Krisis Kepemimpinan: Saat Generasi Tua Gagal Membaca Zaman
Krisis Kepemimpinan: Saat Generasi Tua Gagal Membaca Zaman
Dunia Sudah Berubah,
Namun Cara Memimpin Masih Terjebak di Masa Lalu
- Dunia hari ini bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Perubahan teknologi, krisis geopolitik, hingga tekanan ekonomi global datang silih berganti tanpa jeda. Namun di tengah dinamika yang begitu kompleks ini, satu pertanyaan mendasar muncul: Apakah para pemimpin dunia benar-benar memahami zaman yang sedang mereka pimpin? Atau justru mereka masih melihat dunia dengan kacamata lama, yang tidak lagi relevan dengan realiti hari ini?
Pernahkah kita memperhatikan usia para pemimpin dunia hari ini?
CAKRAWALA NEWS l Tahun 2026, Donald Trump menginjak 80 tahun, Vladimir Putin 74 tahun, Xi Jinping 73 tahun, dan Benjamin Netanyahu 77 tahun. Mereka berasal dari generasi yang tumbuh dalam lanskap dunia yang sangat berbeza dengan realiti hari ini.
Mereka adalah generasi boomer yang punya sudut pandang berbeza, kerana lahir di zaman yang berbeza dengan zaman kita. Tapi pemimpin boomer masih banyak dimana-mana. Apakah itu masalah?
Kemampuan Adaptasi dan Kaderisasi
Tidak selalu. Usia bukan penghalang untuk memimpin, selama ada kemauan untuk belajar dan kemampuan membaca perubahan zaman. Kepemimpinan pada dasarnya adalah soal adaptasi.
Namun, persoalan muncul ketika regenerasi terhambat. Ketika posisi puncak terus diisi oleh generasi lama yang tidak lagi sepenuhnya memahami dinamika generasi baru. Sehingga orang-orang yang menjadi top leader tidak benar-benar memahami masalah zamannya; Tidak bisa membaca keperluan generasi millenial dan gen Z yang sedang struggling menghadapi dunia yang "diwariskan" oleh generasi tua.
Rasulullah ο·Ί dan ruang antar generasi
Beberapa studi modern juga menunjukkan bahwa pemimpin yang terlalu lama berada di puncak cenderung mengandalkan pola lama, jaringan lama, dan kurang terbuka terhadap kolaborasi lintas generasi.
Di titik ini, sejarah Islam menawarkan contoh yang menarik.
Rasulullah ο·Ί memulai dakwah sebagai pemimpin muda yang merangkul semua kalangan. Namun ketika usia beliau bertambah, beliau tidak menutup ruang bagi generasi penerus. Justru sebaliknya, kaderisasi berjalan sangat efektif.
Para Kibar dan Shigar...
Dalam lingkaran (circle) kepemimpinan dan perjuangan baginda Nabi Muhammad ο·Ί ada sahabat kibar (senior) dan ada sahabat shighar (junior).Semuanya diberi ruang dalam berkolaborasi.
Sayyidina Abu Bakr As-Siddiq dan Sayyidina Umar Al-Khattab Radhiyallahu 'Anhum berperanan sebagai penopang, menjadi perumus utama, sementara sosok muda seperti Usamah bin Zaid yang jitu di lapangan, Ibnu Abbas yang sering diajak diskusi sahabat tua, dan hingga Muadz bin Jabal Radhiyallahu 'Anhum yang keilmuannya tentang halal dan haram paling tajam pemahamannya, diberi ruang untuk berkembang dan berkontribusi.
Inilah harmoni ideal: yang tua memberikan kebijaksanaan, yang muda menghadirkan energi dan perspektif baru.
Hikmatus Syuyukh, Hamasah Syabab
Sebuah ungkapan hikmah menyebutkan:
“Hikmatus syuyukh fi hamasatis syabab” — kebijaksanaan orang tua berpadu dengan semangat anak muda.
Orangtua punya pengalaman, tapi anak muda menawarkan masa depan. Orang tua memberikan inspirasi, tapi anak muda-lah yang berani berimajinasi. Dan semestinya, para pemimpin tidak takut untuk belajar dan mendengar dari mereka yang masih muda. Seperti Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu.
Punya staf khusus anak-anak muda, dan bukan gimmick semataPrinsip ini juga tercermin dalam kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu. Meski menjabat sebagai khalifah di usia matang ±50 sampai 60 tahun. Lebih muda dari D.Trump dan Vladimir Putin ketika menjadi pemimpin.
Tetapi lihatlah, Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu meneladani Rasulullah ο·Ί dalam tawadhu' dan membuka ruang bagi generasi muda. Banyak staf beliau benar-benar muda: Ibnu Abbas yang masih 17an tahun, Anas bin Malik yang baru 22 tahunan, dan Zaid bin Tsabit yang kira-kira berusia 24 tahun. Muda, tapi berkapasiti, bukan kerana anak seseorang yang berkuasa.
Sepintar Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu saja, tidak malu menggali idea dari anak-anak muda.
Kita ingat sebuah mozaik sejarah, bahwa suatu kali Ibnu Syihab berkata pada murid-muridnya yang masih muda,
"Janganlah kalian meremehkan diri kalian kerana usia kalian yang masih muda. Sesungguhnya Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, apabila menghadapi persoalan yang sulit, beliau memanggil para pemuda lalu bermusyawarah dengan mereka, kerana beliau menginginkan ketajaman akal mereka.” (Hilyatul Auliya 3/366)
Sungguh muak sekali sebenarnya melihat tingkah pemimpin dunia yang usianya tua, tetapi seperti kanak-kanak.
Kita tidak mahu menyalahkan usianya. Tetapi mempersoalkan kemampuannya dalam menghadapi masalah, serta saat menguraikan sebuah konflik. Ada satu hal mendasar yang masih jadi “tugas yang belum selesai” bagi para pemimpin, yaitu tawadhu (rendah hati).
Dan semoga, konflik besar di masa depan tidak lahir hanya karena ego, hal yang konyol (perkara-perkara bodoh).
π Penutup.
Pada akhirnya, krisis kepemimpinan bukan soal tua atau muda, melainkan soal kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi. Sejarah telah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh satu generasi saja, melainkan oleh sinergi antara pengalaman dan keberanian untuk berubah.
Ketika pemimpin menutup diri dari suara generasi muda, maka yang hilang bukan sekadar perspektif, tetapi juga masa depan. Sebaliknya, ketika ruang kolaborasi dibuka, lahirlah keputusan-keputusan yang lebih segar, lebih relevan, dan lebih manusiawi.
Kita tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar berpengalaman, tetapi pemimpin yang cukup rendah hati untuk mendengar, cukup bijak untuk menimbang, dan cukup berani untuk memberi ruang bagi generasi berikutnya.
Jika tidak, sejarah mungkin akan mengulang dirinya sendiri—bukan sebagai pelajaran, tetapi sebagai kesalahan yang terus diwariskan. [HSZ]
πCatatan Editor:
Artikel ini diadaptasi dan dipublikasikan dengan izin dari gensaberilmu.com.
“Learn History, Repeat Victory”
EDITOR
Helmy El-Syamza
ILLUSTRATION CREDIT
CAKRAWALA NEWS
FOLLOW & CONNECT:
Facebook: facebook.com/helmyzainuddin
Telegram: https://t.me/cakranews
TikTok: www.tiktok.com/@romymantovani
Twitter/X: twitter.com/romymantovani
TAGS: Boomer vs. Gen Z, Global Leadership 2026, Current World Geopolitics, Global Conflict and Leadership, Islamic History of Leadership, Umar ibn Khattab's Leadership, The Prophet's Leadership, Cross-Generation Collaboration, Challenges for the Millennial Generation, The Future of World Leadership, Global Political Opinion,










No comments
Post a Comment