Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Puteri[1]"Didatangi Bayangan Hitam Rambutnya Semua Memutih,Yang Terbang Menggunakan Sajadah"

 PROLOG ;
Kepada pembaca dan pengunjung setia blog sederhana ini, hari-hari berikut saya akan posting kisah nyata dari perjalanan hidup seorang Kyai bernama Kyai Lentik yang dikisahkan sendiri oleh muridnya - yang juga adalah guru thariqat saya.
(Nama aslinya maaf saya rahasiakan atas kehendak beliau) InsyaAllah,
<img src=" Kyai Lentik.jpg" alt="Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Puteri[1]Didatangi Bayangan Hitam Rambutnya Semua Memutih,Yang Terbang Menggunakan Sajadah">


Pagi belumlah terang, lereng Gunung Puteri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan yang terbuat dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.

Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka yang mana Kyai, yangmana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya sekitar 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.

Disebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang (tali), sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Kerana tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.


Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti Pak Udin, yang seorang Tentara yang punya kedudukan di Unit Angkatan Udara Indonesia. Pak Yusup yang seorang Jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang Menteri, seorang Duta Besar, juga ada Artis, Tukang Cukur Rambut, Peniaga es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.


Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tahu pasti. Yang ku tahu lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai ke Kyai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi.


Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, Mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjingan di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas (beg-bakul) krawangan berisi lauk pauk.

Seperti biasa pula, Nenek Tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tahu bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, Nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya,

"Meser Kyai?"

"Ndak bogah duwit mbok".

Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main
Mbok Titing,dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata sedang bepergian, itu baginya berarti perjuangan seharian untuk menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di Pondok Pesantren Pacung, di Lereng Gunung Puteri.

Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, para Santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong (ubikayu) rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, Rendang Padang, Soto Madura, Soto Babat bahkan nasi pun tak ada.Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat.


Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari menjalani ngedan, kami semua mengalami,
ngedan yaitu lelaku yang harus dilalui oleh para pengamal thariqat, pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah Ta'ala, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah SWT, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah Ta'ala, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah Ta'ala, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, di sawah dan juga kuburan.

Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, para Santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek (bungkusan plastik) nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran-suratkabar lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam-dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang lain juga sepertiku.
<img src=" Kyai Lentik.jpg" alt="Cerpen@Hikayat Kyai Lentik Penguasa Gunung Puteri[1]Didatangi Bayangan Hitam Rambutnya Semua Memutih,Yang Terbang Menggunakan Sajadah">

Saat Aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, Aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, kerana saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada dalam cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.

Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat Kisah Aladin, Tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,
“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”

Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.
“Ahh, mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, kerana menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, Aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang Aku yakini tengah berada di Mushalla menunggu Sholat berjama’ah.

Aku khawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya Ilmu Kanuragan, juga tak pernah mengajarkan Kanuragan, tapi memang kalau difikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, kerana memang di Pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, roujak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.

Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau Pondok Pesantren ini adalah Pesantren Kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang sengaja dilebih-lebihkan, Aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan Nenek Sakti ini?

Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai Ilmu Pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena Santet, kena guna-guna kena jin, kena Narkoba, InsyaAllah, semua bisa disembuhkan, orang ingin jadi Lurah/ ketua Kampung, Camat, Bupati, Gubernur, sampai mau jadi Presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, Tapi kalau Ilmu Kanuragan, Aji Kesaktian, Aku tak tahu, Aku jadi ingat ada seorang Tentara mahu dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait, TimurTengah, namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mahu meminta Syare'at Ilmu Kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.

Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak dan ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir..:)

Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas Aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai, plus nama ibubapa gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke Pesantren ini kerana bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.

To be Continued.....
===================================
Peringatan; Dilarang Keras meng-copy,mem-posting, menyalin secara keseluruhan artikel ini.tanpa izin Admin Blog ini. Jika terjadi pelanggaran tersebut Anda akan ditindak mengikut Undang-Undang yang berlaku di negara Anda.

@Copyright by FortunaNetworks.Com.
WARNING; It is forbidden to copy, post, copy this article entirely without Admin Blog permission. In case of any such violation you will be prosecuted following the applicable laws of your country.
@ Copyright by FortunaNetworks.Com

No comments