MANUSKRIP TERAKHIR DI HOTEL MERDEKA [19]
MANUSKRIP TERAKHIR DI HOTEL MERDEKA [19]
Konspirasi Spionase Asia Tenggara
Oleh: Helmy El-Syamza
Bab 1: Bayangan Di Bawah Lampu Malam
Bahagian 19: Jejak Rahasia Menuju Jakarta
Ada perjalanan yang dilakukan untuk mencari jawaban. Ada pula perjalanan yang dilakukan kerana seseorang di masa lalu telah memastikan kita tidak punya pilihan selain mengikutinya.
🕯️ Kota Kedua Dalam Sebuah Rahasia
Jakarta seharusnya hanya menjadi tempat persinggahan. Namun bagi Raka Pradana, kota itu terasa seperti sebuah halaman lama yang sengaja disembunyikan dari sebuah buku yang belum selesai dibacanya. Setelah menemukan petunjuk tentang tiga kota dan angka misterius yang berkaitan dengan masa lalu, Raka Pradana dan Elena Sofea meninggalkan Kuala Lumpur untuk mengikuti jejak berikutnya. Mereka belum tahu bahawa di Jakarta, bukan hanya jawaban yang menunggu mereka, tetapi juga seseorang yang mungkin telah mengetahui kedatangan mereka jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di kota itu.
CAKRAWALA NEWS l Novel Bersiri Fiksyen Spionase,Thriller Psikologi, Detektif & Romantika.
Malam di Kuala Lumpur belum sepenuhnya berakhir ketika Raka Pradana berdiri di hadapan jendela sebuah bangunan lama di Jalan Tun Razak.
Di tangannya terdapat foto tua yang ditemukannya di Hotel Merdeka.
Tiga kota.
Kuala Lumpur. Jakarta. Singapura.
Namun kali ini, perhatian Raka tertuju pada satu kata yang ditulis dengan tinta hitam di belakang foto.
JAKARTA — 03.
Hanya itu.
Tidak ada nama jalan.
Tidak ada alamat.
Tidak ada nama orang.
Tetapi angka 03 membuat Raka Pradana terdiam cukup lama.
Ia pernah melihat angka itu sebelumnya.
Bukan pada foto.
Bukan pada dokumen.
Melainkan pada sebuah halaman manuskrip yang seharusnya tidak pernah ada.
Halaman yang menyebut tentang sebuah operasi rahasia pada penghujung 1980-an.
Sebuah operasi yang tidak tercatat dalam archives resmi mana pun.
🔐 Pesan Yang Terlambat Puluhan Tahun
Elena Sofea datang beberapa minit kemudian membawa sebuah amplop cokelat tipis.
Wajahnya tampak serius.
“Raka.”
Raka menoleh.
“Apa?”
Elena menyerahkan amplop itu.
“Ini ditemukan di antara dokumen lama yang dibawa dari hotel.”
Raka Pradana membuka amplop tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya hanya terdapat selembar tiket perjalanan lama dan secarik kertas.
Tiket itu sudah pudar.
Kuala Lumpur — Jakarta.
Tarikhnya membuat Raka Pradana membeku.
1989.
Tetapi bukan tiket miliknya.
Bukan pula milik Elena Sofea.
Di bawah tarikh perjalanan terdapat sebuah nama yang sengaja digores dengan tinta hitam.
Hampir seluruh hurufnya telah tertutup.
Hanya dua huruf terakhir yang masih dapat dibaca.
...AN
Elena memandangnya.
“Siapa?”
Raka menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Kemudian ia membalik kertas kecil itu.
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan.
Tulisan yang sama seperti yang mereka temukan sebelumnya.
“Jika mereka membawamu ke Jakarta, jangan cari orangnya.”
Raka Pradana membaca kalimat itu sekali lagi.
Di bawahnya terdapat satu kalimat tambahan.
“Cari tempat yang tidak pernah tercatat.”
Elena Sofea terdiam.
“Tempat yang tidak tercatat?”
Raka Pradana memasukkan kertas itu ke dalam sakunya.
“Berarti seseorang ingin kita percaya bahawa sesuatu pernah ada.”
“Dan kemudian dihapus.”
Raka menatap Elena.
“Bukan.”
Ia menggeleng perlahan.
“Lebih buruk.”
“Apa?”
“Berarti tempat itu masih ada.”
🌧️ Jakarta
Dua hari kemudian, pesawat yang membawa Raka Pradana dan Elena Sofea mendarat di Jakarta.
Kota itu menyambut mereka dengan hujan.
Bukan hujan deras.
Hanya gerimis panjang yang membuat lampu jalan tampak kabur dari balik kaca kendaraan.
Jakarta pada malam itu terasa berbeza.
Lebih padat.
Lebih bising.
Namun di antara suara kendaraan, klakson (horn), dan orang-orang yang berjalan tergesa-gesa, Raka merasakan sesuatu yang aneh.
Seolah-olah mereka sedang diperhatikan.
Bukan oleh satu orang.
Tetapi oleh seseorang yang mengetahui bahawa mereka telah tiba.
Mereka menginap di sebuah hotel lama di kawasan pusat kota.
Hotel itu tidak memiliki hubungan dengan Hotel Merdeka.
Setidaknya menurut catatan resmi.
Raka Pradana sengaja memilih tempat tersebut kerana satu alasan.
Namanya muncul pada sebuah catatan yang mereka temukan di Kuala Lumpur.
Hotel Cendana.
Bangunan itu berdiri sejak puluhan tahun lalu.
Koridornya panjang.
Lampunya redup.
Lantainya dipenuhi ubin tua yang memantulkan cahaya seperti permukaan air.
Ketika Raka Pradana berjalan menuju kamar, ia melihat sebuah lukisan tua tergantung di ujung koridor.
Lukisan seorang lelaki yang tidak dikenalnya.
Tetapi ada sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Mata lelaki dalam lukisan itu seperti mengikuti gerakannya.
Raka Pradana mendekat.
Elena Sofea memanggil dari belakang.
“Raka?”
Ia tidak menjawab.
Di bawah lukisan terdapat sebuah plat kuningan kecil.
KAMAR 03
Raka menatap tulisan itu.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Angka yang sama.
03.
Ia berbalik kepada Elena.
“Kita tidak mencari tempat ini.”
Elena memandang pintu di bawah lukisan.
“Tempat ini yang mencari kita.”
👁️ Kamar Yang Tidak Ada Dalam Daftar
Mereka meminta daftar kamar dari petugas hotel.
Kamar 03 tidak tercantum.
Bahkan nombor kamar di lantai itu dimulai dari 101.
Tidak ada kamar bernomor 03.
Raka kembali ke koridor.
Pintu itu masih ada.
Tua.
Catnya mengelupas.
Pegangannya berwarna hitam.
Tetapi ketika ia menyentuh gagangnya, pintu tersebut terasa hangat.
Seperti baru saja disentuh seseorang.
Raka menarik tangannya.
Elena berbisik,
“Jangan dibuka.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Kerana dari tadi aku mendengar suara dari dalam.”
Mereka berdua diam.
Koridor tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
Raka mendekatkan telinganya ke pintu.
Awalnya tidak terdengar apa-apa.
Kemudian...
Tok.
Satu ketukan.
Raka menjauh.
Tok.
Ketukan kedua.
Elena menahan nafas.
Kemudian terdengar ketukan ketiga.
Tok.
Tiga kali.
Raka menatap Elena.
“03.”
Elena mengangguk perlahan.
“Tiga ketukan.”
Tiba-tiba sesuatu terdengar dari balik pintu.
Bukan suara manusia.
Bukan suara langkah.
Hanya suara mesin taip (typewriter)
Tak... tak... tak...
Kemudian berhenti.
Raka merasakan tengkuknya merinding.
Mesin taip.
Sama seperti mesin taip tua di Hotel Merdeka.
Dan sebelum mereka sempat melakukan apa-apa, selembar kertas perlahan muncul dari celah bawah pintu.
Raka mengambilnya.
Hanya ada satu kalimat.
“SELAMAT DATANG KEMBALI, RAKA PRADANA.”
Elena Sofea memandangnya dengan wajah pucat.
“Kembali?”
Raka Pradana tidak menjawab.
Kerana untuk pertama kalinya, sebuah kemungkinan yang selama ini tidak pernah terlintas dalam fikirannya mulai muncul.
Bagaimana jika perjalanan ke Jakarta bukanlah pencarian?
Bagaimana jika seseorang telah merancang perjalanan ini jauh sebelum Raka mengetahuinya?
Dan bagaimana jika nama Raka Pradana telah tercatat dalam jaringan rahasia itu sejak tahun 1989?
🇮🇩 Satu Nama Dari Masa Lalu
Malam itu mereka tidak membuka pintu Kamar 03.
Sebaliknya, Raka Pradana membawa kertas tersebut ke sebuah meja kecil di lobi.
Ia menyalakan lampu meja.
Kemudian ia mengeluarkan foto tua dari Hotel Merdeka.
Tiga nama kota.
Kuala Lumpur.
Jakarta.
Singapura.
Ia membalik foto itu.
Tulisan JAKARTA — 03 masih terlihat jelas.
Namun ketika Elena Sofea menyinari bagian bawah foto dengan lampu dari sudut tertentu, muncul tulisan yang sebelumnya tidak mereka lihat.
Sangat samar.
Hampir seperti sengaja disembunyikan.
Raka membacanya perlahan.
“Orang ketiga tidak pernah meninggalkan Jakarta.”
Elena menatapnya.
“Orang ketiga?”
Raka mengangguk.
“Berarti selama ini kita salah.”
“Salah tentang apa?”
Raka memandang foto itu.
“Bukan tiga kota.”
Ia menunjuk tiga nama yang tercetak di sana.
“Ini mungkin tiga titik dalam satu operasi.”
“Dan orang ketiganya?”
Raka terdiam.
Di luar hotel, suara hujan semakin deras.
Lalu sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu masuk.
Tidak ada seorang pun keluar.
Mesinnya tetap menyala.
Lampunya mati.
Raka memperhatikan kendaraan itu dari balik kaca.
Beberapa saat kemudian, jendela belakang mobil turun perlahan.
Seseorang di dalamnya meletakkan sebuah benda di atas trotoar.
Sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Kemudian mobil itu pergi.
Raka berdiri.
Elena menahannya.
“Jangan.”
Tetapi Raka sudah berjalan menuju pintu.
Kerana ia mengenali kotak itu.
Kotak yang sama.
Kotak yang dalam foto lama terlihat berada di atas meja seorang lelaki misterius pada tahun 1989.
Dan di bagian atas kotak tersebut terdapat satu simbol kecil.
Tiga lingkaran yang saling bertindih.
Simbol yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Raka berhenti beberapa langkah dari trotoar.
Hujan turun di antara dirinya dan kotak hitam itu.
Kemudian dari dalam hotel terdengar suara mesin taip.
Tak... tak... tak...
Tiga ketukan.
Tiga kota.
Satu operasi.
Dan seseorang di Jakarta baru saja memastikan bahawa permainan itu benar-benar dimulai.
🌑 Kotak Yang Menunggu Di Bawah Hujan
Raka melangkah keluar dari lobi.
Hujan membasahi bahunya ketika ia mendekati kotak hitam yang ditinggalkan di trotoar (sidewalk).
Elena Sofea tetap berdiri di belakang pintu kaca.
“Raka, tunggu!”
Raka berhenti.
Ia memandang kotak itu dari jarak beberapa langkah.
Tidak ada kunci.
Tidak ada tulisan.
Hanya simbol tiga lingkaran yang saling bertindih.
Namun ada sesuatu yang membuatnya lebih gelisah.
Kotak itu sama sekali tidak terkena air hujan.
Seolah-olah seseorang baru saja meletakkannya di sana beberapa detik sebelumnya.
Raka berjongkok.
Ia tidak langsung menyentuhnya.
Di bawah kotak terdapat secarik kertas kecil yang menempel pada trotoar.
Ia mengambilnya.
Tulisan tangan di atasnya membuat darahnya terasa dingin.
“Jangan buka di Jakarta.”
Raka membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian ia membalik kertas tersebut.
Ada tulisan lain.
“Buka hanya ketika kau sudah sampai Singapura.”
Raka menatap jalan yang mulai kosong.
Jakarta.
Kemudian Singapura.
Dua kota berikutnya.
Namun sebelum ia berdiri, terdengar suara langkah dari gang sempit di seberang jalan.
Satu langkah.
Berhenti.
Dua langkah.
Berhenti.
Raka Pradana menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya bayangan tiang lampu yang memanjang di atas jalan basah.
Lalu sebuah suara terdengar samar dari kegelapan.
“Raka...”
Ia membeku.
Suara itu sangat perlahan.
Tetapi jelas.
Seseorang memanggil namanya.
Raka berdiri dan menatap gang tersebut.
Elena keluar dari hotel.
“Siapa?”
Raka tidak menjawab.
Ia hanya menunjuk ke arah gang.
Mereka menunggu.
Tidak ada siapa-siapa.
Kemudian terdengar suara mesin mobil dari kejauhan.
Sebuah kereta sedan tua melintas perlahan.
Ketika melewati mereka, lampu depannya menyinari kotak hitam yang masih berada di tangan Raka.
Pada saat itulah ia melihat sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.
Di bawah simbol tiga lingkaran terdapat empat angka kecil.
3 — 1 — 7 — 9
Raka berbisik,
“317...”
Elena langsung menatapnya.
“Pintu 317 di Hotel Merdeka?”
Raka mengangguk.
Tetapi angka terakhir membuatnya semakin bingung.
— 9.
Tiga angka pertama sudah mereka kenal.
Namun siapa yang menambahkan angka 9?
Dan mengapa?
Tiba-tiba mesin taip kembali terdengar dari dalam hotel.
Tak... tak... tak...
Raka menoleh.
Lampu lobi berkedip sekali.
Dua kali.
Kemudian seluruh lampu di lantai dasar padam.
Dalam kegelapan, hanya lampu dari meja resepsionis yang masih menyala.
Dan di atas meja itu...
terdapat sebuah mesin taip tua.
Tidak seorang pun mengaku meletakkannya di sana.
Kertas putih masih terpasang di dalamnya.
Perlahan, sebuah huruf muncul.
Kemudian huruf berikutnya.
Raka dan Elena berdiri terpaku.
Mesin itu mengetik sendiri.
JAKARTA SELESAI.
Baris berikutnya muncul.
SINGAPURA MENUNGGU.
Kemudian satu kalimat terakhir.
“TAPI ORANG KETIGA SUDAH MENGETAHUI KAU DATANG.”
Mesin taip berhenti.
Hening.
Raka Pradana menggenggam kotak hitam itu semakin erat.
Kini ia memahami satu hal.
Mereka bukan lagi sedang mengikuti jejak seseorang.
Mereka sedang berjalan tepat di dalam perangkap yang telah disiapkan untuk mereka sejak tahun 1989.
Dan perjalanan berikutnya menuju Singapura mungkin bukan membawa mereka lebih dekat kepada jawaban.
Mungkin justru membawa mereka kepada orang yang selama ini mengawasi mereka dari balik bayang-bayang.
🔥Bersambung ke Bahagian 20: Kotak Hitam Dari Jakarta 🔐
Sebuah Novel Karya Helmy El-Syamza
Ditulis oleh:
Helmy El-Syamza
Manuskrip Terakhir di Hotel Merdeka
Illustration Image, Doc: CAKRAWALA NEWS
TAGS: Manuskrip Terakhir di Hotel Merdeka, Helmy El-Syamza, Novel Spionase Asia Tenggara, Misteri Hotel Tua, Novel Fiksi, Cerita Bersambung, Misteri dan Cinta, Detektif Persendirian, Dokumen Rahasia, Jaringan Spionase, Kuala Lumpur, Jakarta, Singapura, Era 1980-an,
![MANUSKRIP TERAKHIR DI HOTEL MERDEKA [19] <img src="https://fazryan87.blogspot.com/gambar-hotel-merdeka.jpg" alt="MANUSKRIP TERAKHIR DI HOTEL MERDEKA [19]"/>](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjszJ1c7UTBJghf4dhI-nQEF10bF1RjnTUVgLQfvZZcm_Dga9SHt5VnB-jn2WMOMaXrlAUOFvjAIUBBHmbP3S9n8CxMuXEVHKxChOac3-tk4fbes_H_AJyhTjR5SjGkr20L0rAU87iM6-tcjdyibo2bUJhFswKviBsESNwc_VSLC-wYvyjzGcWIU_CLiMmp/w400-h272/cadc5875-3864-4a87-a568-8048493fa021Hm-19.jpg)
No comments
Post a Comment