melakukan prosesi malam bainai, biasanya calon anak daro akan menjalani ritual mandi pada siang atau pada petang harinya.

<img src="Malam Bainai.jpg" alt="Mengenal Proses Pernikahan Adat Minangkabau;Tentang Malam Bainai, Momen ‘Pelepasan’ Pengantin Minangkabau yang Menyentuh Hati ">
                                   Ritual mandi-mandi via www.bridestory.com
Hampir sama dengan prosesi siraman dalam tradisi Jawa, calon anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Sebelum dimandikan, perempuan-perempuan tua yang mengiringinya, termasuk ibu dan neneknya membacakan doa terlebih dulu. Bedanya dengan siraman, di ritual ‘mandi-mandi’ tradisi Minang hanya dipercikkan air kembang sebagai simbol saja. Air kembang ini dipercikkan menggunakan sebuah daun bernama 'daun sitawa sidingin' atau daun cocor bebek. Jumlah percikannya pun nggak boleh genap, melainkan harus ganjil dengan keyakinan bahwa angka-angka ganjil selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sakral, seperti salat lima waktu, tujuh lapisan langit, dan masih banyak lagi.

Usai ‘mandi-mandi’, calon anak daro dibimbing kedua ibubapanya berjalan menuju pelaminan dan dipakaikan inai di kuku-kuku jarinya

<img src="Malam Bainai.jpg" alt="Mengenal Proses Pernikahan Adat Minangkabau;Tentang Malam Bainai, Momen ‘Pelepasan’ Pengantin Minangkabau yang Menyentuh Hati ">
                                      Diiringi menuju pelaminan via www.bridestory.com
Calon anak daro kemudian akan dituntun oleh kedua ibubapanya berjalan di atas kain jajakan berwarna kuning terbentang menuju pelaminan, tempat acara malam bainai dilangsungkan. Hal ini melambangkan perjalanan calon anak daro dari kecil sampai dewasa. Setiap kain yang dilewati oleh calon anak daro akan digulung oleh dua orang saudara lelaki yang mengandung arti supaya pernikahan yang ditempuhnya cukup satu kali seumur hidupnya. Sesampainya di pelaminan, calon anak daro akan dipakaikan daun inai secara bergantian oleh ibu-ibu yang dituakan. Beberapa kesenian-kesenian tradisional Minang juga akan ditampilkan untuk meramaikan prosesi ini.

Ternyata, tradisi Malam Bainai tidak sesederhana menghiasi kuku calon pengantin wanita dengan daun inai, saja ya! Ada banyak pesan dan petua yang disisipkan dalam proses ini. Anda yang gadis Minangkabau, sudah siapkah menjalani proses malam bainai?
(Courtesy to www.hipwee.com)

No comments